» » » Jadi Pemuda Indonesia Sekaligus Pahlawan


Film lawas berjudul GIE membantu memecahkah perenungan (sok) nasionalis saya malam ini. Mungkin cerita ini bisa dimulai dengan quote indah dari tokoh Soe Hok Gie tersebut:

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Dan sembari saya mengetik ini, saya jadi ragu untuk melanjutkannya. Apa memang saya layak membicarakan hal ini lebih jauh?

Biarlah. Mari menjadi sedikit bebal dan fasik, menasihati bahkan ketika saya sendiri tidak mampu melakukannya. Bukankah itu teladan dari para petinggi negara kita?

Kembali ke bahasan utama. Membicarakan pemuda, sudah bukan zamannya lagi mengkonotasikannya sebagai penggolongan usia. Pemuda nyatanya bukan batasan angka kaku di kertas, itu pendapat saya. Pemuda itu tentang jiwa, acap kali terdengar demikian. Pertanyaannya, jiwa seperti apa? Jiwa pengecut yang bahkan terkalahkan dengan budaya titip absen di kampus? Atau jiwa plagiat yang hobi comot pasang (co-pas) tulisan orang? Atau jiwa yang bermain aman, asal tidak dibenci, cukuplah. Atau justru seorang pencaci sejati, bukan untuk perbaikan hanya agar dikenal sebagai seorang muda yang kritis? Atau jiwa yang ditemukan membisu, menjadi secuil di antara yang terlupakan, tapi berjuang untuk yang mereka inginkan?

Seperti tulisan mainstream lainnya, yang terakhir adalah yang paling benar. Itulah pemuda. Mereka yang mau berjuang tanpa terlalu meributkan apa definisi perjuangan itu sendiri dan tahu dengan pasti mengapa mereka berjuang.

Pemuda bukan anak-anak yang tahu berjuang, tapi tidak tahu alasannya. Terkurung pada 'amanah agung' orang tua.

Pemuda bukan pula lansia, yang tahu hal yang patut diperjuangkan tapi tidak punya lagi asa dan daya untuk melakukannya.

Pemuda adalah pemuda, penuh energi, bergerak sesuai visi. Seharusnya demikian.

Itu saja semangat pemuda 88 tahun lalu, yang pada tanggal 28 Oktober berpuncak pada satu ikrar mulia di tanah subur ini. Mereka tahu bahwa negeri ini terlalu beragam dan rawan perpecahan.

Mereka bukan hanya tahu tapi juga mau. Itu sejatinya pemuda. Mereka tidak berpangku tangan, pun tidak hanya memberikan kritik-kritik tanpa penyelesaian. Mereka berupaya segenap tenaga, dan di saat yang sama mereka mendapatkan gelar pahlawan.

Pemuda adalah jiwa dengan semangat memperjuangkan apa yang mereka diyakini. Untuk dirinya sendiri. Terangkum dalam satu kata: BERJUANG.

Sedangkan pahlawan, mendasarkan perjuangannya untuk orang lain, untuk banyak orang lain, hingga tak jarang lupa memikirkan dirinya sendiri. Bisa diringkas pula dalam satu kata: BERKORBAN.

Pahlawan bukan hanya yang mau MATI untuk negeri ini, tapi juga yang mau HIDUP dan mengabdi untuk bangsa ini. Bahkan ketika orang-orang lupa berterimakasih atas keringatnya.

Banyak orang yang layak dikatakan sebagai pemuda. Tapi siapa dapat menemukan pahlawan hari-hari ini?

Setidaknya marilah benar-benar menjadi pemuda. Perjuangan mimpimu, passion-mu, idealismemu, dan terlebih imanmu! Di sela-sela itu semua, mari sedikit berharap keajaiban, ada semangat pahlawan yang mampir dan hidup dalam jiwa kita.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply