» » » Mengenal H. Mutahar, Penyelamat Bendera Asal Semarang (Bagian 2-Habis)


Semarang adalah kota dengan sejarah perjuangan yang luar biasa. Selain Pertempuran Lima Hari di Semarang yang terkenal itu, dari Semarang lahir pula banyak tokoh nasional yang memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Di antaranya adalah H. Mutahar.

Situs Wikipedia menyebutkan, "Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar atau yang lebih dikenal dengan nama H. Mutahar (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916 – meninggal di Jakarta, 9 Juni 2004 pada umur 87 tahun), adalah seorang komponis musik Indonesia, terutama untuk kategori lagu kebangsaan dan anak-anak."

Melanjutkan kisah dari artikel sebelumnya terkenal tentang beliau yang menyelamatkan bendera pusaka, yang bersumber dari situs tirto.id.

* * *

Ia kemudian memutuskan untuk memisahkan kedua warna Bendera Pusaka tersebut yang dijahit oleh Ibu Fatmawati, istri Bung Karno. Setelah terpisah menjadi dua bagian, Mutahar memasukkannya ke dalama dua tas yang dimilikinya. Masing-masing ditempatkan di dasar tas tersebut dan ditumpuk dengan berbagai baju miliknya. Mutahar mengambil langkah tersebut karena berpikir bahwa jika dipisahkan, tidak lagi bisa disebut Bendera Pusaka dan akan dianggap sebagai secarik kain biasa.

Agresi Belanda tersebut berbuntut pada penangkapan dan diasingkannya Presiden Sukarno dan Bung Hatta. Bung Karno diasingkan ke Parapat, Sumatra sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka. Sedangkan Bung Hatta langsung dibawa ke Bangka. Sedangkan Mutahar dan beberapa staf kepresidenan dibawa ke Semarang menggunakan pesawat Dakota dan ditahan di sel. Saat menjadi tahanan kota, Mutahar berhasil melarikan diri dan menggunakan kapal laut bertolak ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta dalam pelariannya itu, Mutahar menginap di rumah Sutan Syahrir, dan belakangan ia kos di jalan Pegangsaan Timur nomor 43, rumah Kapolri pertama, Sukanto Tjokrodiatmodjo. Mutahar terus mencari informasi bagaimana caranya agar dapat segera mengembalikan Bendera Pusaka kepada Bung Karno.

Di suatu pagi sekitar pertengahan Juni 1948, Mutahar menerima pemberitahuan dari Soedjono mengenai surat pribadi Bung Karno yang memerintahkan agar Bendera Pusaka segera dapat diserahkan kembali kepada Presiden di Muntok, Bangka.

Presiden Sukarno meminta Mutahar untuk menyerahkan Bendera Pusaka itu kepada Soedjono terlebih dahulu. Ini beralasan karena pada saat itu hanya delegasi dari Republik Indonesia yang boleh mengunjungi Presiden di tempat pengasingan sesuai dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Nations Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sekaligus menjaga kerahasiaan perjalanan Bendera Pusaka dari Jakarta menuju Bangka.

Begitulah akhir tugas Husein Mutahar dalam menyelamatkan Bendera Pusaka, yang juga menjahit kembali dua bagian Bendera Pusaka tersebut. Meminjam mesin jahit dari seorang istri dokter, Mutahar menjahit persis di lubang jahitan asli dan sekitar dua sentimeter dari ujung bendera ada sedikit kesalahan jahit. Bendera itu kemudian dibungkus kertas koran dan diserahkan kepada Soedjono.

Bung Karno sendiri, melalui pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan Bintang Maha Putera pada tahun 1961 karena jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka. 


Bapak Paskibraka

Perintah dari Presiden Sukarno saat Mutahar ditugaskan untuk mengurusi upacara kemerdekaan Indonesia yang kedua menjadi dasar selanjutnya dalam membentuk Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau kemudian dikenal Paskibraka.

Transisi kepemimpinan terjadi, Presiden Sukarno lengser lewat peristiwa 1965 disusul dengan kenaikan Jenderal Suharto menjadi pemimpin negara. Tahun 1967, Mutahar dipanggil oleh Suharto terkait penanganan masalah Bendera Pusaka. Menggunakan dasar-dasar pengalaman pelaksanaan tahun 1946 lalu, ia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok, yaitu; kelompok 17 yang berfungsi sebagai pengiring atau pemandu, kelompok 8 sebagai pembawa serta inti, dan terakhir kelompok 45 sebagai pengawal.

Formasi tersebut kemudian dicoba pada upacara kemerdekaan Indonesia tahun 1968. Petugas pengerek Bendera Pusaka adalah sepasang pelajar remaja yang ditunjuk dari setiap Provinsi di Indonesia, namun karena saat itu tidak memungkinkan memanggil dari tiap provinsi karena adanya kendala, maka untuk melengkapi formasi dipakailah para anggota pasukan di tahun 1967.

Karena kondisi Bendera Pusaka yang sudah cukup tua, Mutahar diminta pendapat oleh Suharto tentang pengibaran Bendera Pusaka tersebut. Ia menyarankan agar sekali lagi dikibarkan pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1968 sebelum kemudian diganti duplikat.

Penyerahan ini kemudian dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta. Dalam upacara ini, duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto diserahkan kepada seluruh Gubernur atau Kepala Daerah Tingkat I di Indonesia dan selanjutnya kedua benda tersebut juga di bagikan ke Daerah Tingkat II. Hal ini juga yang kemudian menjadi dasar bahwa Paskibraka hanya ada di 3 tingkat yaitu Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

Husein Mutahar juga pencipta Himne Pramuka, lengkap dengan kiprah gerakan kepanduan yang kemudian ia menjadi akrab disapa dengan panggilan "Kak Mut". Khas panggilan anggota pramuka kepada pemandunya. Utusan menjadi dua besar bagi Indonesia juga pernah diterimanya, tepatnya pada tahun 1969 hingga 1973 ia menjadi duta besar Indonesia untuk Vatikan.

Lagu karya terakhirnya berjudul Dirgahayu Indonesiaku, yang sekaligus menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia. Dalam laporan Bondan Winarno, Mutahar adalah penggemar berat musik klasik. Ia hampir selalu hadir pada setiap pergelaran musik di Jakarta, dan karena itulah Addie MS dari Twilite Orchestra tak pernah lupa mengundang Mutahar dalam pementasannya. Ia spesialis himne, puncaknya adalah karyanya berjudul Syukur yang hampir setiap malam didengar sebagai penutup siaran TVRI.

Mutahar menghembuskan nafas terakhirnya pada 9 Juni 2014 di kediaman anak angkatnya, Sanyoto, di Jalan Damai Raya Nomor 20, Cipete Jakarta Selatan. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan atas pilihannya sendiri. Padahal dia layak dimakamkan di Taman Makam Kalibata. 

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply