» » » Mendidik Kaum Terdidi

Oleh : A. Rifqi Hidayat

Mendung hitam kian menyelimuti dunia pendidikan Indonesia. Lembaga Pendidikan yang diasumsikaan sebagai sebuah tempat untuk memproses manusia menjadi lebih bermartabat justru banyak dihebohkan dengan kasus-kasus yang mencederai institusi pendidikan itu sendiri. Baik yang terekspos media massa maupun yang hanya sebatas tersingkap pada jejaring social (media massa on line tak resmi). Pada posisi demikian ini para pendidik akan dirundung dilema berkepanjangan.

Masyarakat selama ini memiliki pandangan dengan adanya pendidikan, maka usaha pencapaian taraf hidup yang sejahtera mudah tercipta. Masyarakat juga berasumsi dengan semakin tinggi pendidikan kian tertata pula pranata sosialnya. Sebuah sudut pandang yang romantic. 

Romantika pendidikan

Masyarakat yang kurang atau tidak menyadari bahwasanya pendidikan membutuhkan kerjasama dengan semua pihak. Tidak secara serta merta berhasil dengan sendirinya seiring naiknya jenjang pendidikan. Sudut pandang masyarakat yang demikian romatis ini menghasilkan tatanan masyarakrat yang tidak kritis memperhatikan perkembangan zaman dan kondisi yang ada. Kita sadari romantika ini muncul karena buaian kemapanan yang seolah dijanjikan melalui institusi pendidikan, dan kita sadari pula bahwa kemapanan itu membunuh kesadaran kritis manusia. Proses pendidikan membutuhkan keluarga dan lingkungan yang mendidik. Produk pendidikan juga harus memberikan dampak yang mendidik masyarakat.

Selanjutnya, perlu kita sadari bahwa faktor yang sangat berpengaruh dalam kurikulum pendidikan adalah faktor politik. Sehingga kurikulum dan aturan-aturan yang mengatur pendidikan menjadi agenda rutin dalam pergantian kabinet. Disaat ada pemberlakuan aturan sertifikasi guru dan dosen para pendidik menjadi lebih disibukkan oleh persoalan administrasi. Hal ini mengakibatkan tugas utamanya untuk mengajar menjadi sedikit banyak terbengkalai. Terlebih bagi mereka yang masih belum menguasai atau bahkan tidak bisa sama sekali menggunakan perangkat teknologi. Pada sisi lain undang-undang perlindungan anak memunculkan fenomena gagal paham yang berimbas pada adanya “kebablasan” implementasi. Ruang gerak lembaga pendidikan menjadi terkurung oleh ketakutan psikologis. Meski sempat memunculkan inovasi-inovasi dalam metode pendidikan namun secara praksis masih mengalami berbagai kendala.

Paulo Freire memandang pendidikan adalah sebagai alat melawan penindasan. Pendidikan pembebasan. Pendidikan yang memanusiakan. Yaitu sebuah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Sebuah kesadaran yang ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pada tingkat inilah muncul kesadaran tentang sebab-akibat. Dengan demikian kurikulum yang diharapkan oleh Freire adalah kurikulum pendidikan untuk percaya pada kemampuan pribadi (self affirmation) yang pada akhirnya menghasilkan kemerdekaan diri. Pola tersebut yang mengantarkan Freire dikenal dengan pendidikan penyadaran dan pendidikan dengan pengajuan masalah, sebuah gagasan yang berasal dari kritikannya terhadap dampak yang ditimbulkan pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas. Pendidikan kampanye dialogis yang memanusiakan secara terus-menerus. Pendidikan yang berujung proses tukar-pikiran dan saling mendapatkan ilmu. Mencermatil pola pikir tersebut sebagai bagian pengamalan dari sila keadilan social bagi seluruh rakyat indonesa.

Pendidikan Freire sebagaimana yang diharapkan oleh Ki hajar Dewantara dengan konsep “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani” dimana seorang yang berpendidikan harus selayaknya menunjukkan perilaku yang pantas diteladani. Dalam pergaulannya luwes, mampu menumbuh-kembangkan minat dan kreatifitas berkarya sebagai bentuk pengabdian pada nusa dan bangsa. Dan memberikan kebebasan dan kesempatan berkembang yang sesuai dengan kodrat kemanusiaannya.

Paradigma pendidikan ala Freire saat ditransformasikan kedalam pendidikan di Indonesia tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini bisa dikarenakan Ki Hajar Dewantara berada pada era yang lebih dahulu. Dengan demikian keduanya kurang lebih pada kecenderungan yang sama, sedikit banyak terpengaruh oleh J.J Rousseau. Secara implementatif keduanya bermuara pada kurikulum yang berkarakter membangkitkan masyarakat. Baik secara ideology kenegaraan maupun secara ekonomi. Pendidikan yang mengukuhkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Pendidikan yang menumbuhkan kreatifitas dan membangkitkan perekonomian bangsa Indonesia.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply