» » » Noktah Merah Sejarah

Oleh : A. Rifqi Hidayat

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Pemahaman yang demikian ini biasa kita tarik dari pidato Bung Karno yang dikenal dengan jas merah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Berpijak dari ungkapan tersebut perlu kita belajar dan lebih cermat dalam membaca sejarah. Membaca sejarah Negara sama halnya membaca sebuah realitas politik sebuah bangsa. Sejarah yang ada tak hanya sarat akan perjuangan namun perlu juga diperhatikan adanya realitas lain dibalik sejarah. Kesadaran akan hal tersebut akan sedikit mengungkap realitas politik yang terjadi pada saat sejarah itu dirumuskan.

Tokoh dan Pencitraan

Dalam sejarah yang diajarkan selama ini Soeharto bereaksi dengan cepat dan muncul sebagai pahlawan pada peristiwa tahun 1966 sehingga kontestasi politik ini selanjutnya mampu mengantarkannya pada pemegang tapuk pimpinan tertinggi di Indonesia. Setealah lama berkuasa ketidakstabilan politik kembali muncul pada 1998. Pecahnya kekuatan politik Soeharto membawa Negara pada era reformasi. Selanjutnya arus politik pasca reformasi membawa banyak kalangan mengkaji ulang sejarah tersebut, hingga kini banyak upaya dilakukan dalam upaya mewujudkan rekonsiliasi sejarah.

Perlu disadari bersama dengan melepaskan berbagai persoalan terkait pro-kontra maupun dosa politik yang pernah ada pada masanya, nama Soekarno dan Soeharto adalah sosok yang hingga saat ini masih melekat di hati rakyat. Nama besarnya tak tergerus oleh derasnya arus reformasi. Dalam periode 2 tahun terakhir ini kembali marak kalangan muda Indonesia yang menilasi peristiwa sejarah yang terjadi pada 30 September 1966 atau lebih kita kenal dengan istilah Pemberontakan G 30 S PKI. Euphoria ini tidak lepas dari budaya kritis para aktifis. Kita pahami bersama bahwasanya pengembangan keilmuan dalam forum-forum diskusi skala kecil yang secara rutin dilaksanakan merupakan budaya kaum intellectual organic (istilah yang dipergunakan oleh Antonio Gramsci untuk menyebut para golongan terdidik yang terstruktur dalam wadah organisasi) sehingga mampu membaca fakta dibalik perumusan sejarah dengan narasi politik kekuasaan. Bukan pada aspek heroik sebagaimana yang diajarkan semasa orde baru berlangsung.

Pelaku politik dalam catatan sejarah terkadang melakukan tindakan yang mendahulukan emosi ketimbang berpikir rasional. Berpolitik tak sebatas mempertahankan dominasi dan kekuasaan. Namun juga perlu dikedepankan politik yang bermoral sehingga kehidupan politik lebih bermartabat sebagaimana Franz Magnis Suseno berpendapat bahwasanya dalam berpolitik semua elemen yang ada diharapkan memegang etika politik dengan kuat sebagai pedoman pergerakan agar mampu menciptakan suasana harmonis antara pemimpin dan para elit politik untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan dalam sebuah Negara. Kekuasaan harus dipandang sebagai wadah untuk memenuhi dan menciptakan ketentraman, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat.

Pemikiran senada diagresikan pula oleh Abdurrahman Wachid (Gus Dur) yang mendasarkan asas kemanfaatan sebagai yang paling mendasar dari politik, yakni kesejahteraan manusia. Pandangan politik dan penjiwaannya banyak diambil dari sumber-sumber keislaman. Gus Dur tidak memisahkan islam dari politik meskipun politik tersebut tidak harus berbentuk Negara Islam. Lebih dari itu ia menegaskan dalam konteks Indonesia islam tidak boleh menjadi agama negara.

Dalam konteks politik di Indonesia, sejarah menjadi sebuah medium tarik-ulur kepentingan tersendiri. Mencoba menarik sejarah lebih ke belakang tentang nusantara ini, pada era kerajaan juga mengeksploitasi sastra sebagai sebuah legitimasi akan sebuah kekuasaan. Sastra Jawa yang kita kenal sebagai khasanah pemikiran yang berkembang, rupanya memiliki akar kekuatan politik dan khasanah yang luas atas sejarah perkembangan Jawa. Keberadaan serat-serat Jawa kuno merupakan representasi dari rezim yang berlaku di tanah Jawa pada zaman itu. Sastra hadir sebagai sebuah kesenian sekaligus sebagai alat legitimasi atas pengukuhan identitas Jawa. Hal tersebut kita dapati pada hampir seluruh kejadian di Jawa pada saat itu senantiasa diceritakan lewat karya sastra. Manifestasi cerita-cerita itu berupa tembang, mantra, suluk dan lain sebagainya. Seperti kebanyakan munculnya karya sastra yang lain, sastra Jawa timbul berawal dari sebuah perlawanan atas ketimpangan sosio-politik. Tidak sedikit pula sastra Jawa yang muncul mengiringi untuk memperkuat sistem pemerintahan yang berkuasa pada saat itu. Sastra di tanah jawa pada saat itu hadir sebagai respon politik pro-kontra.

Pemuda Dalam Sejarah

Gerakan pemuda dalam hal ini banyak dilatari dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Dalam sejarah demokrasi mahasiswa selalu berperan serta dan bahkan tampil sebagai pelopor, penggerak, lebih dari itu turut serta menjadi pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Demokratis, kritis dalam mendekonstruksi, untuk kemudian mengkonstrusikan kembali menjadi image yang lekat dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri.

Tidak dapat dipungkiri bila generasi muda khususnya para mahasiswa, selalu dihadapkan pada permasalahan global. Setiap ada perubahan, mahasiswa selalu tampil sebagai kekuatan pelopor, kekuatan moral dan kekuatan pendobrak untuk melahirkan perubahan. Oleh karena itu kiranya sudah cukup mendesak untuk segera dilakukan penataan seputar kehidupan mahasiswa tersebut.

Mahasiswa sudah telanjur dikenal masyarakat sebagai agent of change, agent of modernization, atau agen-agen yang lain. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan gelar yang disandangnya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, dengan mencoba menelusuri permasalahan sampai ke akar-akarnya. Upaya melakukan rekonsiliasi sejarah 1966 harus cermat, sehingga tak sebatas bereaksi yang berujung pada memperlebar noktah merah dalam sejarah. Kesadaran akan komunis berbeda dengan atheis juga perlu diimbangi dengan kesadaran akan penokohan yang dimunculkan pada saat itu. Komunis Indonesia berjalan tanpa mencitrakan Marx sebagai sang ideolog merupakan suatu yang perlu dipertanyakan pula. Kesadaran lain yang perlu dibangun adalah kondisi ketegangan politik pada saat itu. Bukan sebatas menyoal literal teks dan teori semata.

Dengan adanya sikap kritis dalam diri mahasiswa diharapkan akan timbul sikap korektif terhadap kondisi yang sedang berjalan. Pemikiran yang kreatif dan inofatif serta lebih memiliki prospek ke arah kemajuan masa depan bangsa harus hinggap dalam pola pikir setiap mahasiswa. Sebaliknya, pemikiran konservatif yang mempertahankan pola lama harus dihindari. Mahasiswa harus menyadari banyak persoalan di negara ini yang mesti diluruskan dan diperbaiki. Kepedulian terhadap negara dan komitmen terhadap nasib bangsa di masa mendatang harus diinterpretasikan oleh mahasiswa ke dalam hal-hal yang positif. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya mahasiswa yang digaungkan gerakannya sebagai social control terkadang juga kurang dapat mengontrol dirinya sendiri. Demikian ini perlu dicermati agar terhindarkan dari tindakan dan sikap yang dapat merusak status yang disandangnya, termasuk sikap hedonis-materialis yang banyak menghinggapi mahasiswa.

Peran dan fungsi mahasiswa dapat ditunjukkan secara santun tanpa mengurangi esensi dan agenda yang diperjuangkan. Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi hingga mampu membenahi ketimpangan sosial di masyarakat dan memberikan cakrawala serta paradigma baru harus tetap tertanam dalam jiwa setiap mahasiswa. Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen pengendali untuk mencegah pelbagai penyelewengan yang terjadi terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan. Dengan demikian mahasiswa mengukuhkan torehan dominasinya sebagai pelaku sejarah di nusantara ini.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply