» » » Menyusun Narasi Positif tentang Anak-anak Muda


"Beri aku sepuluh pemuda, akan aku guncang dunia!" ungkapan 'abadi' dari Soekarno. Terlalu sering mendengar atau membaca kalimat itu, membuat kita tidak terguncang lagi. Hari ini konotasi tentang anak-anak muda menyuguhkan gambaran menyedihkan: hura-hura, tawuran, pesta miras, maniak belanja. Sederet 'prestasi' mengenaskan bisa kita susun menjadi sangat panjang dan berlapis-lapis. Ringkasnya, pemuda masa kini menampilkan wajah yang paling menyedihkan.

Tidak adakah sisi terang pada anak-anak muda itu? Menjawab pertanyaan ini tiba-tiba saya ditimbun rasa berdosa yang sangat. Beberapa tulisan terakhir tentang anak-anak muda, terutama perilaku generasi milenial, yang saya tulis adalah keprihatinan demi keprihatinan. Mulai dari gagap menyampaikan gagasan secara lisan hingga potensi krisis kebudayaan yang menunggu di masa depan.

Saya mendadak sadar. Anak-anak muda itu tidak sepenuhnya salah dan patut disalahkan. Sisi gelap anak-anak muda—walau dalam skala dan tingkat tertentu benar-benar saya hadapi, namun hal itu tidak menimpa mereka secara tiba-tiba. Ketika dipotret dengan lensa mikro rangkaian sebab akibat yang menyertai sisi gelap tersebut akan nampak detail rangkaian per rangkaian.


Sekolah Paman Doblang

Namun, siapa peduli dengan rangkaian sebab akibat itu? Anak-anak muda seperti Paman Doblang, dimasukkan ke dalam sel yang gelap. Tanpa lampu tanpa lubang cahaya. Pengap. Dalam situasi ini anak-anak muda adalah korban dari sistem dan model pendidikan yang selama ini diyakini akan memberikan jalan terang. Praktek pendidikan yang terpisah dari kehidupan—meminjam ungkapan syair WS Rendra—memenjara mereka dalam ruang gelap yang pengap.

Anak-anak muda mencari lubang cahaya melalui media daring. Dalam studi berjudul "Digital Citizenship Safety among Children and Adolescents in Indonesia"terungkap,98 persen dari anak-anak dan remaja Indonesia yang disurvei tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Penggunaan media sosial dan digital menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia.

Hasil jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan mayoritas responden yang berada di kategori usia muda paling banyak menyaksikan tutorial daring. Sebanyak 67,8 persen responden di rentang usia 17-30 tahun pernah melakukannya. Angka ini menurun seiring dengan meningkatnya kategori usia. Di rentang usia 31-50 tahun sebanyak 38,5 persen responden yang pernah menyaksikan tutorial daring. Sementara di kategori usia lebih dari 51 tahun, hanya 16,3 persen.

Anak-anak muda yang kerap dijuluki digital native itu 86,7 persen menyatakan lebih banyak mengakses tutorial lewat daring dibandingkan buku. Adapun golongan digital immigrant, mereka yang lahir hingga remaja belum tersentuh teknologi, 62,5 persen menunjukkan perilaku sebaliknya. 

Bagaimana seharusnya sekolah menyikapi kenyataan tersebut? Sudah tidak zamannya sekolah mengandalkan guru sebagai pusat informasi. Iklim belajar yang kaku dan sarat formalisme itu sudah harus mulai ditinggalkan. Penugasan yang cenderung bersifat tekstual tidak selalu bisa diandalkan untuk melatih cara berpikir. Materi semacam itu hanya menjadi santapan empuk. Internet menyediakannya melebihi kesanggupan guru dan sekolah. Tembok-tembok yang menghalangi anak-anak muda menatap cakrawala perlu dirobohkan. Sekolah perlu membuka diri, mendatangi kehidupan, menyapa realita di sekitarnya.

Mengutip Kompas.com, imbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir, agar maestro seni masuk sekolah terkesan bagus. Namun, hal itu menegaskan sikap sekolah seperti enggan untuk beranjak keluar. "Turun langsung ke acara seperti ini dalam rangka pendidikan karakter juga, supaya para seniman mau juga datang ke sekolah-sekolah untuk mengeluarkan pengalaman, dan kebolehannya masing-masing agar nanti peserta didik terinspirasi dan juga terdorong ikut serta meningkatkan kebudayaan," ujarnya menjelang pagelaran wayang kulit di Padepokan Seni Kirun di Madiun, beberapa waktu lalu.

Sekolah menjadi lingkungan yang benar-benar steril. Hal itu mungkin menguntungkan sekolah dan pihak yang getol melakukan sterilisasi sebagai bagian dari sistem politik pendidikan yang membelenggu. Upaya secara sistemik menjauhkan anak-anak muda dari kemampuan kritis dalam mencerna persoalan. Anak-anak muda sengaja dipisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Apa akibatnya? Mereka merasa asing dan terasing dari kenyataan problem sosial masyarakat. Padahal mereka adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika problem sosial-politik-agama-kebudayaan. Realitas yang bergerak cepat, bagai air bah, bagai banjir bandang itu, menggulung anak-anak muda dalam ketidakberdayaan. Mereka, lagi-lagi, terkurung dalam sel yang gelap. Alih-alih memberi solusi—mereka justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri.


Dikutuk dan Disalahkan

Maka, tidak adil dan terasa menyakitkan apabila setelah itu anak-anak muda dikutuk dan disalahkan. Tanpa pengadilan. Ironisnya, para pengutuk itu tidak lain adalah pihak yang semestinya mengantarkan mereka pada cakrawala terang benderang. Ungkapan keprihatinan kerap keluar saat menyikapi situasi aktual terkait kehidupan generasi muda.

Kendati demikian, di tengah kutukan itu kita justru sedang menyaksikan arus balik. Pergerakan anak-anak muda diawali oleh sikap menginsafi kegelapan yang mengurung mereka. Dalam skala lokal pada lingkaran komunitas mereka menyalakan lilin kesadaran untuk bangkit. Pijakan kebangkitan itu dimulai dari sikap berpikir, cara berpikir, sudut berpikir, jarak berpikir yang secara keseluruhan tidak lahir dari karakter generasi sebelumnya. Mereka bukan kontinuitas hasil pendidikan sebelumnya. Anak-anak muda itu dilahirkan oleh situasi pengap sejarah yang memenjarakan hampir segala harkat hidup.

Meminjam ungkapan Mbah Markesot dalam "Anomali Regenerasi", mereka benar-benar anak-anak Bapak-Ibunya, tetapi mereka bukan produk pendidikan orangtuanya. Mereka sungguh-sungguh generasi muda Indonesia, tetapi mereka bukan produk dari keadaan Indonesia, dalam arti bukan kontinuitas dari perilaku kebudayaan manusia Indonesia, utamanya perilaku elit dan pemimpin-pemimpinnya. Mereka, Alhamdulillah, adalah produk anomali regenerasi bangsanya. Yang secara naluri maupun pemikiran mereka berkeberatan untuk dididik oleh kakak atau bapak generasinya, karena mereka punya potensi untuk memimpin diri mereka sendiri.

Namun, tetap harus diakui, mereka itu minoritas. Jumlahnya cukup sedikit dibandingkan  mayoritas anak-anak muda lainnya yang menjadi semacam buih, terombang-ambing, kintir, di tengah gelombang dehumanisasi. Bagi seorang pemimpin, yang sedikit itu bisa mengguncang dunia. Di tangan pemimpin berpikiran segar yang menjangkau masa depan, jumlah sedikit tak jadi soal. Bukan mengutuk kegelapan yang diutamakan, melainkan menggaungkan narasi yang positif sebagai salah satu upaya mempertemukan bibit penyadaran anak-anak muda dengan tanah kenyataan perjuangan.

Narasi positif yang segar tentang anak-anak muda menemukan wadah yang tepat. Dunia digital dan media sosial menjadi ladang untuk mengabarkan cahaya terang kiprah anak-anak muda—sekecil apapun kiprah itu



«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply