» » » Persatuan Pemuda


Oleh
Choirul Awaludin, S.SosI
Ketua DPD KNPI Kota Semarang

Indonesia merupakan Negara yang memiliki keragaman suku dan budaya. Perkembangan budaya dalam proses perkembangan keragaman suku dalam konteks kekinian memunculkan “etnis” sebagai istilah baru dalam hal-ihwal kesukuan di Indonesia. Kita perhatikan masih banyaknya kalangan awam menyebut "masalah Cina" yang diartikan dengan istilah masalah "pembauran" terkait dengan keberadaan atau masuknya etnis "orang asing" yang bukan bagian dari "kita" ke dalam kelompok "kita". 

Pengembangan kajian akademis ini menunjukkan perkembangan bangsa ini dalam hal wawasan intelektual sehingga dimunculkan ukuran hubungan antara "orang asing" dan "kita". Pengembangan kajian tersebut merujuk pada seberapa jauh "orang asing" itu dapat menyesuaikan diri dengan "kita". Tuntutan seperti ini kuat sekali pada kelompok yang "kekitaan"-nya sangat kental dan terpelihara. "Kekitaan" ini tidak hanya terkait dengan masalah etnis, agama, atau kebudayaan, tetapi juga merambah dengan berbagai motif, diantaranya ekonomi dan politik.

Kilas balik sejarah 1928 sebuah masa dimana tekad perjuangan golongan muda mampu menjadi tonggak berdirinya sebuah bangsa. Berawal dari Sumpah Pemuda perjuangan mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia terkabulkan. Persatuan pemuda adalah tonggak sejarah bangsa, persatuan yang melahirkan “kekitaan” dari berbagai suku dan etnis merupakan identitas "kekitaan" nasional (Indonesia). Sebuah proses panjang dalam upaya mengatasi "kekitaan" kelompok-kelompok (etnis, suku, ras, agama, budaya, dan sebagainya). Membincang "kekitaan" nasional ini memang sangat menarik di Negara yang dikenal dengan pluralismenya. Kontestasi global dan kemampuan menghadapi persoalan yang merusak “kekitaan” itu sendiri perlu disikapi dengan serius. “Kekitaan” nasionalisme perlu dibangun di atas "kekitaan" kelompok agar akhirnya "kekitaan" nasional lebih besar dan kuat daripada "kekitaan" kelompok. Kita pahami proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang serta perlu dilakukan secara konsisten dan terus-menerus di semua elemen pembentuk Negara ini.

Kilas balik sejarah reformasi Presiden Abdurrahman Wachid dengan tegas mengakui etnis Tionghoa sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan memberikan kebebasan dalam menyemarakkan keragaman budaya. Sambutan persaudaraan ini ternyata masih menyisakan diskriminasi yang salahsatunya tampak dalam kontestasi politik pemilihan gubernur Jakarta. Sebuah fenomena yang tampak dari penanaman paradigma lama yang mengganjal proses pembauran itu sendiri.

Penggalan kalimat yang sering diucap-dengarkan “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Akankah jas merah hanya sebatas kalimat pemanis tanpa pernah menjadi sebuah pemantik kreatifitas dan gerakan?. Persatuan pemuda dalam catatan sejarah mendasari terbentuknya berbagai perhimpunan nasional sehingga melahirkan semangat juang menuju kemerdekaan. Persatuan pemuda dalam bingkai sejarah mampu menghasilkan perubahan dalam pentas perpolitikan nasional. Reformasi menggaungkan berbagai wacana perubahan. Pasca reformasi persatuan pemuda perlu kembali diluruskan kemana arahnya bermuara. Persatuan pemuda perlu kembali dikumandangkan dalam bentuk bersatu-sinerginya berbagai elemen kepemudaan dalam satu jiwa dan satu tumpah darahnya untuk memajukan dan memakmurkan nusantara ini. Dengan demikian kemakmuran bangsa Indonesia adalah pelambang bagi slogan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.

Pemuda bersatu, demi kemandirian bangsa

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply