» » » Gerakan Pemuda Indonesia Menuju Perubahan (Bagian 2-Habis)

Kontrol Sosial

Benih kepemimpinan pada masa Orde Baru muncul dari dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, juga dari partai yang berkuasa, yaitu Golongan Karya, terutama kesempatan yang diberikan kepada para teknokrat. 

Pada era 1970-an gerakan mahasiswa bangkit kembali sebagai kelompok yang mengkritik kebijakan rezim Soeharto. Meskipun mereka hanya mengkritik kebijakan, tanpa menganalisa sistem kekuasaannya secara komprehensif. Gerakan moral mahasiswa tersebut memuncak pada tanggal 15 Januari 1974 yang dikenal dengan peristiwa "Malapetaka Lima Belas Januari " (Malari). 

Gerakan mahasiswa ini pun bergandengan mesra dengan tentara, gerakan mereka menjadi pion dalam pertarungan antar berbagai faksi di elite militer. Akhirnya gerakan tersebut dihabisi dengan penangkapan dan pemenjaraan terhadap para pemimpinnya. Pada tahun 1978, mahasiswa kembali bergerak. Kali ini dengan tuntutan yang lebih maju, menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Mereka pun belum berbicara mengenai sistem yang sebaiknya dibangun. Setelah kejadian itu Soeharto mengambil langkah untuk mensterilkan kampus dari semua kegiatan politik. Dewan mahasiswa dibubarkan, tidak boleh ada politik praktis di dalam kampus. Militer semakin kuat mencengkram kampus, kemudian terjadi pembredelan pers mahasiswa, pencekalan tokoh-tokoh kritis, dan pelarangan buku-buku.


Pemuda Revolusioner

Peranan pemuda sangat penting di setiap perjuangan memajukan bangsa ini, tanpa mengabaikan peran dan perjuangan kelompok senior. Kontribusi pemuda sangat signifikan bahkan spektakuler. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak gerakan di dunia ini dikomandoi kaum muda. Adalah Ernesto Rafael Guevara de la Serna (Che Guevara) yang hingga sekarang sosoknya masih menjadi ikon di kalangan pemuda di banyak negara. 

Che lebih memilih hidup sebagai gerilyawan yang jauh dari nyaman; meskipun sebenarnya dia dapat memilih hidup dalam zona nyaman dengan gelar sarjana medis yang diraihnya. Dia berjuang di sejumlah negara Amerika Latin, seperti di Guatemala dan Cuba, memerangi rezim despotis di negara-negara tersebut. Sosok Che yang revolusioner tersebut menjadi inspirasi bagi banyak gerakan pemuda di dunia ini, termasuk di Indonesia. 

Kaum muda selalu digambarkan sebagai sosok yang revolusioner, seperti Che, berani mendobrak kemapanan, reformis, kritis idealis, independen, dan dinamis. Mereka tidak takut beraksi demi idealisme. Begitu juga dengan para pemuda Indonesia. Bukan hanya kemerdekaan yang kita peroleh dari perjuangan para pemuda, tetapi juga sejumlah momentum, seperti peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari 1974), dan Gerakan Reformasi 1998 yang menjungkalkan rezim Soeharto setelah berkuasa penuh selama 32 tahun. 

Etos berpikir kaum muda sangat berharga bagi Indonesia di masa depan. Kemampuan kaum muda untuk memimpin Indonesia di masa depan menjadi harapan penting saat ini, melihat jalan masa depan Indonesia di tengah konstelasi global membutuhkan peran kaum muda yang progresif dan segar. Sangat diharapkan kaum muda membawa perubahan di masa depan. Kepemimpinan para pemuda Indonesia harus lahir secara otentik dan sejarah selalu membuktikan peran mereka. Sepak terjang para pemuda Indonesia dalam menegakkan idealisme dan cita-cita yang mereka miliki banyak diwakili golongan muda terpelajar. Namun dalam perjalanannya, kiprah kaum muda ini sering mengutub pada suatu masa dalam garis perjalanan sejarah. Sebagai contoh, di era Soeharto idealisme sebagian pemuda tergadaikan oleh rezim tersebut. Mereka lebih memilih melacurkan idealisme demi jabatan , kekuasaan, dan kepentingan kelompok atau pribadinya. Hal ini digambarkan sebagai momen di mana idealisme pemuda berhadapan dengan kebijakan golongan tua sebagai rezim berkuasa. Pemuda yang setelah berhasil mencapai tujuannya terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang dulu dikritiknya.Akibatnya status quo suatu rezim koruptif tidak tergoyahkan karena pemuda yang diharapkan menjadi revolusioner malah berada dalam pengaruh penguasa. Bahkan selanjutnya mereka menjadi pengganti dari penguasa sebelumnya yang ikut melestarikan budaya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Namun para pemuda menjadi kaum reformis yang kembali berjuang mengenyahkan rezim tersebut, seperti kita lihat hasilnya Indonesia sekarang ini. 


Kepemimpinan Reformis

Keberadaan kaum muda dalam politik sangat positif karena diharapkan mereka dapat merealisasikan idealisme yang dimiliki untuk kemajuan bangsa. Secara teori untuk kapabel dalam memimpin, ada tiga faktor penting yang harus dipenuhi, yaitu,intelektual, pengalaman, dan pengaruh. (Warlan : 2010). 

Pemimpin usia muda bukan halangan untuk menjalankan jabatan strategis meskipun secara pengalaman pemimpin dari angkatan tua lebih unggul. Tetapi bukan berarti kaum muda tidak bisa memimpin seperti kaum tua. Intelektual dan pengaruh kaum muda sama penting dalam memimpin dan menjalankan tugas demi negara dan bangsa. Sebenarnya tradisi kepemimpinan politik anak muda di Indonesia telah tertoreh sejak masa pra-revolusi kemerdekaan. Sejumlah pemuda pelopor kemerdekaan seperti Soekarno yang memulai perjuangan politiknya sejak usia belasan tahun, Semaoen memimpin Syarikat Islam di usianya yang ke tujuh belas, dan lain-lain. Pada umumnya mereka adalah nama-nama besar dijagat politik Indonesia yang mampu memimpin organisasi perjuangan mengusir penjajah di masanya. Kokohnya budaya feodal masih menempatkan kekuasaan untuk dilayani ketika Indonesia merdeka. Tetapi beberapa pemimpin pergerakan seperti Hatta berhasil bertahan dalam faham serta praksis kekuasaan untuk melayani. Beberapa pemimpin lain larut kembali dalam budaya kekuasaan feodal. Sikap dan budaya kekuasaan demokrasi diperkuat oleh posisi pemimpin dan wakil rakyat. Mereka dipilih rakyat lewat pemilihan umum. Pantas jika berorientasi dan bersetia kawan kepada rakyat banyak yang diwakili (misalnya dalam persoalan-persoalan kehidupan di bidang sosial ekonomi).Di samping mendambakan pemimpin Indonesia yang merakyat, kaum muda juga memimpikan pemimpin yang kuat, tegar, dan tak mudah menyerah kepada fakta permasalahan.Anton Lunardi (2008) mencoba melihat pemimpin Indonesia jangan hanya bisa berkampanye dan mengobral janji manis kepada masyarakat. Pemimpin Indonesia jangan hanya bisa memajang foto manis di koran-koran, iklan-iklan televisi bersama kaum miskin, atau dengan jargon simbolik yang terkadang menipu. 

Dalam konteks ini, menarik yang diungkapkan Sutan Sjahrir, bahwa hidup yang tak dipertaruhkan, hidup yang tak dimenangkan. Karena pemuda dengan pencitraannya sebagai sosok reformis, kritis berani, dan idealis menjadi daya tarik untuk menjalankan kaderisasi calon pemimpin masa depan. Tetapi pada kenyataannya, kaum muda yang diberi posisi strategis sering berbenturan kepentingan dengan kebijakan kaum tua. 

Namun, kehadiran golongan muda di kancah politik nasional seakan terinterupsi pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Generasi tua yang enggan beranjak dari kekuasaan membuat regenerasi politik mandek untuk sekian lama. Meskipun beberapa orang dari angkatan muda menjadi mentri beberapa kali. Anak-anak muda periode 1970-1980-an yang melek politik habis dibabat aparat represif Orde Baru, mereka banyak yang terpental, dan akhirnya mencari sarana aktualisasi diri di wadah organisasi non-pemerintah atau hengkang ke luar negri meniti karier di profesinya masing-masing. Dua belas tahun setelah reformasi digelar, bangsa ini menyaksikan begitu banyak partai politik didirikan , masih banyak orang lama yang bercokol di dalamnya. Dan semua seolah mendadak sadar posisi politik. Seseorang yang tak mungkin menjadi pejabat politik atau pejabat publik di era Soeharto, tiba-tiba di era reformasi menjadi serba mungkin. 

Hitung-hitungan politik sangat liar. Akan cukupkah selama masa transisi ini mengubah budaya politik yang semula hanya didominasi kepemimpinan golongan tua menjadi mengakomodasi juga golongan muda?Krisis multidimensi yang dianggap muara dari kebijakan Orde Baru dalam menjalankan ideologi pembangunannya sudah terlalu lama menyeret negara kita ke jurang penderitaan. Situasi semakin parah ketika telah terjadi krisis moralitas dan kepercayaan. Kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat telah mengalami disorientasi.

Pemimpin muda yang tampil dalam masa reformasi dan sepuluh tahun terakhir sebelumnya, suasana, dinamika, dan tak menentunya transisi reformasi mencari format yang stabil dan solid, ikut mempengaruhi masalah terciptanya suasana kondusif atau kurang kondusif bagi lahirnya kader-kader kepemimpinan. Padahal di Indonesia banyak anak muda pintar dan baik yang antre untuk berperan membangun dan memuliakan bangsanya, tetapi tidak diberi ruang. Akhirnya mereka berpikir dan mengaktualkan diri di sektor bisnis dan perusahaan-perusahaan asing karena mereka punya idealisme tetapi tidak tersalurkan. Momentum ini seharusnya menjadi pemicu untuk memberikan ruang bagi golongan muda. 

Sementara pegangan hidup berubah. Berlaku ekonomi pasar, bahkan ekonomi pasar liberal. Salah satu implikasinya yang negatif dan rumit, di tengah kemiskinan dan kekurangan rakyat banyak, berkembang subur pola hidup konsumerisme dan bergaya. Eksklusivisme dan primordialisme menyeruak, sedangkan kesadaran kolektif dinistakan, yang mengemuka di kalangan elite politik hanya kekuasaan dan kekayaan. 

Para elite politik, pemimpin politik, dan pemegang kekuasaan dalam berbagai tingkatannya dihadapkan pada pilihan dilematis, memihak dan mengacu kepada kehidupan rakyat banyak atau kepada pola hidup bergaya dan berkonsumsi tinggi? Muncul sekaligus dalam keadaan ini kekuasaan sebagai kesempatan yang menggoda. Anarkisme telah memporak-porandakan kehidupan. Hukum, keadilan, dan kedaulatan rakyat telah runtuh. Cengkraman neokolonialisme dan imperialisme (nekolim) semakin membelenggu kedaulatan nasional dan jati diri bangsa, sehingga keterpurukan negara kita tidak terelakkan. Harapan terhadap hari depan semakin suram. Menghadapi situasi yang telah mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan rakyat, dan demi tercapainya cita-cita proklamasi kemerdekaan, dipandang perlu untuk segera dilaksanakan revolusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Permasalahan Kaderisasi Pemimpin Muda 

Kader pemimpin tak mungkin muncul dan tumbuh jika tidak subur pula hadir, berkembang, serta dihayatinya kualifikasi, kriteria, kemampuan, dan pilihan yang disengaja terhadap kepemimpinan politik itu. Kaderisasi sering berujung gagal,melenceng, tidak berhasil melahirkan sosok pemimpin muda idealis yang memegang visi dan misi kebangsaan. 

Akibatnya sejumlah pemimpin muda yang punya jabatan strategis tersangkut dalam kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ini karena organisasi yang tidak merencanakan sumber daya manusia yang baik. Konsekuensinya, proses demokrasi yang berlangsung akan bersifat semu, tidak sepenuh hati. Sehingga kaderisasi yang melibatkan kaum muda pun sifatnya menjadi coba-coba. 

Regenerasi diharapkan bukan sebatas anak usia muda yang muncul, tetapi muda dan cerdas, berpikiran maju sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman. Kaum muda menjadi inisiator, pemimpin, sekaligus nakhoda tangguh...

Sekarang ini dikhawatirkan kaum muda semakin apatis dengan dunia politik, tampak dari krisis regenerasi kepemimpinan politik dari kalangan generasi muda. Di samping itu menilai sense kaum muda untuk membicarakan gejolak politik semakin menjauh. Kaum muda diklaim banyak terlibat dalam gejolak budaya pop, terasing dari hiruk-pikuk politik praktis.Kekhawatiran itu memang layak karena dalam gerak sejarah Indonesia, kaum muda selalu memainkan peran kunci dalam gerak transisi kebangsaan. Sejak era kolonial, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, kaum muda menjadi kunci terhapusnya imperialisme dan otoritarianisme kekuasaan. Kaum muda dengan jiwa idealismenya selalu berada di garda depan dalam membela nasionalisme dan tanah tumpah darah Indonesia. Tak salah kalau Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, "...Ya, yang bisa mengubah hanyalah generasi angkatan muda..." 

Tantangan yang dihadapi pemuda sekarang sangat berbeda dengan pemuda terdahulu. Dulu tantangannya banyak yang bersifat fisik dan konkrit, mudah tampak dan mudah dihadapi. Solusi untuk menghadapi tantangan sekarang, adalah dengan memperkuat jati diri pemuda, membentengi diri dengan meningkatkan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Masalah yang juga serius dihadapi para pemuda adalah terkontaminasinya pribadi mereka oleh budaya yang tak jelas asal-usulnya. Sebagian pemuda ingin hidup hedonis, ingin hidup senang-senang, dengan cara instant. Korupsi yang membudaya, sebenarnya tidak berakar dalam budaya kita. Di masa silam, di Jawa Timur pernah ada ratu yang adil dan jujur, menghukum anaknya sendiri, akibat anak itu berani mengambil harta orang lain. Kisah keteladanan seperti ini,saat sekarang jarang didengar para pemuda Indonesia. Para pemuda Indonesia sekarang ini, berada di tengah-tengah tarik menarik antar berbagai kekuatan. Di satu pihak, mereka ditarik kekuatan yang mengajak untuk berpikir dan bersikap liberal, dan menjadi lebih liberal dari negara yang mengintrodusir faham liberal itu sendiri. Di lain pihak, mereka ditarik dengan cara berpikir dan bersikap secara radikal,dan menjadi lebih radikal dari negara-negara yang diklaim sebagai pengekspor faham radikalisme.Di sinilah kesulitan yang dihadapi para pemuda Indonesia, seharusnya kita bisa tumbuh dari budaya sendiri, dengan budaya itulah kita bisa membangun bangsa ke depan. Yang sekarang dibangun adalah demokrasi, karena belum ada ideologi alternatif yang lebih baik daripada membangun demokrasi. Tetapi hal ini bukan merupakan satu-satunya jalan ke luar, atau satu-satunya solusi yang bagus bagi para pemuda Indonesia.

Generasi muda harus rela bekerja keras tampil ke depan dengan semangat kebangsaan, semangat kebersamaan, dan semangat perjuangan seperti diperlihatkan generasi muda pada zaman dahulu. Tidak hidup bermewah-mewah dan mencari jalan pintas untuk memperoleh sesuatu.

Di masa depan, kesempatan bagi para pemuda untuk berperan membangun dan memajukan bangsa sesungguhnya sangat banyak dan terbuka luas. Dengan keahlian masing-masing para pemuda dapat berkiprah melalui organisasi kemasyarakatan pemuda, lembaga pendidikan, melakukan riset, aktif di cabang-cabang olah raga, kesenian, semuanya dapat mengalihkan perhatian para pemuda dari rayuan pop kultural. Semua harus dilakukan dengan keahlian tinggi, sehingga kita dapat bermain di gelanggang global, tidak hanya menjadi jago kandang. Untuk itu kesempatan bagi para pemuda Indonesia yang ingin berkreasi dan berinovasi harus dibuka selebar mungkin. Pemberian mediasi dan motivasi, agar pemuda berprestasi perlu digalakan di mana-mana. Melihat potensi kecerdasan, kemampuan, dan bila memiliki arena, para pemuda berpeluang untuk merekonstruksi. Organisasi kemasyarakatan pemuda merupakan salah satu arena yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengembangkan, mengaktualisasikan diri yang kemudian merekonstruksi pemikiran-pemikiran yang lebih relevan untuk melakukan perubahan di Indonesia.Banyak tugas yang harus diemban para pemuda Indonesia saat ini, yaitu melakukan revolusi kebudayaan, pemikiran, cara pandang, dan sikap mental dalam membangun kembali Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. 


Peran Mahasiswa

Peran kaum intelektual, termasuk mahasiswa, dalam perubahan sosial adalah kompleks dan penting, tetapi tidak selalu menentukan. Sepanjang sejarah bangsa Indonesia, sebagian besar kaum intelektual berdampingan dengan gerakan demokrasi dan nasionalis melawan kolonialisme, kediktatoran, atau rezim fasis. Dukungan mereka terhadap gerakan revolusi sosial bersifat tidak kekal, bertentangan, dan terbatas.

Bagaimana seharusnya gerakan mahasiswa kini, di tengah buasnya perang neoimperialisme dan neoliberalisme yang semakin menyerang rakyat. Belajar dari sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, menyusun agenda perjuangan ke depan merupakan hal yang paling penting. Artinya gerakan mahasiswa membutuhkan konsepsi ideologis sebagai panduan gerak dan persatuan dengan rakyat tertindas. Ketika rakyat tertindas berteriak, hancurkan belenggu penindasan! Sang penindas akan berbicara tentang menjaga ketertiban umum. Di situlah mahasiswa bergerak, berjuang membebaskan rakyat dari rantai penindasan. Dalam sejarah demokrasi kita, mahasiswa selalu mengambil prakarsa dan menjadi motor penggerak demokrasi terlebih di alam reformasi ini, mahasiswa lebih memiliki ruang gerak sangat luas dan bebas untuk dapat mengekspresikan semua pendapatnya. Mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual selalu berpikir dan bertindak kritis dalam menyikapi setiap persoalan bangsa. Terlepas ada tidaknya pihak-pihak yang selalu mengambil keuntungan dari setiap gerakan mahasiswa yang dipicu oleh jeritan rakyat yang sudah sangat menderita, dan pantas mendapat dukungan.Mahasiswa diharapkan selalu waspada, tidak kebablasan dan tidak terpeleset ke dalam "nafsu mudanya". Selalu dinamis, idealis, kritis, dan selalu ingin melangkah lebih maju, diharapkan dapat berpikir lebih jernih dan melangkah lebih bijak, sehingga dapat selalu mengendalikan diri dalam setiap gerakannya. 

Kaum muda perlu merumuskan strategi arah masa depan Indonesia. Mereka yang sedang bergelora dan bergejolak nalar politiknya harus mampu merangkai bunga rampai pemikiran dengan bebas dan memihak. Mereka terkesan "bebas" memberontak terhadap fakta pemimpin Indonesia yang kadang elitis, kebal hukum, dan jauh dari kesusahan rakyat. Mereka yang tampak "memihak" karena mereka tidak rela kalau kaum kecil marginal tidak dibela hak dan martabatnya oleh para pemimpin. 

Indonesia sedang membutuhkan sosok sejuk yang bisa menjaga roh kebangsaan di tengah balutan krisi yang tak kunjung usai. Hadirnya sosok-sosok muda progresif, yang oleh banyak kalangan dinilai bersifat akan menjernihkan kembali spirit perjuangan kaum muda untuk membangun Indonesia. Pemimpin Indonesia harus mereka yang berjiwa muda, bersemangat kaum muda, bersemangat untuk terus melakukan perubahan. Angkatan muda yang berprestasi gemilang dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, jangan sekali-kali mengendurkan semangat dan keberanian untuk memperjuangkan perubahan. Tak sedikit anak muda yang makin terjerembab dalam kubangan kedangkalan pola pikir dan tingkah laku, semangat dan keberaniannya membeku, bermental kerdil, tak berorientasi, tak bersikap mandiri, berotak tumpul, dan impoten untuk soal-soal kreativitas, sehingga dikhawatirkan akan mundurnya peradaban.





Ditulis oleh Wahyu Barata
dari situs kabarindonesia.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply