» » » Dinamika Kepemudaan

Ilustrasi: kompasiana.com/azwarradhif

Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928, merupakan pengakuan awal terhadap peranan pemuda dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kesadaran para pemuda saat itu akan persatuan dan kesatuan untuk mencapai kemerdekaan melalui perjuangan fisik melawan penjajah telah menorehkan catatan emas. Maka berbahagialah pemuda masa kini yang merayakan sumpah pemuda tanpa harus mengeluarkan keringat perjuangan.

Secara historis, perjuangan bangsa Indonesia dalam peringatan Sumpah Pemuda merupakan bukti sejarah bahwa pemuda menjadi kreator pemersatu bangsa. Seluruh unsur pemuda berkumpul dalam satu tujuan. Pahitnya kondisi masyarakat Indonesia di masa lalu membuat pemuda lahir sebagai pahlawan untuk melawan para penjajah.

Situasi genting saat itu mendidik pemuda agar "berwatak pejuang" untuk bebas dari belenggu penjajah. Makna dari petikan sejarah pemuda di atas, penting untuk dihayati oleh generasi pemuda milenial agar mencontoh watak atau karakter berjuang pemuda masa lalu bukan malah menjadi pemuda yang mudah baper.

Dalam perkembangannya pemuda yang dahulu "berwatak pejuang" kini berevolusi menjadi pemuda yang "berwatak penikmat". Tulisan Joel Stein di situs time.com dengan judul Millenials: The Me Me Me Generation, (Milenial: generasi aku aku aku) diuraikan bahwa generasi milenial tumbuh ke arah yang lebih buruk.

Mereka narsis, penggila gadget, egois dan manja. Fakta negatif tentang pemuda generasi milenial dikatakan mengalami perkembangan yang lambat, gangguan narsistik hampir 3 kali lipat ditemukan pada usia 20-an dibandingkan yang kini berusia 65 tahun ke atas. Selain itu mahasiswa mendapat nilai tingkat narsis lebih tinggi pada tahun 2009 dibanding tahun 1982. Terlepas dari benar atau tidaknya fakta-fakta negatif dari artikel tersebut. Jika dilihat dari perspektif dinamika sosial kepemudaan, maka itu tampak nyata disekitar kita.

Masalah sosial kepemudaan adalah hal yang penting ditelaah secara mendalam. Beberapa masalah tersebut dapat dilihat dari beragam aspek yakni; pertama, aspek sosio-politik. Eksistensi pemuda pada hakikatnya adalah menerpa diri untuk menjadi generasi penerus atau pelanjut generasi pemuda perintis terdahulu dan menjadi agen pembaharuan berupa karya dan inovasi diberbagai bidang keilmuan tanpa mendikotomi asalnya yakni mereka yang berada di pedesaan maupun di perkotaan.

Esensinya mereka adalah generasi yang berperan menentukan arah dan perkembangan politik dan haluan negara. Dalam kontestasi pemilihan kepala daerah, legislatif dan di partai politik kita jumpai peran pemuda sebagai partisipan politik kehadirannya mestinya mereposisi makna politik ke arah yang lebih positif dikala kata politik dimaknai negatif akibat penyimpangan oleh segelintir pelaku politik. Singkatnya tangan-tangan pemuda malah dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan praktik money politic dalam meraih suara rakyat. Gerakan aksi pemudapun disinyalir telah menyalahi prinsip idealisme, bahkan cenderung dikonstruk hanya mengawal kepentingan golongan atau kelompok tertentu.

Kedua, aspek sosio-demografis. Hal ini menyangkut aspek kuantitas pemuda Indonesia. Data demografi Indonesia disebutkan bahwa jumlah pemuda Indonesia sesuai dengan UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan dengan range usia antara 16-30 tahun, berjumlah 61,8 juta orang atau 24, 5% dari total jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah sekira 252 juta orang (BPS, 2014). Jumlah ini cukup besar sehingga di masa akan datang Indonesia akan mencapai bonus demografi, dimana usia produktif Indonesia memiliki jumlah yang cukup banyak. Namun, pertanyaan besarnya adalah bagaimana memanfaatkan usia produktif pemuda Indonesia? Formulasinya harus dirumuskan, jangan sampai usia produktif terbuang sia-sia karena tidak adanya tempat aktualisasi diri.

Ketiga, aspek sosio-psikologis. Seiring bertambahnya usia pemuda, maka akan berdampak pada perkembangan psikologisnya. Usia antara 15-25 tahun akan banyak mengalami benturan saat melakukan mencarian jati diri. Pemuda adalah kelompok yang paling dinamis, mudah berubah-ubah dan paling mudah menerima hal-hal baru baik itu bersifat positif maupun negatif. Kecemburuan sosial antar pemuda bisa berdampak pada tidakan asosial mulai dari sikap apatis terhadap keadaan sampai pada tindakan kriminal seperti perkelahian, pencurian, geng motor, dan lain sebagainya. Bahkan pelaku kejahatan berasal dari usia muda.

Alasan sederhananya mereka terlibat adalah soal eksistensi di tengah teman pemudanya serta ingin mengikuti tren pemuda kekinian memiliki kendaraan, gadget bahkan untuk ongkos pesta miras dan konsumsi narkotika. Ini tentu membuat kita miris bahkan sinis melihat masa depan pemuda sebagai generasi pelanjut. Pengarahan ke arah yang positif mutlak diperlukan ke seluruh lapisan masyarakat yang paling penting adalah pemerintah harus mengamankan perjalanan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang ada di tangan pemuda hari ini. Jayalah Pemuda Indonesia



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply