» » » URGENSI KEPEMIMPINAN PEMUDA INDONESIA

Kepemimpinan pemuda merupakan modal yang sangat penting untuk menjalankan fungsi dan usaha untuk meletakkan berbagai masalah kepemimpinan dalam perspektifnya serta melakukan kepemimpinan partisipasif yakni sejauh mana pemimpin membagi kekuasaan dan mengambil keputusan bersama dengan para anggota (pengikut) sehingga kedua belah pihak antara pemimpin dan anggota dapat megerti serta memahami implikasi-implikasi yang ada sehingga dapat megerti kondisi-kondisi yang mana akan atau tidak akan menghantar kita pada keefektifitan yang lebih besar bagi anggota maupun bagi organisasi yang dipimpin. Perlu diketahui bahwa dalam perjalanan zaman, sejarah baru selalu ditandai dengan lahirnya generasi baru. Dalam kancah sejarah, generasi baru yang mengukir sejarah baru itu adalah dari kalangan kaum muda. Perputaran sejarah juga telah membuktikan bahwa setiap generasi itu ada umurnya. Kenyataan ini semestinya disadari oleh kaum muda Indonesia. Kesadaran yang diharapkan mendorong segenap kaum muda untuk segera mempersiapkan dan merancang prosesi pergantian generasi. Karena pada hakikatnya kita membutuhkan wajah-wajah baru.Indonesia membutuhkan pemimpin dari kaum muda yang mampu merepresentasikan wajah baru kepemimpinan bangsa. Ini bukan tanpa alasan, karena kaum muda dapat dipastikan hanya memiliki masa depan dan nyaris tidak memiliki masa lalu. Dan ini sesuai dengan kebutuhan Indonesia kini dan ke depannya yang perlu mulai belajar melihat ke depan, dan tidak lagi suka dengan tabiat yang suka melihat ke belakang. Kita harus segera maju ke kepan dan bukan berjalan ke masa lalu. Dan secara filosofisnya, masa depan itu adalah milik kaum muda. Sebagaimana telah sering kita dengar nasehat bahwa, pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan. Bahkan Presiden RI pertama Soekarno pernah mengatakan beri aku 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Oleh sebab itu keberadaan kaum muda sangat vital dalam mengawal keberlanjutan suatu negara. Inilah peluang yang mesti dijemput oleh kaum muda saat ini. Sebuah peluang untuk mempertemukan berakhirnya umur generasi itu dengan muara dari gerakan kaum muda untuk menyambut pergantian generasi dan menjaga perputaran sejarah dengan ukiran-ukiran prestasi baru. Maka, harapannya adalah bagaimana kaum muda tidak membiarkan begitu saja sejarah melakukan pergantian generasi itu tanpa kaum muda menjadi subjek di dalamnya. PEMIMPIN.

Kepemimpinan kaum muda tidak akan datang dengan sendirinya. Sejarah baru dengan kepemimpinan dari generasi baru tidak akan serta merta menjadi nyata tanpa ada persiapan dari generasi baru itu. Bahwa negeri ini mesti diperbaiki dengan semangat baru, orang-orang baru dengan vitalitas baru serta visi kepemimpinan yang benar-benar baru adalah harapan bagi segenap rakyat Indonesia. Persiapan yang perlu dilakukan kaum muda saat ini diantaranya adalah bagaimana menyamakan persepsi tentang urgennya kepemimpinan kaum muda dalam menjawab kebutuhan bangsa ke depan. Urgensi kepemimpinan kaum muda yang disadari oleh pemikiran kolektif bahwa generasi pemimpin yang ada saat ini sudah berumur tua dan layak untuk diganti dengan generasi yang lebih muda. Inilah kesamaan persepsi yang diharapkan memacu para pemuda untuk bersungguh-sungguh mempersiapkan diri sebagai pemimpin dan mengambil kepemimpinan itu pada saatnya tiba. Ketika kita berbicara kepemimpinan berarti kita berbicara masalah prilaku, gaya atau cara. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka ada 3 ciri pokok dari kepemimpinan, yaitu Persepsi sosial, Kemampuan berpikir abstrak, dan Keseimbangan emosional
  1. Persepsi Sosial adalah kecakapan dalam melihat dan memahami perasaan, sikap dan kebutuhan anggota-anggota kelompok. Hal ini mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
  2. Kemampuan berpikir Abstrak, yang berarti memiliki kecerdasan yang tinggi. Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kemampuan menafsirkan, menganalisis dan bahkan mempunyai insting yang kuat dalam menghadapi suatu keadaan. Hal ini penting ketika akan mengambil suatu keputusan atau kebijakan, pemimpin harus mengambil suatu resiko.
  3. Keseimbangan emosional. Hal ini tentunya sangat penting ketika seorang pemimpin menghadapi masalah. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang sanggup mengendalikan emosinya, dan bukan dia yang dikendalikan oleh emosi.
Dari ciri tersebut, jika dilihat secara obyektif nampaknya kaum tua lebih mendominasi ketiganya meskipun tidak semua. Dalam mengambil keputusan, Kaum tua lebih banyak berpikir berdasarkan experience/ pengalamannya, sehingga kemungkinan resiko kegagalan sedikit banyaknya dapat diminimalisir. Kaum tua juga memiliki persepsi sosial dan stabilitas emosional yang cukup baik, mungkin karena faktor kedewasaan, pengalaman dan kematangan pemikiran. Biasanya dalam menilai orang lain dalam kelompoknya, ia lebih cenderung bercermin kepada dirinya sendiri. Hal ini bukan berarti pemuda harus kalah dengan kaum tua, tetapi pemuda harus menunjukkan kepada kaum tua bahwa kita bisa. Namun, jika kita bertolak kepada kepemimpinan kaum muda, ada beberapa ciri dari sosok pemimpin muda yaitu:
  1.  Lebih antusias dan bersemangat
  2.  Cenderung lebih egois dan menang sendiri, yang sangat erat kaitannya dengan stabilitas emosi.
  3. Bertindak dengan orientasi pada hasil dan prestasi untuk mendapatkan pengakuan
  4. Terlalu cepat dalam mengambil keputusan, atau berani “Gambling” Bertanggung jawab.
Dari ciri pokok ini, Kepemimpinan muda tampak jelas bahwa kepemimpinan muda memang masih jauh untuk memenuhi ketiga ciri pokok yang telah disebutkan diatas. Namun, beberapa ciri positif yang dimiliki Kaum muda ini tidak dimiliki oleh kepemimpinan kaum tua, dimana ketika kedua golongan leadership ini dikonvergensikan, akan menciptakan kepemimpinan yang lebih Solid ketimbang kepemimpinan yang didominasi oleh kaum tua saja, seperti yang terjadi di negara kita sekarang. Dengan kepemimpinan muda maka wawasan dilingkungan pemerintahan kita sekarang akan lebih segar kembali. Jiwa- jiwa muda akan mengalir didalam pemerintahan ini. Jika dalam suatu pemerintahan hanya berisi orang-orang tua maka mindset pemerintahan itu lebih banyak menimbang dan tanpa bertindak dengan tindakan yang kongkret, dan pemerintahan tua hanya berpikir masa lalu saja. Jika dibandingkan dengan kepemimpinan pemuda maka pemuda ini akan cenderung berpikir kedepan dan lebih banyak bertindak. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh pemikir besar Francis Bacon bahwa Pemuda lebih cocok mencipta ketimbang memutuskan, Lebih cocok bertindak ketimbang menimbang, lebih cocok menggarap proyek baru ketimbang proyek mapan. Orang Tua terlalu sering menolak, terlalu lama berunding, terlalu sedikit berbuat. Sungguh baik bila terpadu keduanya, karena problema bisa terpecahkan oleh nilainya.
Dalam rangka menjawab tantangan global yang begitu kompleks saat ini, maka kemampuan yang harus dimilki pemimpin muda yaitu :
  1. Kemampuan meneliti (riset). Penelitian bermula dari adanya masalah. Kaum muda Indonesia tentu sangat menyadari bahwa masalah negeri ini demikian kompleks dan seperti benang kusut. Oleh karenanya kaum muda ditantang untuk mengurai dan memecahkan masalah-masalah sesuai dengan disiplin ilmu dan kemampuan yang dimilikinya. Riset akan membuahkan imajinasi, lalu bergerak menjadi kreasi. Selanjutnya kreasi akan mendorong produksi, lalu melahirkan industri, dan pada pada akhirnya gebrakan industri akan menciptakan generasi yang mandiri. Dengan demikian, jika generasi muda Indonesia memimpikan kemandirian, maka gerakan riset merupakan sebuah keniscayaan.
  2. Kemampuan advokasi. Semua menyadari bahwa kondisi masyarakat saat ini sungguh memprihatinkan. Kemiskinan, penganguran, serta merebaknya patologi sosial masyarakat merupakan fakta keseharian kita. Gerakan pemberdayaan bergaya konvensional nampaknya sulit untuk dijadikan penawar. Kaum muda semestinya memahami tentang gerakan advokasi-pemberdayaan yang komprehensif. Harus diakui bahwa potret kaum muda yang terlihat saat ini baru mampu melakukan advokasi parsial. Gerakan pemberdayaan yang dilakukan pun tidak dibangun di atas kemandirian kaum muda itu sendiri. Kemampuan advokasi perlu dibangun, dipahami dan dilakukan, serta mencari terobosan gerakan baru dalam upaya menjawab tantangan dan perubahan.
  3. Kemampuan memproduksi. Pengertian memproduksi tidak lantas identik dengan kegiatan produksi secara besar-besaran, akan tetapi dalam skala sekecil apapun. Kaum muda dituntut untuk mengembangkan kreasi-kreasi alternatif yang dapat mendorong produksi. Dalam hal ini pemuda harus mencetak hal- hal baru yang lebih kreatif. Jikalau apa yang sekarang sebuah peraturan tidak layak untuk digunakan lagi, maka pemuda yang dalam hal ini sebagai pemimpin maka harus bertindak cepat untuk memproduksi peraturan yang baru.
  4.  Kemampuan publikasi. Jika kegiatan riset telah menjadi budaya, advokasi menjadi menu sehari-hari, dan produksi menjadi aksi, maka kemampuan berikutnya adalah kemampuan mengkomunikasikan gerakan kemandirian tersebut melalui publikasi massa.
Kaum muda memiliki peranan yang signifikan dalam proses pembangunan. Ia merupakan penggerak arah dan kebijakan pembangunan masa depan serta menentukan masa depan bangsa ini akan dibawa. Kaum muda juga harus berani mengambil peran dalam berbagai bidang, terutama kerja-kerja intelektual sehingga menjadi fundamen yang kokoh dalam proses pembangunan ke depan. Kepemimpinan kaum muda tidak akan datang dengan sendirinya. Sejarah baru dengan kepemimpinan dari generasi baru tidak akan serta merta menjadi nyata tanpa ada persiapan dari generasi baru itu. Bahwa negeri ini mesti diperbaiki dengan semangat baru, orang-orang baru dengan vitalitas baru serta visi kepemimpinan yang benar-benar baru adalah harapan bagi segenap rakyat Indonesia. Persiapan yang perlu dilakukan kaum muda saat ini diantaranya adalah bagaimana menyamakan persepsi tentang urgennya kepemimpinan kaum muda dilinkungan pemuda untuk menjawab kebutuhan bangsa ke depannya. Urgensi kepemimpinan kaum muda yang disadari oleh pemikiran kolektif bahwa generasi pemimpin yang ada saat ini sudah berumur tua dan layak untuk diganti dengan generasi yang lebih muda. Persepsi inilah yang diharapkan memacu semangat para pemuda untuk bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan  diri sebagai pemimpin dan mengambil kepemimpinan itu pada saatnya tiba.
 
Dari ciri pokok ini, kepemimpinan muda memang masih jauh untuk memenuhi ketiga ciri pokok yang telah saya sebutkan diatas. Namun, beberapa ciri positif yang dimiliki kaum muda ini tidak dimiliki oleh kepemimpinan kaum tua, dimana ketika kedua golongan leadership ini dikonvergensikan, akan menciptakan kepemimpinan yang lebih Solid ketimbang kepemimpinan yang didominasi oleh kaum tua saja, seperti yang terjadi di negara kita sekarang. Dengan kepemimpinan muda maka wawasan dilingkungan pemerintahan kita sekarang akan lebih segar kembali. Jiwa- jiwa muda akan mengalir didalam pemerintahan ini. Jika dalam suatu pemerintahan hanya berisi orang-orang tua maka mindset pemerintahan itu lebih banyak menimbang dan tanpa bertindak dengan tindakan yang kongkret, dan pemerintahan tua hanya berpikir masa lalu saja. Jika dibandingkan dengan kepemimpinan pemuda maka pemuda ini akan cenderung berpikir kedepan dan lebih banyak bertindak. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh pemikir besar Francis Bacon bahwa Pemuda lebih cocok mencipta ketimbang memutuskan, Lebih cocok bertindak ketimbang menimbang, lebih cocok menggarap proyek baru ketimbang proyek mapan. Orang Tua terlalu sering menolak, terlalu lama berunding, terlalu sedikit berbuat. Sungguh baik bila terpadu keduanya, karena problema bisa terpecahkan oleh nilainya. 
 
Kaum muda juga memiliki peranan yang signifikan dalam proses pembangunan. Ia merupakan penggerak arah dan kebijakan pembangunan masa depan serta menentukan masa depan bangsa ini akan dibawa. Kaum muda juga harus berani mengambil peran dalam berbagai bidang, terutama kerja-kerja intelektual sehingga menjadi fundamen yang kokoh dalam proses pembangunan ke depan. Jadi dalam hal ini harus dipahami bahwa sekarang ini sosok kepemimpinan pemuda saat ini sangat diperlukan mengingat persoalan kepemimimpinan pemuda merupakan persoalan yang paling besar dalam sistem sistem -sistem normatif dan pengaruhnya sangat besar karena di dalamnya terikat pada motif- motif tindakan dan tujuan bersama. Pada keterlibatan moral yang tinggi dan pada keyakinan bahwa apa yang di kerjakan adalah “Penting”. Disamping itu harus diingat kepemimpinan pemuda mempunyai suatu arti dari kata “kepemimpinan”. Dan arti kata ini dapat diambil salah satu teori dan program penelitian mengenai pemimpin dari kelompok -kelompok orientasi kerja yang tertua dan masih banyak dipertentangkan ialah teori LPC dari Fiedler (1967,1971) karena Fiedler terutama bekerja dengan kelompok-kelompok yang pemimpinya dapat dikenal dengan jelas dan hasilnya dapat diukur dengan tepat (tim bola basket, awak pesawat, koperasi-koperasi kecil) dari tolak ukur tersebut membuat Fiedler mula-mula mengembangkan suatu ukuran orientasi dasar pemimpin yang disebut rekan sekerja yang kurang disukai Least PreferredCo-worker(LPC). Seorang pemimpin diminta mengingat-ingat dengan siapa saja ia berkerjasama dengan baik. Pemimpin itu berusaha kemudian itu diminta untuk mengambarkan keadaan, seperti “menyenangkan-tidak menyenangkan” dapat “dipercaya-tidak dapat dipercaya” dan seterusnya. Kata -kata sifat itu diberi nilai sehubungan dengan sejauh mana pemimpin itu menganggap LPC menunjukan sifat-sifat yang paling negatif atau paling positif. Pemimpin yang diberi nilai LPC rendah (terutama nilai-nilai negatif) dianggap terutama berorientasi pada perkerjaan (memperhatikan prestasi karena mereka memberikan penilaan yang buruk pada prestasi orang lain) Dan pemimpin yang memberi nilai LPC tinggi ( terutama nilai-nilai positif) dianggap terutama pada hubungan ( orientasi pada hubungan rekan kerja/anggota yang paling yang tidak sekalipun dianggap mempunyai arti). Karena LPC suatu orientasi yang dianggap relatif stabil, maka implikasi dari teori macam ini adalah bahwa para pemimpin seharusnya menemukan orientasi mereka sendiri. Sebaliknya Teori Vroom lebih mementingkan tugas dan bawahan.Teori menitikberatkan pada pola pribadi seorang pemimpin harus menunjukan hubunga yang relevan dengan sifat-sifat, kegiatan, dan tujuan para bawahanya. Jelaslah bahwa suatu analisis yang memadai mengenai kepemimpinan tidak hanya melibatkan penelahaaan terhadap para pemimpimnya, tetapi pada situasinya. Dari kedua teori diatas akan arti” kepemimpinan” kita dapat menemukan perbedaan konseptual yang nyata dapat diketahui. Model Fiedler dibangun atas ruang lingkup situasi kepemimpinan yang luas yang menuntut kriterium keefektifan kelompok kerja yang keras. Kalau penelitian Vroom sebelumnya memusatkan perhatian pada macam-macam situasi yang serupa. Modelnya sekarang terbatas sekarang pada pada sosok pemimpinan yang melukiskan perilaku mereka sendiri dalam konteks persoalan-persoalan putusan yang khas. Kepemimpinan pemuda Indonesia masih perlu pembentukan (in making). Karena seperti kita ketahui bersama bahwa pemuda Indonesia terdiri dari berbagai elemen kepemudaan yang mercermikan mozaik sebuah masyarakat yang multikultural dari berbagai macam bentuk kehidupan dan orientasi nilai yang pembentukannya sangat sulit (tidak seperti membalikkan tangan) dan beragam suku budaya tapi mempunyai ciri khas tersendiri apabila dibentuk oleh wadah yang berkualitas yang dapat membentuk karakter jiwa, sikap kepemimpinan pemuda itu tersebut. Lagipula Pemuda -pemudi Indonesia haruslah membentuk karakter seperti itu serta mereproduksi pemuda yang akan datang yang lebih berkualitas. Dan itu dibutuhkan kerja sama, solidaritas, rasa persatuan dan kesatuan yang kuat antara pemuda-pemudi Indonesia. Karena Pemuda-Pemudi Indonesia adalah ujung tombak sebuah bangsa serta investasi jangka panjang bagi negara Indonesia karena mencermikan semangat moderatisme, demokrasi, inklusifisme.
 
Format kepemimpinan pemuda juga harus disesuaikan dengan ” jiwa zaman” mengingat pada sekarang ini kita hidup sebagai pemuda bangsa di zaman modern yang bentuk kehidupan makin kompleks, demikian pula makin penuh resiko. Seperti yang dikatakan oleh Giddens “Modernity is a risk culture“. Modernitas memang mengurangi resiko baru pada bidang-bidang dan pada cara hidup tertentu, Tetapi juga membawa parameter risiko yang baru yang tak dikenal pada era sebelumnya Untuk itu diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh resiko. Kepemimpinan bisa berada di muka, bisa di tengah, dan bisa di belakang, seperti ungkapan ” ing ngarso sung tulodo,ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”. Tidak semua orang bisa jadi pemimpin. Pemimpin juga tidak dibatasi oleh usia, bahkan dengan tambah usia makin banyak pengalaman, makin arif kepemimpinan. Pemuda-Pemudi Bangsa Indonesia haruslah ingat akan para pahlawan perjuangan bangsa ini yang telah berusaha mempertahankan bangsa ini dengan darah para mereka, air mata, cinta keluarga yang dipertaruhkan, harta benda, cita-cita, harapan para pahlawan yang telah gugur pada medan pertempuran melawan para penjajah. Mereka yang berjuang pada waktu itu berharap walaupun mereka gugur pada pertempuran ini mereka yakin bahwa penerus generasi bangsa Indonesia selanjutnya pasti membawa perubahan yang besar pada bangsa ini sehingga bangsa ini bisa dikenal menjadi bangsa yang kuat akan ketahanan nasionalnya.
 
Di samping itu membentuk jiwa Kepemimpinan pemuda, Pemuda-Pemudi Indonesia juga harus memiliki sikap pada pengamalan UUD 1945, Pancasila, serta agama yang dianut oleh Pemuda-Pemudi Indonesia. Karena hal ini adalah salah satu unsur yang sangat penting yang harus dipahami serta diamalkan oleh setiap para Pemuda-Pemudi Indonesia. Pada umumnya dasar-dasar seperti Pancasila,UUD 1945, dan Agama haruslah dipahahami terlebih dahulu sebelum para pemuda bisa membentuk diri menjadi seorang pemimpin. Sehingga apabila telah memiliki jiwa seorang pemimpin para pemuda megerti Bagaimana membentuk sikap nasioliasme, patriotnisme serta menghayati arti pancasila , karena di dalam arti kata itu mengandung akan pentingnya akan mempertahankan idealisme negara Indonesia yang telah dibentuk dengan susah payah demi membuat suatu Dasar, Pedoman, Cita-Cita, Harapan, Tujuan Negara Indonesia. Yang telah bosan dijajah oleh bangsa asing, UUD 1945 dan pancasila adalah wujud cita- cita Bangsa Indonesia yang secara tertulis yang disusun oleh para tokoh bangsa demi kepentingan masyarakat Indonesia. Pemahaman akan UUD 1945 dan Pancasila akan menyadarkan Pemuda-Pemudi Bangsa Indonesia bahwa sebagai penerus generasi para pemuda-pemudi indonesia harus meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial dan politik, menumbuhkan budaya belajar, memantapkan pemahaman dan perilaku keagamaan, menumbuhkan semangat kewirausahaaan, mengembangkan minat seni dan olahraga, serta kebebasan dalam bermasyarakat, berorganisasi, mengeluarkan pendapat, dan beragama yang semua itu ada dalam UUD 1945 pasal 28. Karena kebebasan tersebut penting agar Pemuda-Pemudi sadar mereka bagian dari Bangsa Indonesia yang memiliki Peran, Hak, Kewajiban yang sama dalam membangun negara Indonesia serta mendapat keadilan yang sama di mata hukum tanpa memandang latar belakang yang bersangkutan.
 
Pada intinya untuk menuju Indonesia sesuai cita-cita proklamasi 1945 maka kita sebagai Pemuda-Pemudi yang akan membawa perubahan pada bangsa ini harus bisa menunjukkan bahwa walaupun kita berbeda dari suku, agama, budaya, bahasa daerah, Kita adalah Bangsa Indonesia yang memiliki jiwa kepemimpinan pemuda yang baik, tangguh, serta mampu bersaing di dunia internasional, dan memiliki sikap nasionalisme, patriotnisme dan sifat akhlak agama yang baik. Walaupun saat ini beredar isu-isu disintegrasi bangsa. Saya tetap yakin pada pemuda-pemudi indonesia saat ini dan seterusnya. Mereka pasti tidak akan mau melihat Indonesia ini pecah dan dimanfaatkan oleh pihak yang akan merusak bangsa ini demi kepentingan mereka belaka. Hal ini ini pasti bisa diwujudkan karena Pemuda-Pemudi bangsa Indonesia adalah generasi bangsa yang memiliki dasar negara yang kuat serta mempunyai dasar kebebasan yang baik pada masyarakat baik itu sendiri dalam mengerluarkan pendapat, memiliki sesuatu, hidup aman, dan sebagainya. Membangun jiwa Kepemimpinan pemuda yang baik itu haruslah dimulai pada kesadaran pribadi Pemuda-Pemudi sendiri dan membentuk jiwa merdeka ( kebebasan) pada diri mereka karena seperti yang diungkapan almarhum Pramoedya “Kita harus adil sejak dalam pikiran“. Karena hal ini adalah kekuatan sebuah ide atau gagasan mampu menata dunia yang menciptakan ide independensi di atas idealisme, di mana pun kita berdiri. Bukan untuk menciptakan ide pragmatisme, yang tentu saja hal ini harus disertai oleh kepekaan etik spiritual bagi junjungan moralitas untuk mempedomani arti “kebenaran dan keadilan”.

Agar terciptanya kepemimpinan pemuda maka Negara mau tidak mau harus memperhatikan hal- hal berikut yakni: Tingkat pendidikan pemuda yang masih rendah, Peredaran obat-obat terlarang yang kian marak di kalangan pemuda, Rendahnya kemampuan pemuda menciptakan usaha sendiri, Tingkat pengganguran yang makin tinggi, Masih rendahnya pembinaan pemuda dan organisasi masyarakat (OKP), Munculnya pola patronase dan senioritas pada yang akhirnya membuahkan sikap introvert dan minder dari generasi yang jauh lebih muda karena mereka tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan kemampuan mereka serta sikap patronase menimbulkan bias pemahaman demokrasi. Pemikiran ini yang masih dianut sebagian pemuda dan mahasiswa Indonesia, Hal ini bisa memperkecil ruang demokrasi dan Bagaimana membentuk ruang demokrasi sedangkan ruangan itu sangat kecil. Jadi agar kepemimpinan pemuda dapat terealisasi maka kerjasama dari kaum pemuda sangat diharapkan.
Sumber : iqbal-berbagi.blogspot.co.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply