» » » Menjaga Identitas Gerakan

Proses kaderisasi dalam sebuah organisasi memiliki nilai yang sangat strategis. Disanalah terjadi proses pewarisan nilai, ilmu, semangat dan perjuangan, dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Karena pentingnya proses ini, maka seyogyanya proses kaderisasi hanya boleh dilakukan oleh "orang dalam", yakni para generasi pendahulu yang sudah terlibat secara matang dalam proses perjuangan, memahami adab dan nilai dasar perjuangan, teruji loyalitas dan integritasnya, sudah melalui berbagai jenjang kaderisasi organisasi secara paripurna serta memiliki kapasitas dan otoritas yang memadai untuk mencetak kader generasi penerus dimasa depan.

Proses kaderisasi tidak boleh dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki otoritas, kendati mereka adalah orang dalam. Karena dikhawatirkan bisa terjadi deviasi atas nilai dan tafsiran perjuangan. Jika orang dalam saja tidak bisa seenaknya ikut membentuk kader, maka bagaimana halnya dengan orang luar? Mereka yang bergabung secara instan dengan sebuah organisasi, belum pernah mengikuti jenjang-jenjang kaderisasi secara paripurna, belum teruji integritas dan kapasitasnya, tiba - tiba diberi tempat untuk ikut mewarnai proses pencetakan kader, tentu hal ini sangat berbahaya. Hal ini sungguh sangat sulit diterima dan dinalar untuk sebuah organisasi yang menjunjung tinggi perihal "sanad ilmu".

Boleh jadi, mereka memang memiliki sejumlah keahlian tertentu yang dibutuhkan oleh kader - kader dalam organisasinya. Ada tantangan baru, ada medan pertempuran baru atau ada perspektif dan persepsi baru, tetapi sumber daya internal organisasi tersebut belum cukup memadai untuk menjadi tentor, instruktur atau trainernya. Jika situasinya memang seperti ini, maka seyogyanya harus ada pendampingan khusus dari pihak internal. Sehingga ilmunya bisa diserap, tapi imbas negatifnya bisa ditangani. Harus dipahami, seorang guru bukan hanya mewariskan ilmu, tapi juga akhlak, nilai dan karakter kepada para muridnya. Inilah diantara hal yang harus diwaspadai.

Jika situasinya memang demikian adanya, maka organisasi tersebut juga harus melakukan lompatan - lompatan besar dalam proses kaderisasinya. Agar diwaktu mendatang, semua proses kaderisasi bisa ditangani oleh "orang dalam". Meskipun hal ini juga bisa memunculkan tanda tanya besar "Benarkah sama sekali tidak ada sumber daya internal yang mampu memberikan asupan ilmu dan pengalaman yang dibutuhkan? Atau jangan-jangan, pihak eksternal tersebut memang sudah diakui secara shahih sebagai bagian dari sumber daya internal yang diberi otoritas untuk ikut memberi warna pada proses pencetakan kader?" Jika sampai ini yang terjadi, urusannya jelas semakin runyam.

Kita tentu bisa banyak belajar dari sejarah. Misalnya dalam bidang ekonomi, bahwa pengkhianat utama dari ajaran Adam Smith, justru malah David Ricardo. Pengkhianat utama dari ajaran Vladimir Lenin, justru malah Joshep Stalin. Andai saja Syaikh Hasan Al Bashri tidak mentahdzir dan mengusir Wasil bin Atha dari majelisnya, niscaya ajaran Muktazilah akan dinisbatkan sebagai ajarannya Syaikh Hasan Al Bashri. Contoh lainnya masih banyak. Jejak panjang sejarah semestinya menjadi konsen semua pihak dalam melakukan proses-proses kaderisasi diinternal organisasinya. Agar tidak ada anasir dan penyusup asing yang ikut terlibat dalam proses kaderisasinya. Agar orisinalitas dan identitas pergerakan senantiasa terjaga, dari hulu hingga hilir.




Sumber: Akun Facebook Eko Jun

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply