» » » Mengenal H. Mutahar, Penyelamat Bendera Asal Semarang (Bagian 1)


Semarang adalah kota dengan sejarah perjuangan yang luar biasa. Selain Pertempuran Lima Hari di Semarang yang terkenal itu, dari Semarang lahir pula banyak tokoh nasional yang memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Di antaranya adalah H. Mutahar.

Situs Wikipedia menyebutkan, "Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar atau yang lebih dikenal dengan nama H. Mutahar (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916 – meninggal di Jakarta, 9 Juni 2004 pada umur 87 tahun), adalah seorang komponis musik Indonesia, terutama untuk kategori lagu kebangsaan dan anak-anak."

Ada kisah terkenal tentang beliau yang menyelamatkan bendera pusaka. Berikut kisah yang diambil dari situs tirto.id.

* * *

Hampir semua yang pernah mengenyam jenjang pendidikan Sekolah Dasar hingga Menengah Atas tidak asing bahkan hafal betul dengan himne yang membangkitkan kesyahduan rasa nasionalisme berjudul Syukur

Himne lagu rasa syukur atas negara baru ini dibuat tahun 1944, bak ramalan yang tepat sasaran ketika melihat kemerdekaan RI sudah dekat. Benar saja, proklamasi bisa dikumandangkan pada 1945 dan di tahun yang sama, himne ini diperkenalkan ke publik sebagai benar ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan.

Menarik, himne lagu tersebut dibuat ketika penciptanya berada di toilet Hotel Garuda, Yogyakarta. Ia sekamar dengan Hoegeng yang kelak menjadi Kapolri terbersih itu. Hoegeng membantu mencarikan secarik kertas untuk luapan ide yang mendadak. Sebuah lagu syukur tercipta dari toilet hotel.

Setahun berikutnya, lagu mars bernuansa semangat kemerdekaan hadir kembali yang berjudul Hari Merdeka. Lagu ini juga tidak kalah populernya terutama diputar dan dilantunkan saat upacara hari kemerdekaan di berbagai daerah, baik instansi negeri, swasta hingga komunitas masyarakat sampai saat ini. Dalam kolom pencipta himne dan mars lagu tersebut, ada seseorang bernama Husein Mutahar tercantum.

Sejarah telah menunjukkan bahwa musik berperan membentuk tujuan dan sasaran pada seseorang untuk bergerak ke arah identitas kolektif, nasionalisme budaya, hingga kemerdekaan politik. Sama juga halnya lagu-lagu ciptaan Husein Mutahar tersebut.

Sosok Husein Mutahar dalam kancah sejarah populer memang terdengar samar-samar, ia kalah pamor dibanding Wage Rudolf Supratman yang karyanya telah menjadi lagu nasional resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia juga tidak suka difoto, selalu memalingkan wajah dan berusaha bercakap-cakap agar hasil foto tak tampak wajah dari depan. Padahal, bukan hanya seorang pencipta lagu kebangsaan, jejak langkahnya telah mewarnai peristiwa penting sejak tahun-tahun awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Mutahar lahir di Semarang, 5 Agustus 1916. Dia lulusan sekolah menengah atas zaman kolonial, AMS bagian A (Pasti Alam). Mutahar sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, dari tahun 1946 sampai 1947. Di awal revolusi, Mutahar menjadi Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta pada 1945 hingga 1946.


Menyelamatkan Bendera Pusaka

Husein Mutahar adalah sekretaris dari Laksamana Muda Mohammad Nazir. Saat itu Nazir dan Mutahar mendampingi Bung Karno, kemudian Bung Karno mengingat Mutahar sebagai sopir yang mengemudikan mobilnya di Semarang beberapa hari setelah Pertempuran Lima Hari. Bung Karno sendiri kemudian meminta kepada Laksamana Nazir agar Mutahar menjadi ajudannya.

Pada 17 Agustus 1946, setahun setelah proklamasi kemerdekaan, upacara ulang tahun kemerdekaan diadakan di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Kala itu, Ibukota Indonesia berada di Yogyakarta. Mutahar yang saat itu di Yogyakarta sudah menjadi ajudan Presiden Sukarno diberi perintah untuk mempersiapkan upacara kenegaraan memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang kedua itu.

Husein Mutahar berpikir bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa, maka pengibaran bendera lambang negara ini sebaiknya dilakukan oleh para pemuda yang mewakili daerah masing-masing di Indonesia. Ia kemudian menunjuk 5 orang pemuda yang terdiri dari 3 orang putri dan 2 orang putra sebagai perwakilan daerah yang berada di Yogyakarta pada saat itu.

Tugas mereka adalah melaksanakan pengibaran Bendera Pusaka, yang kelak dikenal hingga kini sebagai Paskibraka. Cikal bakal paskibraka dimulai dari tugas Husein Mutahar ini. Lebih dari itu, sosok Husein Mutahar juga berperan dalam pengamanan Bendera Pusaka saat agresi militer Belanda kedua menghantam Yogyakarta pada 19 Desember 1948.

Saat itu, Mutahar dipanggil oleh Presiden Sukarno terkait penyelamatan Bendera Pusaka. Dalam percakapan dengan Mutahar seperti dikutip dari buku Cindy Adams, Penyambung Lidah Rakyat (1966), Bung Karno mengatakan, "Dengan ini, aku memberikan tugas kepadamu pribadi, untuk menjaga Bendera kita dengan nyawamu, ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andai kata engkau gugur dalam menyelamatkan Bendera Pusaka ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya."

Mendapat amanat besar yang langsung diutarakan oleh Bung Karno kepada dirinya, Mutahar terus berpikir bagaimana mengamankan Bendera Pusaka dari kemungkinan perampasan oleh tentara Belanda. Sedang di waktu bersamaan, bom berjatuhan terus terdengar. 





... bersambung ...

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply