» » » Pemuda, Pendidikan Karakter dan Globalisasi

Gambar: nadiramadhi.blogspot.co.id
“Ask not what your country can do for you. But ask what you can do for your country.” - Jhon F. Kennedy

Mempelajari sejarah di banyak negara di dunia, maka kita akan banyak menemukan fakta bahwa pemuda adalah elemen utama yang melahirkan momen-momen penting dalam sejarah peradaban manusia dari masa yang lampau hingga ke masa yang kini. Hasan Al-Banna pernah mengatakan bahwa dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun, maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya.

Ini menarik. Kita tau bahwa revolusi kemerdekaan Amerika Serikat digerakkan oleh pemuda. Sejarah mereka mencatat bagaimana pondasi negara adidaya itu dibangun oleh pemuda seperti Benjamin Franklin, George Washington, John Adams, Thomas Jefferson, John Jay, James Madison, Alexander Hamilton, dan lainnya. Hal ini ditandai dengan gerakan perlawanan dan upaya mereka membangun sebuah bangsa dan negara baru di paruh kedua abad-18, telah menginspirasi kehadiran gerakan serupa di Eropa. 

Kita juga tau dalam sejarah Turki, betapa Muhammad II Al Fatih masih terbilang muda ketika berhasil memperbesar pengaruh Turki Utsmaniah di abad ke-15. Dengan piawai ia menata Turki yang ketika itu adalah kekuatan adidaya tak tertandingi. Ia baru berusia 21 tahun ketika bersama pasukannya tiba di Konstantinopel (Istanbul sekarang) dan merebutnya dengan bijaksana, yang kini dikenal dengan nama Istanbul.

Bangsa Indonesia juga memiliki catatan sejarah yang kurang lebih sama, terkait dengan pemuda yang tercatat dalam sejarah perjuangannya menjadi sebuah Negara merdeka. Mereka selalu ambil bagian dalam setiap perubahan jaman dan pergeseran sejarah. Kita bisa melihat ketika pada tanggal 28 Oktober 1928 terlaksana kongres pemuda yang menjadi pemicu lahirnya “Sumpah Pemuda”. Jauh sebelum tahun itu, pergerakan pemuda seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, dan organisasi pemuda daerah lainnya pun telah menggebu-gebu bergerak yang menandakan adanya pergolakan dan pergerakan pemuda pada saat itu.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pun terjadi dengan keterlibatan dan peran pemuda yang sangat aktif dan dinamis. Kita tahu bahwa pemuda seperti Chairil Saleh, Yusuf, dan Wikana yang menjadi aktor ketika itu, terutama dalam mendukung terlaksananya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Peristiwa tentang rubuhnya rezim Orde Lama pada tahun 1966, juga melibatkan entitas sosial yang bernama pemuda. Dan peristiwa reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998, unsur terbanyak yang bergerak dalam melawan ketidakadilan adalah mahasiswa, yang dalam hal ini mewakili kalangan pemuda. 

Kita semua mahfum bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya dan masa depan bangsa berada di tangan generasi muda. Disinilah terlihat keterkaitan peran pemuda dalam pendidikan. Oleh karena itu masalah pendidikan nasional harus menjadi prioritas dalam pembangunan bangsa, dan penitikberatan fokus dan perhatian akan pelibatan kaum muda, menjadi hal yang krusial dalam proses kemajuan bangsa.

Pentingnya pendidikan yang maju bagi generasi muda, karena mereka merupakan pondasi bangsa dan sebagai agent of change yang diharapkan mampu tampil untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang telah dirintis oleh founding fathers, termasuk dalam memajukan pendidikan nasional. Peran pemuda sangat besar sejak zaman pergerakan nasional Indonesia, dan dalam perjuangannya, banyak dilakukan melalui pendidikan bangsa. Tengoklah misalnya perjuangan Budi Oetomo, Taman Siswa dan lainnya. Para Founding Fathers pun banyak melakukan kegiatan yang terkait dengan pendidikan bangsa, misalnya Soekarno yang tidak henti-hentinya mendidik bangsa, terutama untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa, semangat nasionalisme dengan pendidikan politik dan yang juga dikenal dengan nation and character building.

Harus dipahami bersama bahwa proses pendidikan bukan semata-mata menekankan pada aspek akademis, kecerdasan otak atau intelegensia saja. Namun, harus mencakup kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Bagi bangsa Indonesia, sedang dikembangkan pola pendidikan yang menitikberatkan pada pengembangan kepribadian yang berciri kebangsaan, yaitu pendidikan karakter yang bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah, yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang,sesuai standar kompetensi lulusan.

Melalui pendidikan karakter diharapkan, pemuda mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji, dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Berdasarkan grand design pendidikan nasional, pendidikan karakter adalah melakukan konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial kultural yang dikelompokan dalam olah hati (Spiritual and emotional development), olah pikir (intellectualdevelopment), olah raga dan kinestetik (Physical and kinestetic development), serta olah rasa dan karsa (Affective and Creativity development). Pendidikan karakter memang diperlukan untuk memperbaiki krisis karakter yang sedang dialami oleh para pemuda pada saat ini.

Menurut Mochtar Buhori, pendidikan karakter seharusnya membawa seseorang ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secaraafektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Dengan pendidikan karakter seorang pemuda semestinya akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan pemuda menyongsong masa depannya, karena dengan itu, seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik maupun non akademik. 

Hal ini dikuatkan dengan pandangan Daniel Goleman, bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ) dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Seseorang yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, bergaul, dan tidak dapat mengontrol emosinya. Sebaliknya para pemuda yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh pemuda lainnya seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Pendidikan karakter sebetulnya sudah lama digagas dan diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah, khususnya dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan sebagainya. Namun implementasi pendidikan karakter itu masih terseok-seok dan belum optimal. Itu karena pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghapal materi soal ujian berikut teknik-teknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria, malu berbuat curang, malu bersikap malas, malu membiarkan lingkungannya kotor, dan sebagainya. Karakter manusia tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal. 


KNPI SEMARANG - Pentingnya pendidikan karakter untuk pemuda dikuatkan dengan kenyataan bahwa pemuda- pemuda hari ini banyak yang mengalami krisis karakter. Tawuran antar pelajar atau antar mahasiswa, meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkoba, maraknya pergaulan bebas, dan lain-lain, merupakan bukti nyata ambiguitas peran pendidikan nasional yang tidak memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran mereka. Belum lagi banyak sekali pemuda saat ini yang terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme dan semacamnya,yang semuanya mengarah pada sikap “anti sosial”, dan mungkin saja ini karena ketidaksiapan karakter pemuda dalam menghadapi era globalisasi.

Dalam zaman yang terus menerus bergerak ke arah globalisasi yang semakin meluas keseluruh pelosok dunia, ilmu pengetahuan merupakan senjata terbaik yang bisa digunakan untuk berkompetisi secara sehat dengan bangsa lain. Ini perlu agar kita mampu bertahan dalam era yang hampir tidak lagi memiliki batasan-batasan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain. Dan untuk menguasai ilmu pengetahuan yang menjadi bekal untuk“bertempur” di era globalisasi, hanya akan bisa direngkuh dengan program pendidikan nasional yang kuat, yang memang tepat sasaran dalam membangun sumber daya manusia yang memiliki daya saing.

Pemuda adalah generasi penerus, calon pemimpin negara dan bangsa masa depan. Tanpa karakter yang kuat di antara para pemuda, maka negeri ini akan memiliki resiko yang besar di masa yang akan datang. Kita dapat melihat bahwa pergaulan dunia yang semakin tak memiliki batas, seperti ekonomi global di mana konsumen dan produsen (coorporations) tak mengenal batas-batas wilayah negara. Setiap konsumen hanya mau membeli barang dan jasa dengan kualitas terbaik dan harga termurah dari manapun asalnya atau siapapun pembuatnya. 

Oleh karena itu perlu dibangun karakter atau watak yang kuat di kalangan pemuda sebagai jaminan masa depan bangsa dan negara kita, Indonesia Raya.

Sumber: linkedin.com (hasreiza)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply