» » » Mencari Pemuda "Kuadran I"


Sang Proklamator dalam semangatnya pernah berucap "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia". Ungkapan yang tidak main-main, 1.000 orang tua dibandingkan dengan 10 pemuda, dan dampaknya juga antara semeru dan dunia. Sebuah perbandingan yang tidak sepadan. Tapi Sang Proklamator menjadikannya lebih dari kata sepadan. 10 pemuda yang niscaya bisa menguncang dunia dengan 1.000 orang tua yang mencabut semeru dari akarnya.

Sepuluh pemuda yang diminta oleh Sang Proklamator bukanlah pemuda biasa, apalagi pemuda yang hanya berpangku tangan tanpa inovasi, tanpa mimpi dan tanpa dedikasi. Tentu saja pemuda-pemuda yang diminta Bung Karno adalah pemuda yang sangat luar biasa dan tidak mudah ditemukan. Tapi mereka pasti ada di sela-sela kelelahan negeri ini.

Tulisan ini mencoba untuk mengenali 10 pemuda yang diminta oleh Presiden Pertama RI. Dari sekian banyak karakter yang mungkin dimiliki oleh para pemuda tapi dalam tulisan ini hanya membatasi pada empat karakter yang menurut hemat penulis merupakan hal yang penting. Keempat karakter itu adalah Jujur, dusta, cakap dan gagap. Seperti yang terlihat pada gambar 1, keempat karakter itu berada pada sumbu koordinat yang berbeda, dan terbagi dalam empat kuadran (berlawanan dengan arah jarum jam) yaitu kuadran I, kuadran II, kuadran III dan kuadran IV. Setiap kuadran itu memberikan karakter pemuda yang berbeda, dan sangat tergantung pada pasangan sumbu koordinatnya.

Kenapa karakter "jujur" pada posisi paling atas? karaktur jujur adalah karakter paripurna yang harus dimiliki oleh seorang anak adam. Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, danpekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. Dalam sebuah sabda, Rasulullah SAW menerangkan ciri-ciri orang munafik. Orang munafik itu; (1) Apabila berkata maka dia akan berkata bohong/dusta, (2) Jika membuat suatu janji atau kesepakatan dia akan mengingkari janjinya, (3) Bila diberi kepercayaan/amanat maka dia akan mengkhianatinya. Karakter jujur berada pada posisi pertama, yang artinya karakter ini menjadi utama bagi seseorang. Sehingga yang bersangkutan tidak dilabelkan sebagai seorang yang munafik. Lawan jujur adalah dusta. Seorang pendusta tentu akan memberikan kerugian bagi dirinya dan juga bagi orang lain.

Posisi paling kanan adalah "cakap". Dalam kamus besar bahasan Indonesia menjelaskan kata cakap dengan definisi mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk mengerjakan sesuatu. Seorang pemuda yang mampu menguncang dunia adalah pemuda yang memiliki kecakapan dan mumpuni di bidangnya. Lawan dari cakap adalah gagap. Kita sering mendengat istilah "gaptek" yang ditujukan kepada orang-orang yang tidak memiliki kemampuan menggunakan sebuah perangkat teknologi tertentu. Seorang pemuda yang gagap akan tergilas dengan perputaran zaman dan susah beradaptasi dengan perkembangan zaman yang sangat cepat berubah dan berkembang.


Kuadran karakter

Kuadran karakter seperti ditampilkan pada gambar 1 di atas menjelaskan tentang empat golongan pemuda. Kuadran pertama adalah pemuda yang memiliki sikap jujur dan cakap. Seorang pemuda yang memiliki karakter pada kuadran pertama tentu tidak mudah ditemukan. Sang pemuda kuadran I tidak akan terbentuk secara sim salabin abra kadabra, dia akan terbentuk dalam sebuah proses yang panjang dan terarah. Seperti halnya emas yang berada dalam bongkahan-bongkahan batu, dibutuhkan proses yang panjang untuk mendapat sang emas. Pemuda yang memiliki kejujuran (honestly) dan kecakapan (proficiency) adalah pemuda yang memiliki kekuatan melebihi kekuatan para orang tua. Sehingga tidak salah jika Sang Proklamator dengan yakinnya jika ada 10 pemuda seperti ini diberikan padanya maka dunia bisa diguncangkan.

Kuadran kedua adalah pemuda yang jujur tapi gagap. Profil pemuda seperti ini sulit untuk melakukan sebuah perubahan. Dia butuh waktu untuk memahami masalah yang ada meskipun sudah memiliki modal kejujuran. Seseorang yang jujur tapi gagap lebih kurang sama halnya seperti orang yang baik tapi lemah. Pemuda pada kuadran kedua tidak akan membuat kerugian bangsa, akan tetapi rentan untuk dipermainkan oleh mereka yang cakap.

Kuadran ketiga adalah pemuda gagap dan dusta. Pemuda seperti ini cenderung berbahaya karena memilik sifat dasar sebagai pendusta. Sifat seorang pendusta adalah sifat yang tidak bisa diterima dalam ajaran agama manapun. Bahkan dalam hubungan bermasyarat, seorang pendusta akan dijauhi karena cenderung merugikan. Akan tetapi pemuda kuadran III tidak lebih parah dibanding pemuda kuadran IV. Pemuda yang cakap dan dusta. Dia memiliki kemampuan yang diatas rata-rata dan punya inovasi yang bagus, tetapi semua itu terbalut dalam kelihaian melakukan manipulasi. Profil pemuda kuadran IV lebih kurang seperti halnya orang yang kuat tapi jahat. Dia bisa saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Di mana mencari pemuda kuadran I?

Pemuda kuadran I tidak akan terbentuk dengan instan. Profil pemuda seperti butuh proses, bahkan harus dipersiapkan jauh hari sebelum dia dilahirkan. Seorang Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang jujur, adil serta memiliki kecapaan sebagai seorang pemimpin. Begitu juga seorang Muhammad Al Fatih yang terkenal dengan panglima perang jujur, gagah dan cakap dalam memimpin pasukan saat manaklukan Konstatinopel. Profil kedua pemuda itu lahir dari seorang ibu yang jujur dan menjaga kehormatannya. Mereka juga dididik dalam keluarga yang mengedepankan prinsip jujur dan daya nalar serta logika yang mumpuni.

Jika kita kembali dalam konteks Indonesia. Saat 88 tahun hari Sumpah Pemuda kita peringati, menjadi pertanyaan kepada kita para pemuda. Apakah kita sudah menjadi bagian dari 10 pemuda yang diminta oleh Sang Proklamator Bangsa? Apakah kita layak sebagai seorang pemuda yang suatu saat nanti akan menerima estafet kepemimpinan bangsa? Jika kita melihat kembali pemuda kuadran I "Jujur dan Cakap" apakah itu sudah terpatri dalam diri kita?

Atau jangan-jangan kita terlena dalam kemunafikan yang terbalut rapi dalam kecapakan. Sehingga tanpa sadar kita sudah berada pada kuadran IV.



Sumber: Kompasiana Zulfakriza Zulhan

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply