» » » Gerakan Pemuda Indonesia Menuju Perubahan (Bagian 1)


"Tanah air kita meminta korban. Dari di sinilah kita, siap sedia memberi korban yang sesuci-sucinya...sungguh, korban dengan ragamu sendiri adalah korban yang paling ringan...memang awan tebal dan menggantung di atas kita. Akan tetapi percayalah di baliknya masih ada matahari yang bersembunyi...kapan hujan turun dan udara menjadi bersih karenanya?" (Ki Hadjar Dewantara). (Budiono : 2006). 

Bila kita amati dengan seksama setiap saat saat berita-berita di televisi, radio, atau media cetak dan on line, akan kondisi negara dan bangsa Indonesia sekarang, membuat panas dan gerah kehidupan masyarakat, yang semakin hari semakin menyesakkan dada oleh orang-orang yang hanya menuruti hawa nafsunya. 

Para penegak hukum tak berdaya menghadapi sepak terjang para koruptor, para penegak hukum malah terlibat menyandera aparat negara dengan uang haram, pelecehan terhadap aparat dan alat-alat negara, jual-beli pasal di lembaga legislatif, gaya hidup hedonisme anggota legislatif,...sangat menggeramkan. Kita dapat menyimpulkan bangsa Indonesia sedang diguncang berbagai kebobrokan moral yang semakin merajalela. 

Bila kebatilan sudah meluas, penindasan manusia terhadap manusia lain semakin menjadi-jadi, manusia semakin jauh dari kebenaran, dan bahkan terus berkembang dalam tipu daya duniawi, maka tunggulah kehancurannya. Fenomena ini hanya sebagian kecil dari kebobrokan yang terjadi sekarang ini.Membuat mata kita terbelalak karena sangat terkejut menyadari berlangsungnya segala kejadian yang dapat merobohkan bangunan kebangsaan kita. Semuanya berbau nista dan dusta. Akan sangat celaka jika kejadian-kejadian itu terus berlangsung. Allah Yang Mahakuasa tidak berkenan dengan hal-hal seperti itu. Semesta tentu berharap Allah Yang Maha Esa akan mengazab dan menghancurkan durjana. Dalam kondisi seperti ini sangat diharapkan muncul generasi perubahan, membawa ummat pada cahaya Rabbnya. Besar harapan setiap kaum, Allah pun akan mengutus generasi perubahan yang berakal jernih, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. Generasi masa depan yang akan membawa ummat ke jalan terang.Mereka generasi yang dikehendaki Ilahi,yang senantiasa tegas, keras terhadap kemaksiatan, ketidakadilan, dan kedzaliman. Mereka pun selalu berkasih sayang terhadap orang tua yang tak berdaya, orang-orang tertindas, dan sesamanya, taat pada tuntunan Ilahi, dan tidak pernah takut kepada diktator, penguasa tirani. Berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan, menghancurkan kebatilan, hingga hanya aturan Tuhan saja yang yang ditegakkan. Generasi yang diridhai Allah. 

Generasi ini pernah ada dan pernah mengukir sejarah dengan tinta emas di Indonesia. Kiprahnya sangat hebat dan menggemparkan dunia, begitu kata Bung Karno. Menjadi teladan yang patut dicontoh oleh generasi-generasi berikutnya. 

Generasi-generasi di setiap zamanpun selalu berganti seiring bergilirnya waktu, masa, zaman yang terus berlalu. Sekarang generasi-generasi pendahulu telah berlalu, generasi tangguh, unggul, dan mampu berkarya dengan idealisme yang kokoh dan tak pernah lekang oleh waktu tengah dinantikan. Sejarah bangsa yang semakin goyah ini membutuhkan tindakan brilian generasi muda perubahan, heroisme, gairah yang meledak-ledak, dan kreativitas tak terhingga ngejawantah dari jiwa mereka. Bung Karno pernah berkata bahwa dengan seratus pemuda di sekelilingnya ia bisa melakukan apapun bahkan menggeser gunung.Bung Karno menyadari bahwa "proposal" perubahan untuk masa depan selalu berada di tengah angkatan muda. Kita simak apa yang telah mereka lakukan bagi bangsa Indonesia di masa silam.Catatan sejarah membuktikan bahwa hampir segenap perubahan yang terjadi selalu berawal dari tangan kaum muda. Mulai dari sejarah kebangkitan intelektual di awal abad ke-20, Revolusi Kemerdekaan 1945, Amanat Penderitaan Rakyat 1966, hingga Reformasi 1998 yang berhasil memutus lintas estafet rezim otoriter yang sudah terlalu tambun dan membusuk di bawah tongkat komando Soeharto. 


Perintis

Dimotori Rd. Tirto Adhi Soerjo, aktivis dan jurnalis muda, angkatan muda pada masanya memulai peranannya sebagai perintis pergerakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada tahun 1904. Peran yang dilanjutkan dengan lahirnya Sjarikat Prijaji. Merupakan awal kebangkitan kesadaran nasional. Tirto adalah figur yang pertama kali berada di garis terdepan dalam menyuluh dan memimpin bangsanya. Di sinilah revolusi kebudayaan pertama berawal yang menitkberatkan pada isu-isu pendidikan dan kesadaran kemanusiaan di kalangan para priyayi, para agamawan dan intelektual. Hingga tunas-tunas gagasan kemerdekaan tumbuh pada masa ini. 

Pramoedya Ananta Toer menyebut Rd. Tirto Adhi Soerjo sebagai Sang Pemula, ia orang pertama yang mendirikan organisasi modern di bumi Hindia-Belanda, yaitu Sjarikat Prijaji pada tahun 1906.Ia pun menjadi pelopor pers pribumi berbahasa Melayu, Medan Prijaji, pada tahun 1907. Melalui koran ini ia menyebarkan gagasan-gagasannya tentang kemanusiaan, tak ada perbedaan antara satu bangsa dengan bangsa lain. Meskipun di Hindia kenyataannya lain. Bangsa pribumi dan bangsa asing non-Eropa berada dalam penindasan bangsa Belanda. Bukan terhadap Eropa saja ia bersikap keras. Terhadap kebudayaan Jawa yang feodal pun ia bersikap kritis. Karena mungkin feodalisme hanya akan membuat penjajahan tetap subur. Dengan itu ruang untuk kebebasan pun tergusur. 


Boedi Oetomo

Tokoh-tokoh pemuda pada zamannya, Soetomo, Soeradji, Goenawan, dan kawan-kawan pernah menjadi pionir pergerakan pemuda di negri ini melalui organisasi pemuda Boedi Oetomo yang mereka dirikan. Mereka dalam menggerakkan kebangkitan nasional berhasil membangkitkan kesadaran masyarakat saat itu tentang pentingnya kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda terhadap inlander di bumi pertiwi.

Tidak berlebihan kiranya jika momentum kebangkitan nasional yang terjadi 103 tahun lalu itu terus kita kenang setiap tahun pada tanggal 20 Mei sesuai dengan hari kelahiran Boedi Oetomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Awal tumbuhnya kesadaran berbangsa; hari nasionalisme. Untuk menjaga nilai-nilai perjuangan di masa silam. 

Meskipun menurut Pramoedya Ananta Toer "Kebangkitan Nasional" yang disenapaskan dengan kelahiran Boedi Oetomo merupakan gerakan priyayi baru, karena kedudukan mereka yang didapat berkat pendidikan barat. Status sosial diperoleh berdasarkan kedudukan.Para priyayi selalu mencari ketertiban dan ketentraman dengan mengabdi pada pusat. Tetapi pusat mereka adalah pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang memberi nafkah. Sejak berdiri Boedi Oetomo menjauhkan diri dari kehidupan politik. Para priyayi seperti dikatakan Miert, beranggapan bahwa kehidupan politik yang bergelora disamakan dengan kekacauan, pemberontakan, kemelut. Sikap itu tidak sejalan dengan watak orang Jawa. Itulah yang membuat ruang sosial dan budaya dipilih sebagai wilayah gerak untuk menjaga ketertiban dan keserasian di Hindia-Belanda.Keadaan seperti itulah yang diinginkan kaum Ethis di awal abad ke-20. Harapan mereka sebagian terwujud dengan pendirian Boedi Oetomo, organisasi yang dianggap sebagai hasil karya pribumi yang telah mendapat pendidikan barat. Keadaan mereka pun tidak akan mengganggu kekuasaan pemerintah kolonial, karena Eropa adalah pusat yang telah berjasa. Budaya feodalpun dijaga. Tak ada perubahan sikap yang tegas dari Boedi Oetomo. 


Gagasan Indonesia Merdeka

Pada saat Indische Partij didirikan nama Indonesia belum digunakan, namun telah menggagas nama dan masalah nasionlisme Hindia yang kelak berganti nama menjadi Indonesia. Nasionalisme yang digagasnya adalah "Hindia voor India", gagasan kemerdekaan paling awal. Sebuah kesadaran akan tanah air dan cita-cita membebaskan diri dari cengkraman penjajah. Karena gagasannya itu organisasi ini dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda. 

Para pemimpinnya, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat, yang sejak awal menolak tunduk, dan keras menentang pemerintah kolonial Hindia-Belanda, dibuang ke negri Belanda. Mungkin sikap menolak tunduk, tidak kompromis terhadap penjajah membuat Pramoedya Ananta Toer berpikir kalau organisasi ini benar-benar merefleksikan jiwa nasionalisme sesungguhnya : kemerdekaan. 

Rd. Tirto Adhi Soerjo dan Indische Partij mencerminkan kemerdekaan individu dan kelompok. Bebas dari cengkraman pihak lain. Tak ada artefak ketertundukan, kepatuhan, dan kebergantungan. Ingatan terhadap keduanya menyulut perlawanan dan pemberontakan. Tak pernah takut. Meskipun sadar tidak akan pernah menang.


Pemersatu Bangsa

Peristiwa penting berikutnya terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada titimangsa ini para pemuda bertekad untuk mempersatukan segenap penduduk pribumi di kepulauan Nusantara sebagai satu bangsa (Bangsa Indonesia), yang bertanah air satu (Kepulauan Indonesia), dan yang berbahasa satu (Bahasa Indonesia). 

Para pemudalah yang berinisiatif meletakkan dasar-dasar persatuan Indonesia, bukan angkatan tua. Kala peristiwa sejarah itu berlangsung di Jakarta, banyak orang tua, terutama yang bekerja sebagai pejabat di bawah asuhan pemerintah kolonial Hindia Belanda menganggap gerakan mereka sebagai gerakan anak-anak yang tak berarti. 

Sejarah kelak justru memperlihatkan bahwa gerakan mereka sangat berarti dan sangat mempengaruhi perkembangan masyarakat Indonesia. Sebab dengan menyatunya kesadaran berbangsa di kalangan angkatan muda, berbagai kekuatan kebudayaan yang sebelumnya masih terserak di tiap-tiap daerah dan etnik dapat disatukan. Keterpaduan kekuatan itulah yang berfungsi sebagai amunisi dalam mengikis rezim kolonial.


Pergerakan Kemerdekaan Indonesia

Meskipun sejarah lebih banyak memberi ruang bagi nama-nama angkatan tua, atmosfer panas di sekitar revolusi 1945, sejatinya turut diciptakan oleh aktivis-aktivis muda. Dalam Revoloesi Pemoeda (1988), Ben Anderson menegaskan aktivitas angkatan muda, menjadi faktor paling menentukan dalam perjuangan merebut kemerdekaan. 

Dalam masa pergerakan kemerdekaan Indonesia, pemimpin muncul dari kancah pergerakan yang menyulut semangat anak-anak muda terpelajar sejak di bangku kuliah, dipimpin oleh Soekarno, Hatta, Sjahrir, Soekirman, dan lain-lain. Konon Bung Karno Setiap sore dan pagi berdiskusi dengan kaum muda di pinggir atau di belakang Istana Negara. Akrab bercengkrama dan bersama dengan kaum muda berembuk tentang masa depan bangsa. Bung Karno tidak mau berdiskusi di dalam Istana Negara. Beliau senang di luar Istana karena akan lebih mudah akrab dan "bebas" membicarakan persoalan bangsa dengan kaum muda. Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia pasca kemerdekaan, tak luput dari riuh rendah pergerakan angkatan muda. Di sekitar pertengahan dekade 1960-an, kita membaca peran penting mahasiswa. Peran para mahasiswa tersebut bertujuan untuk menegakkan demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Pada tahun 1965 mahasiswa bergandeng tangan dengan tentara menggulingkan Soekarno, meskipun peran gerakan mereka itu akhirnya membantu berdirinya rezim yang berkuasa selama 32 tahun dan berlaku represif terhadap rakyatnya. Meninggalkan kesan pahit. 

Tetapi saat itu ada seorang mahasiswa, satu angkatan dengan Arief Rahman Hakim dan Akbar Tandjung, yang namanya mungkin tidak pernah tercatat dalam sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Tidak seperti Arief Rahman Hakim, tidak pula mencuat menjadi sosok politisi sekaliber Akbar Tandjung. Pemikiran-pemikirannya tentang hak azasi manusia, penolakannya terhadap tirani, kegigihannya menegakkan kebenaran, dan berani mengatakan tidak pada banyak hal yang semestinya dikatakan tidak, menjadi "ruh" bagi pergerakan mahasiswa dekade berikutnya. 

Ia tidak memilih berdiri di atas mimbar atau memimpin aksi-aksi di jalan-jalan selayaknya seorang demonstran, ia lebih memilih menuangkan semua kegelisahannya melalui tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan inilah yang kemudian menjadi "obor" bagi para mahasiswa. Beberapa pemikirannya bertebaran di berbagai media massa pada zamannya. Tulisan-tulisan tersebut sudah dibukukan dan diberi judul "Zaman Peralihan". Begitu juga tesis yang pernah ditulisnya, isinya menyuarakan tentang pergolakan pemikiran mahasiswa pada waktu itu, kini sudah dibukukan dengan judul "Di Bawah Lentera Merah". Sedangkan beberapa pemikiran dan idealismenya yang lain ditulis dalam "Orang-Orang Di Persimpangan". Lelaki ini bukan tokoh heroisme, melainkan sosok yang memberi banyak ruang kesadaran bahwa untuk sebuah kebenaran apapun harus diperjuangkan. Sebab menurutnya, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan." 

Itulah sosok Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia angkatan 66 yang pemikiran-pemikirannya tertuang dalam buku "Catatan Seorang Demonstran". Buku yang diterbitkan ulang oleh LP3ES ini, telah diangkat menjadi film layar lebar "GIE" yang diproduksi Miles Film Presents dengan sutradara Riri Reza dan bintang utama Nicholas Saputra.

Menurut Askur Rivai buku Catatan Seorang Demonstran merupakan buku inspirasi yang sangat kontekstual kehadirannya menjadi mistifikasi bukan saja bagi pergerakan mahasiswa. Tetapi juga bagi semua kalangan muda, kalangan akademisi, dan siapapun mereka yang membacanya. Para mahasiswa selalu merindukan sosok seperti Soe Hok Gie dan buku-bukunya yang sempat lenyap 10 tahun pada masa Orde Baru. Meski gerakan mahasiswa saat ini sudah beberbeda, sosok Soe Hok Gie tetap menjadi "jiwa" bagi setiap aktivis pergerakan mahasiswa. Sebab selain lebih dikenal kuat dengan pemikirannya, Soe Hok Gie, juga "arsitek" long march pergerakan mahasiswa angkatan 66.

Semangat perubahan yang meletup-letup hanya mengalir pada jiwa angkatan muda, yang kreatif, bangga diri, dengan semangat untuk bekerja dan berkarya, serta memiliki keberanian hidup. Bukan pada angkatan tua yang masih sibuk berbangga dengan mentalitas egoistik, mapan, dan korup.

Soe Hok Gie sempat menuliskan hal tersebut dalam catatan hariannya. Bagi satu dari sedikit aktivis muda yang terkenal jujur dan berani ini, angkatan tua dianggap telah mengkhianati amanat kemerdekaan. "Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua...Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia." (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, 1983). (Dewi : 2005).

Seperti Soe Hok Gie, Pramoedya Ananta Toer juga menyatakan bahwa angkatan tua tak ubahnya sebagai biang kerok kehancuran zaman. Kesimpulan tersebut ia cetuskan dengan lugas dalam novel Larasati (2003). "Seluruh kehidupan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi." Karena itu, tak heran jika angkatan tua terutama para pejabat yang memegang tampuk kekuasaan, merasa tak nyaman dengan gerak-gerik para pemuda. Melalui segala cara, baik dengan tindakan represif maupun cara-cara yang jauh lebih keji, mereka berupaya menghambat laju angkatan muda. Bagi mereka kaum muda yang tengah berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan adalah kaum yang hanya sibuk mengurusi hal-hal tak berarti.


(bersambung)



Ditulis oleh Wahyu Barata
dari situs kabarindonesia.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply