» » » Ideologi dan Hari Kesaktian Pancasila


Penetapan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan fondasi negara bukan suatu hal yang mudah. Sebab proses perumusannya terjadi dinamika pemikiran, pendapat antar kelompok, agar tidak ada unsur diskrimnasi dalam mengimplementasikan.

Perbedaan pendapat tidak menjadi hambatan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Sehingga hasil nilai-nilai yang dimakjulkan dalam pancasila oleh founding father amat mewujudkan kesatuan dan persatuan, tetapi tanpa mematikan atau melenyapkan kebhinekaan yang ada.

Peristiwa 1 oktober ditetapakan sebagai hari kesaktian pancasila, penetapan tersebut didasari pada kelompok yang ingin mengubah minsed bangsa Indonesia menjadi komunis. Hari yang bersejarah dengan pergolakan yang hebat sekaligus mengenang pahlawan revolusi dalam mempertahankan butiran nilai-nilali pancasila. Sebagian masyarakat mengenang peristiwa tersebut merupakan "peristiwa lubang buaya" yang memakan korban Jend. TNI Achmad Yani, Letjen. TNI Suprapto, Letjen. TNI S. Parman, Letjen. TNI M.T. Haryono, Mayjen. TNI D.I. Panjaitan, Mayjen. TNI Sutoyo S, dan Kapten CZI TNI Pierre Tendean.

Peringatan hari kesaktian pancasila harus dijadikan sebagai kesempatan untuk merefleksikan tentang pemaknaan nilai-nilai dan kesaktian Pancasila itu sendiri. Terkhusus untuk para generasi muda bangsa sebagai Agen of change. Sebab belakangan ini, hari kesaktian pancasila dilakukan secara serimonial tanpa ada upacara peringatan terhadap pahlawan yang mempertahankan nilai-niali pancasila. Lunturnya nasinonalisme dan budaya dikalangan para kaum remaja merupakan pengaruh dari globalisasi yang sangat kuat, sementara upaya untuk merevitalisasi tidak pernah dilakukan.

Nilai-nilai pancasila hanya dijadikan sebagai suatu sejarah, kita hanya sering menghafal dibandingkan mengaktualisasikan pada kehidupan sehari-hari. sudah sepatutnya kita untuk kembali kepada jati dirinya melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Upaya yang perlu dilakukan adalah menguak makna substantif nilai-nilai kearifan lokal. Keterbukaan dikembangkan menjadi kejujuran dalarn setiap aktualisasi pergaulan, pekerjaan dan pembangunan, beserta nilai-nilai budaya lain yang menyertainya. Norma kesantunan sebagai keramahtamahan yang tulus menjadikan ciri dari budaya Indonesia.

Sesuai dengan pernyataan Ali Murtopo (1978), masyarakat Indonesia khususnya generasi muda harus membangkitkan kembali rasa cinta terhadap tanah air. Namun bukan dalam bentuk zaman yang lalu, sesuai dengan keadaan sekarang ini. Akan rasa cinta tersebut diarahkan untuk mengatasi semua permasalahan bangsa, dengan sikap yang jujur, adil, disiplin, berani melawan kesewenang-wenangan, tidak korup, toleran, dan bersahaja. Diharapkan bangsa ini dapat bersama-sama merasakan kehidupan secara arif dan bijak menuju kehidupan yang lebih baik, sejahtera, damai dan penuh keadilan.

Momentum Kesaktian Pancasila sebaiknya dijadikan semangat untuk menjadikan Pancasila sebagai sarana untuk mempersatukan bangsa, dan generasi muda sebagai agent of change sudah sepatutnya untuk kembali kepada jati dirinya melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai pancasila.




«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply