» » » Kolonel Zainul Bahar “Usaha Pantang Menyerah Untuk Menjadi Seorang Tentara”

Sekuat apakah para putra bangsa ini bercita-cita menjadi tentara di masa perang maupun damai? Sebuah pertanyaan yang sangat penting dan demikian relevan diajukan. Mengingat perlunya kita pelajari secara lebih lanjut tentang sejarah Indonesia ataupun sejarah perang itu sendiri secara luas. Dalam sejarahnya kita pahami bahwasanya peperangan telah mengalami evolusi. Khususnya dalam penggunaan senjata dan teknologi sebagai alat peperangan. Dalam hal ini hukum perang (yang sekarang ini diperhalus redaksinya dengan istilah hukum humaniter) itu sendiri selalu mengalami adaptasi. Seolah tak mau kalah strategi perang juga seolah selalu berada satu dan atau bahkan beberapa langkah  lebih maju. Demi ambisi dan kekuasaan, sipil kerap menjadi soft target (sebuah eufemisme dari sebuah fenomena tameng hidup dan target lunak dalam perang adu senjata modern) kini semakin menjadi perhatian dunia. Banyak tokoh filsafat dan agama yang berusaha melakukan upaya perlindungan terhadap korban perang merupakan sebuah sinyal bahwasanya setiap manusia sesungguhnya menginginkan hidup berdampingan secara damai apapun perbedaan yang ada.

Dunia, pasca perang dunia kedua peperangan Negara vis a vis Negara sudah mulai dihindari. Sebagai gantinya ekonomi, politik, social dan budaya menjadi perang dan penjajahan gaya baru. Menyadari evolusi tersebut perlu generasi kini menghadirkan Kolonel Zainul Bahar sebagai pemantik semangat nasionalisme yang meredup dan tenggelam oleh ragam isu yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republic Indonesia.

Dengan demikian layak untuk bertanya lebih jauh pentingnya menjadi seorang tentara. Menjawab hal-hal tersebut Generasi menampilkan profil Kolonel Zainul Bahar. Pernah bertugas di medan konflik dalam kurun waktu 10 tahun di Aceh pria yang saat ini menjabat Komandan Kodim 0733 BS / Kota Semarang memaparkan tekadnya menjadi seorang prajurit. Lebih dari 3 kali mendaftar sebagai calon anggota tentara adalah wujud dari tekad kuatnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Mengawali perbincangan dengan kalimat “Daftar jadi tentara itu gratis kok”. Sebuah ungkapan dilanjutkan dengan penjelasan tentang perang modern “Perang modern dapat terjadi dengan tanpa ekspansi personil militer dengan berbagai senjata yang mematikan, namun mampu menyerang segala aspek kehidupan Negara. Ideologi, politik, ekonomi, social dan budaya.” Lebih lanjut ia menjelaskan tentang kondisi bangsa pada era modern ini “Banyak persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini utamanya dalam pendidikan. Banyak sekali orang tua bangga memiliki anak yang pandai dan menguasai iptek dan bahasa asing tanpa mengindahkan atau memperhatikan aspek budi pekerti sebagai karakter bangsa timur dan juga aspek penguasaan bahasa lokal sebagai aspek menjaga tradisi yang ada”. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjaga etika bangsa dijelaskan dalam persoalan napza dengan sorotan kondisi generasi bangsa yang rusak oleh narkoba. Miras, narkoba dan free sex seolah menjadi ten tersendiri bagi generasi muda. Dijelaskan oleh komandan bahwa hal ini merupakan salah satu jenis perang pada era modern dimana Negara diserang dengan budaya dan perusakan mental generasi muda. Mengamati kondisi tersebut ia berharap agar semua elemen pembentuk bangsa ini focus pada persoalan yang demikian ini. Melalui organisasi massa, organisasi kepemudaan dapat terjalin komunikasi dan kerjasama untuk mengentaskan persoalan yang mengganggu stabilitas nasional ini.

Bagi pria yang pernah nyantri di jawa timur ini pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan yang sangat perlu diperhatikan sebagai landasan utama lembaga pendidikan dalam proses penyelenggraan pendidikan di Indonesia. “Character building diwujudkan dengan upaya memberikan proses pendidikan yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan pelestarian khazanah budaya bangsa adalah pendidikan yang cocok dan khas Indonesia” terangnya.

Lain dari itu Zainul Bahar menyatakan pentingnya pemahaman tentang wawasan kebangsaan. “Berbagai persoalan kebangsaan yang kita hadapi saat ini dapat diketahui dengan memahami wawasan kebangsaan tak hanya sebatas tektual memahami territorial dan khazanah budaya saja, namun dikaji secara menyeluruh berikut system penjagaan atas territorial dan khazanah budaya bangsa sehingga berbagai macam gangguan yang berujung pada ancaman instabilitas politik, ekonomi, social pertahanan dan keamanan tidak mengakibatkan disintegrasi bangsa. Negara Kesatuan Republik Indonesia membutuhkan generasi penerus perjuangan kemerdekaan di berbagai sector. Utamanya pada sector keamanan”. Pungkasnya mantab.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply