» » » Altruisme dan Supremasi Bangsa

Oleh : A. Rifqi Hidayat

Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh rakyat Indonesia secara nasional dan menyeluruh selalu diperingati dan disambut yang bahkan secara massif dilaksanakan dalam bentuk malam tirakatan. Namun demikian secara substansi lebih dalam perlu dicermati dan dikaji ulang. Terdapat beberapa pondasi bangunan nasionalisme yang kerap terlewatkan karena larut dalam gegap gempita perayaan peringatan kemerdekaan. “Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup terjajah”, begitulah semboyan para pejuang dalam upaya mendapatkan kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah bangsa penjajah. Kemerdekaan yang diraih bangsa ini tidak diupayakan dengan hanya bernegosiasi ataupun permainan spekulasi. Perjuangan panjang menuju kemerdekaan mesti ditebus oleh para pahlawan dengan taruhan nyawa dan harga diri bangsa. 

Refleksi 17 Agustus menjadi momen yang paling berharga bagi bangsa Indonesia. Sebuah peringatan akan sejarah proklamasi kemerdekaan. Sebuah momentum sejarah yang diharapkan membawa era baru. Era pembebasan dari penjajahan yang identik dengan perbudakan dan penindasan. Lahirnya semangat bangsa Indonesia yang merdeka ternyata masih dipaksakan pula untuk kembali berperang dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.

Altruisme dan Patriotisme
Hal yang saat ini mulai dirasakan kurang dalam diri bangsa Indonesia secara menyeluruh adalah memudarnya semangat patriotisme dan altruisme. Alturisme merupakan sebuah sikap tidak mementingkan diri sendiri sebagai negasi dari sikap egoisme. Alturisme juga merupakan sebuah nilai dasar yang diusung oleh banyak tradisi dan agama. Sikap alturisme ini biasanya muncul karena keterpanggilan jiwa atas sebuah tanggung jawab moral, bisa juga karena sebuah habitat ataupun kedudukan dan kemampuan seseorang.
Senada dengan altruisme adalah patriotisme. Sebuah sikap yang bermula pada adanya kekaguman akan bangsanya sendiri sehingga memunculkan sikap berani, pantang menyerah, siap mengabdikan diri dan rela berkorban demi bangsa dan Negara. Ringkasnya orang berjiwa cinta tanah air. Keduanya bernuansakan hal yang sama. Jiwa kepahlawanan.

Dalam pandangan Jawa, pemimpin sering disebut ksatria yang memiliki sikap ing ngarsa sung tuladha (di depan dapat dijadikan contoh), ing madya mangun karsa (di tengah mampu memberikan ide atau gagasan dan motifasi dalam membangun harapan) dan Tut wuri handayani (ketika berada dibelakang dapat membimbing, memberikan pengarahan dan rasa aman serta nyaman). Dengan demikian jargon pendidikan Indonesia adalh mendidik bangsa untuk menjadi ksatria atau pemimpin.

Merupakan sebuah konsekuensi logis yang harus dihadapi Indonesia sebagai negara yang merdeka, berdaulat dan memiliki landasan hukum positif negara. Persoalan dan kondisi yang kita hadapi saat ini memang sudah jauh berbeda. Kemerdekaan ini dapat kita nikmati dengan kebebasan. Medan peperangan sudah tidak lagi pada bentuk peperangan secara fisik dengan memikul senjata. Peperangan yang harus kita hadapi saat ini berbentuk perlawanan terhadap kebodohan, berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan menyelamatkan bangsa dari segala bentuk ketertinggalan dan hegemoni.

Intergritas dan Nasionalisme
Hal lain yang terlupakan pada pasca reformasi ini adalah persatuan. K.H. Abdurrahman Wachid semasa menjabat sebagai Presiden Republik Indonsia dikenal sering membuka wacana. Baik secara serius dalam bentuk kebijakan maupun dalam bentuk humor. Dalam salah satu humornya presiden era transisi ini pernah berkelakar tentang rukun islam harusnya ditambah satu. Yaitu ittihad (persatuan). Sebuah sindiran yang dalam terhadap umat islam yang sering terkotak oleh pemahaman tafsir yang berbeda. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir muncul aksi terror yang mengatasnamakan jihad menegakkan agama islam.

Pada sisi lain dapat dimaknai pula bahwasanya sindiran tersebut menunjukkan islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin (memberi rahmat bagi seluruh alam) selalu mengajarkan tentang persatuan dan persaudaraan, namun hingga saat ini persoalan perbedaan yang ada masih belum dapat menunjukkan bahwasanya perbedaan adalah rahmat sehingga tetap bersatu sebagaimana konsep negara Indonesia dalam konteks bhineka tunggal ika. Sebuah ide kesadaran sosiokultural. Perlu dipahami dalam pandangan sejarah, karya pemikiran yang fenomenal akan selalu menembus ruang dan waktu.

Integritas keindonesiaan memang harus mewujud dalam bentuk konsistensi antara pemikiran, tindakan, nilai dan prinsip yang sesuai dengan pancasila sebagai ideology dan asas tunggal. Tak hanya itu, pancasila merupakan staat fundamental norm (norma fundamental Negara, sebuah kaidah Negara yang paling mendasar) yang mengerucut pada kesatuan prinsip, moral dan etika kebangsaan. Memudarnya semangat persatuan ini kian terasa dengan adanya berbagai pemberitaan tentang kasus hilangnya bangunan cagar budaya, kasus yang bernuansa SARA dan radikalisme, dan lain sebagainya. Indonesia pasca reformasi menjadi rawan disintegrasi.

Membincang persoalan persatuan dalam konteks kebangsaan, dimana sejauh ini istilah kebangsaan adalah suatu hal yang sulit dirumuskan. Istilah lain yang bersinonim dengan kata bangsa diambil dari bahasa asing, yaitu “natie” atau “nation”. Sebagaimana dalam kamus ilmu politik nation memiliki makna masyarakat yang terbentuknya diwujudkan oleh sejarah yang memiliki unsur satu kesatuan bahasa, satu kesatuan daerah, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan hubungan ekonomi dan satu kesatuan jiwa yang terlukis dalam kesatuan budaya. 

Sedikit mencoba membedah pengertian bangsa atau nation. Istilah nation pertama kali dikemukakan oleh Ernest Renan (1882) yang menyatakan bahwasanya yang dimaksud dengan bangsa adalah jiwa, suatu asas kerohanian yang timbul dari kehendak bersama di waktu lampau sebagai aspek historis. Keinginan yang mulia untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble) untuk masa kini dan yang akan datang dalam faktor historis dan solidaritas. Hal inilah yang melandasi berdirinya suatu bangsa.

Hal penting lain dalam teori bangsa Ernest Renan adalah plebisit, yaitu suatu hal yang memerlukan persetujuan bersama pada waktu sekarang, yang mengandung hasrat untuk mau hidup bersama dengan kesediaan memberikan pengorbanan-pengorbanan demi masa mendatang. Menelisik lebih dalam pada Indonesia dengan ragam suku, ras, etnis, budaya, dan agama yang ada (dan terus berkembang), maka diperlukan pemahaman bersama yang memunculkan kemauan berjuang bersama untuk mempertahankan kemerdekaan dan membangun era baru yang lebih baik dan bermartabat sebagai kelanjutan aspek historis lahirnya bangsa Indonesia.

Sederhananya, titik utama teori Ernest Renan terdapat pada adanya kesadaran moral (conscience morale). Mungkin bilamana dicermati secara lebih radikal, teori ini dapat digolongkan pada teori kehendak. Hal ini karena teori Ernest Renan berbeda dengan teori kebudayaan (culturnatie theorie) yang menyatakan bahwa bangsa merupakan perwujudan pada aspek persamaan. Berbeda pula dengan teori kenegaraan (staatsnatie theorie) yang menyatakan bahwa bangsa dan ras kebangsaan timbul karena persamaan negara. Teori Ernest Renan lebih menekankan aspek jiwa, rasa, dan kehendak yang merupakan suatu faktor subjektif, yang tidak dapat diukur dengan faktor-faktor objektif.

Teori ini memang tidak dapat dibatasi oleh persoalan territorial, budaya, suku, ras etnis dan bahkan agama. Kesemuanya itu hanya objek yang dianggap tidak dapat menjadi penentu kebangkitan nasional (nasionalisme), akan tetapi nasionalisme yang didasari etnisitas (etnonasionalis) menjadi bagian pendorong terbentuknya nasionalisme. Faktor pembentuk (consttuief element) Nasionalisme adalah kemauan bersama yang didukung oleh teritori yang berbeda kepulauan dan ragam suku dan budaya, bahkan perbedaan agama dan keyakinan.

Teori ini menegaskan nasionalisme suatu negara hanya ada karena adanya kemauan bersama. Kemauan bersama diperlukan supaya semua daerah dari satu negara akan mempunyai pengaruh dalam komunitas dunia. Teori Ernest Renan terbukti mampu membangkitkan rasa nasionalisme kelompok mahasiswa dan cendekiawan di Indonesia pada tahun 1920-an. Adanya  kesadaran terhadap teori tersebut menjadi inspirasi organisasi-organisasi pembentuk dan penyebar nasionalisme Indonesia serta memberi orientasi bagi perjuangan bangsa di wilayah Hindia Belanda dari penjajahan. Kemauan bersama yang mampu menjadi tonggak lahirnya gerakan kebangkitan nasional.

Dari Ernest Renan dipahami bahwa bangsa Indonesia terbentuk oleh adanya keinginan yang kuat untuk bersatu, menegakkan bangsa yang merdeka. Lebih lanjut pancasila sebagai ideology asa tunggal kehidupan bernegara adalah sebuah “plebisit” konsensus bersama dalam membentuk bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Hal ini menuntut seluruh rakyat Indonesia sebagai sebuah bangsa untuk bersedia memberikan pengorbanan bagi eksistensi bangsanya dari masa ke masa. Menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adanya kesadaran sebagai sebuah bangsa inilah yang perlu direfleksikan di malam renungan menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia. Semangat persatuan dan kesadaran masyarakat dalam peran sosial-politik sangat dibutuhkan dalam berbagai level masyarakat. Mengenang jasa pahlawan bukan berarti sebatas mengenal tokoh dan tindakannya. Namun meneladani sikap (kehendak) yang melandasi lahirnya bangsa Indonesia dalam wujud berjuang dan memperkokoh kesatuan bangsa, memberikan kontribusi dan peran yang nyata bagi kehidupan manusia.

Harus diakui bahwasanya modernitas dan perkembangan zaman memang meleburkan semangat altruisme dan menghilangkan kesadaran akan makna hakikat sebuah bangsa. Perlu disadari, altruisme sebuah bangsa acapkali lahir pada ruang yang tak terduga. Demikian.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply