» » » Peran Pemuda dalam Mewujudkan Kepemimpinan Profetik

Tri Rismaharini sebagai walikota Surabaya sempat menjadi perhatian publik, khususnya media. Beliau merupakan sosok pemimpin yang ideal, dengan memiliki rasa kecintaan dan kemanusiaan terhadap orang-orang yang lemah, bersikap tegas terhadap siapa saja yang menyimpang, serta hidup dalam kesederhanaan. Oleh sebab itu, dalam menentukan kebijakannya beliau sangat berhati-hati.

Contoh di atas merupakan bentuk adanya spiritualitas dalam memimpin, sehingga akan ada kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya. Spiritualitas dalam diri seorang pemimpin menjadikannya efektivitas terhadap kepemimpinannya, karena di zaman sekarang, jumlah pemimpin semakin banyak, tetapi efektivitasnya dalam memimpin jauh lebih sedikit. Di samping itu, di zaman sekarang juga terjadi kemerosotan moral pada kaum muda, padahal kaum muda merupakan generasi penerus dan pemimpin bangsa, serta agama.

Melihat konteks di atas, kepemimpinan profetik didasarkan pada spiritulitas. Dalam hal ini, penulis akan mencoba menguraikan kepemimpinan profetik dan mengupayakannya dalam menyelamatkan generasi muda, serta mewujudkannya sebagai pemimpin yang memiliki spiritualitas.


Definisi Kepemimpinan Profetik

Istilah profetik berasal dari kata prophet, yang memiliki arti : 1) person sent by God to teach people and give them message (orang yang dikirim oleh Tuhan untuk mengajar orang-orang dan memberi mereka pesan), 2) person who claims to know what will happen in the future (orang yang mengaku tahu apa yang akan terjadi di masa depan). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profetik artinya bersifat kenabian. Istilah profetik pertama kali dipopulerkan oleh Kuntowijoyo, dengan jujur beliau mengatakan bahwa ide tentang istilah profetik terilhami oleh Muhammad Iqbal. Iqbal mendiskripsikan, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW mi’raj, maka Nabi SAW tetap kembali ke bumi menemui masyarakat dan memberdayakannya.  Dengan demikian, kepemimpinan profetik merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan sesuai dengan pola yang diajarkan Nabi (prophet).

Kekuatan kepemimpinan profetik terletak pada kondisi spritualitas pemimpin.  Artinya, seseorang yang memiliki kemampuan kepemimpinan profetik adalah orang yang telah selesai memimpin dirinya, sehingga dapat mempengaruhi orang lain atau memimpin dengan keteladanan (leading by example).


Dimensi Keunggulan Kepemimpinan Profetik

Allah Swt. telah memberikan isyarat dalam al-Qur’an tentang kelebihan dan keunggulan kepemimpinan profetik, salah satunya terdapat pada (Q.S. al-Baqarah [2] : 129) yang berisi tentang permohonan Nabi Ibrahim AS kepada Allah Swt. agar diberikan keturunan yang mampu memimpin orang-orang  beriman. Kemudian pada (Q.S. al-Baqarah [2] : 151) Allah SWT memberikan jawabannya. Selain itu, dalam (Q.S. Ali Imran [3] : 164) berisi tentang kepemimpinan profetik sebagai karunia orang-orang yang beriman, karena kepemimpinan profetik memberikan petunjuk arah dalam menuju kebaikan bersama. 

Dalam ketiga ayat di atas, kepemimpinan profetik memiliki tiga misi utama. Pertama, misi tilawah (membacakan) tanda-tanda pesan (ayat) Allah SWT, baik qauliyah maupun kauniyah. Kedua, misi tazkiyah dalam mensucikan atau menumbuhkan masyarakat. Ketiga, ta’limu al-kitab wa al-hikmah (mengajarkan pengetahuan dan kearifan), ta’lim al-kitab mewakili semua disiplin ilmu yang bersumber dari wahyu (qauliyah), sedangkan ta’limu al-hikmah adalah aktualisasi dari ilmu-ilmu  alam (kauniyah).  

Implemantasi historis dari kepemimpinan profetik yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an (Q.S. Ali Imron [3] : 110), memuat tiga nilai, yaitu humanisasi, liberalisasi, dan transendensi. Tujuan humanisasi adalah memanusiakan manusia. Sedangkan, tujuan dari liberalisasi adalah pembebasan manusia dari jerat-jerat sosial, pembebasan dari kejamnya kemiskinan struktural, keangkuhan teknologi, dan pemerasan kaum bermodal. Disamping itu, transendensi memiliki tujuan mengembalikan kesadaran masyarakat pada kesadaran metafisik, sehingga diharapkan akan mencapai puncak spiritualitas, serta dapat merasakan kehadiran Allah SWT sebagai Sang Pencipta.


Titik Temu Pemuda dan Kepemimpinan Profetik

Peran pemuda sangat penting dalam kehidupan, khususnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda memiliki peran yang strategis yang berada di antara level elite kekuasaan dan level grass root. Pada level elite, pemuda dapat dijadikan mobilisasi untuk memanfaatkan kondisi politik. Sementara, pada level grass root, pemuda sangat mungkin memiliki fungsi dan peran dalam melancarkan aspirasi kalangan bawah terhadap berbagai persoalan sosial yang hanya mampu diaktualisasikan oleh pemuda melalui ide dan gagasannya. 

Peran yang dimiliki pemuda menjadikannya sebagai batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik. Pemuda sebagai calon pemimpin di masa depan harus mempersiapkan dirinya dari sekarang. Apalagi kehidupan yang semakin modern, maka proses belajar dan pencarian jati diri seorang pemuda harus lebih optimal. Oleh sebab itu, agama sebagai pegangan hidup pemuda harus diaplikasikan dengan baik, sesuai dengan perintah Allah Swt. dan Nabi SAW.

Kedekatan pemuda terhadap agama merupakan kunci utama dalam menentukan masa depannya, dimana agama dapat mempengaruhi hati dan jiwa pemuda. Kepemimpinan pemuda dengan didasarkan pada agama juga akan menumbuhkan sikap yang baik dalam memimpin, sehingga akan terwujudnya kehidupan masyarakat yang sejahterah. Hal ini bisa dikatakan sebagai kepemimpinan pemuda secara profetik, dimana pola kepemimpinannya mencontoh dari apa yang diajarkan Nabi SAW.

Nabi SAW memiliki sifat utama yang dapat dijadikan teladan dalam memimpin, khususnya pemuda dalam mempersiapkan kepemimpinannya di masa depan. Pertama, shiddiq, yang berarti konsisten pada kebenaran, baik ucapan maupun perbuatan, atau memimpin dengan conscience centered (berpedoman pada nurani dan kebenaran). Kedua, amanah, yang berarti kejujuran, memiliki integritas moral, serta komitmen pada tugas dan kewajiban, atau highly commited (profesional dan komitmen). Ketiga, tabligh, yaitu memiliki kemampuan mobilitas fisik dan kepedulian pada setiap kondisi dan perubahan, atau communication skill (keterampilan komunikasi). Keempat, fathanah, yaitu kecerdasan dalam daya nalar, kesanggupan menghadapi realita yang terjadi, atau problem solver (kemampuan memecahkan masalah). 


Penutup

Kepemimpinan profetik bukanlah kemustahilan, baik di masa sekarang maupun yang akan datang. Masih ada kesempatan dan peluang untuk mewujudkannya, karena Nabi SAW telah memberikan teladan bagi setiap umat disetiap masa, serta kehadiran kepemimpinan profetik juga diharapkan oleh masyarakat luas. Selain itu, perbaikan pemuda ke arah yang lebih baik juga menjadi solusi dalam menerapkan kepemimpinan profetik, karena pemuda akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang.


Ditulis oleh: Ahmad Zaki Muntafi
Sumber: mahasiswanews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply