» » » Hari Pemuda Sedunia: Memberdayakan Pemuda Sebagai Aset Bangsa


Tahukah Anda bahwa 12 Agustus adalah Hari Pemuda Sedunia? Ya, setiap tanggal 12 Agustus, terhitung sejak tahun 2000, selalu diperingati sebagai Hari Pemuda Sedunia. Begitu penting dan strategisnya isu mengenai pemuda dan segala hal yang menyertainya, maka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencetuskan Hari Pemuda Sedunia yang bertujuan untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap masalah dan isu aktual pada generasi muda.

Lalu siapakah yang bisa dikategorikan sebagai pemuda? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemuda adalah ­orang muda laki-laki; remaja; teruna. Sementara PBB mendefinisikan pemuda sebagai orang yang berada dalam kelompok usia kisaran 15 hingga 24 tahun, berjumlah sekitar seperenam dari populasi penduduk dunia. Artinya, jika diperkirakan tahun ini penduduk dunia berjumlah sekitar 7 milyar manusia, maka jumlah pemuda di seluruh dunia mencapai 1 milyar jiwa lebih. Sungguh bukan jumlah yang sedikit. Pertanyaannya: Apakah negara akan memposisikan pemuda sebagai asset, atau justru sebagai beban?

PBB memposisikan pemuda sebagai bagian dari pembangunan dunia di masa depan. Namun pemuda tetaplah pemuda, yang tetap harus mendapatkan bimbingan dari generasi di atasnya. Jika kita melihat dari rentang usia psikologis, pemuda berada pada fase remaja pertengahan hingga fase dewasa awal. Masuknya fase remaja bisa membuat kita mengernyitkan dahi, apakah remaja (yang sering diasosiasikan dengan kata “labil”) bisa diikutsertakan dalam pembangunan sebuah negara?

Dalam wacana psikologi perkembangan, usia pemuda adalah usia yang potensial untuk menggali dan menemukan bakat serta keahlian apa yang paling dikuasai oleh seseorang. Setelah usia 25 tahun, biasanya seseorang sudah fokus di satu bidang, bukan lagi mencari-cari apa yang menjadi minatnya. Saya menggunakan kata ‘potensial’ karena pada kenyataannya tidak semua pemuda berhasil menemukan apa yang ia sukai. Cukup banyak yang terjerumus dalam perilaku yang kita sebut dengan kenakalan remaja.

Kenyataan tersebut berkelindan dengan tema yang diusung oleh PBB. Pemuda yang di satu sisi memiliki potensi luar biasa, namun jika salah ditangani bisa menimbulkan perilaku yang destruktif. Oleh karena itu, generasi di atas pemuda harus menempatkan pemuda sebagai rekan dalam bertukar pikiran dan pengalaman. Konsepnya, negara memang memiliki tanggung jawab untuk membangun karakter pemudanya. Namun ide itu akan sia-sia jika tidak didahului dengan kondisi keluarga yang sehat secara psikologis. Bagaimanapun juga, pemuda berawal dari kelompok sosial bernama keluarga.

Sekarang kita lihat dalam konteks lokal di Indonesia. Contoh sederhana yang sering kita lihat dan barangkali juga pernah kita alami misalnya: Seorang remaja ingin menjadi pemain sepakbola, tapi tidak didukung oleh orangtuanya karena masa depan sebagai atlet dinilai tidak menjanjikan. Karena takut dengan orangtuanya, akhirnya si anak dengan terpaksa mengikuti beragam les yang sebenarnya tidak ia senangi. Akibat lanjutannya, hingga di atas usia 25 tahun si anak tadi merasa tidak memiliki kemampuan khusus dan berdampak pada kepercayaan dirinya.

Melalui sistem pendidikan, kita bisa melihat bahwa generasi muda Indonesia dibangun di atas pendewaan kurikulum terhadap kemampuan kognitif dan nilai-nilai yang terukur. Sistem ini menghasilkan generasi muda yang cenderung menjalankan kehidupan dari apa yang ia ketahui saja, cenderung tanpa kemauan untuk melihat sesuatu yang belum pernah ia temui dan lakukan. Berdasarkan pengalaman saya melakukan wawancara kerja, sering sekali saya temui pelamar kerja yang memiliki nilai akademis di atas rata-rata. Sayangnya, mereka tidak memiliki cukup kemampuan untuk sekadar menjelaskan ilmu apa yang sudah dipelajari di kampus. Sebagian besar dari mereka juga tidak tahu akan menjadi apa dalam rentang waktu lima tahun ke depan. Padahal mereka adalah lulusan perguruan tinggi ternama dan saya yakin kecerdasan intelektual mereka juga dalam level yang baik.

Jika mengubah sistem pendidikan adalah hal yang sulit, maka cukuplah pemuda melakukan hal-hal sederhana saja untuk mencari dan menemukan potensi apa yang bisa mereka kembangkan. Kalau mereka sudah menjadi seorang ahli dalam suatu bidang, niscaya akan berimbas pada kualitas sebuah negara secara keseluruhan. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengadakan program kreativitas mahasiswa yang bertujuan melihat seberapa teman sebaya bisa mempengaruhi pandangan remaja terhadap masa depannya. Ternyata, melalui pendekatan kelompok teman sebaya, para remaja tersebut bisa memutuskan akan menjadi apa dalam satu hingga dua tahun ke depan. Jadi tak selamanya geng pada remaja itu memberikan pengaruh negatif. Banyak hal positif yang bisa dikembangkan, asalkan guru dan orangtua bisa mengarahkannya.

Seperti kata Erik Erikson, seorang pakar dalam bidang psikologi perkembangan, usia remaja adalah masa pencarian identitas melawan kebingungan identitas. Artinya, jika hingga usia dewasa seseorang tak juga mampu menemukan identitasnya, maka ia akan cenderung bingung dengan visi hidupnya. Kalau sudah bingung dengan visi hidup, ya sudah, hidup pun dibiarkan berjalan apa adanya. Tidak ada yang salah dengan kehidupan yang mengalir apa adanya. Namun akan lebih baik jika sejak awal, pemuda sudah tahu akan melakukan hal-hal apa saja di sisa usia kehidupannya. Terlepas apakah impian itu bisa terwujud atau tidak, setidaknya mereka memiliki motivasi untuk membuat impian itu menjadi kenyataan. Kalau sudah begini, jangan pernah remehkan usaha pemuda dalam mengejar impiannya.

Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. (Ir. Sukarno)

Selamat Hari Pemuda Sedunia!




[kompasiana.com/yudikurniawan]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply