» » » Pemuda, Bonus Demografi dan Potensi Indonesia

Pemuda

“…Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, kalimat yang berasal dari pidato Soekarno Founding father Indonesia ini banyak dikutip dalam perbincangan mengenai pemuda. Mengapa Soekarno memandang pemuda dengan pandangan yang begitu ‘terpesona’ hingga mampu menjanjikan akan adanya perubahan apabila ia diberikan kesempatan untuk mengkader 10 orang pemuda. Apa yang kemudian menjadi keistimewaan pemuda dibandingkan dengan yang lainnya.

Peran pemuda adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Prancis memiliki Jenderal muda Napoleon Bonaparte yang mampu mengatasi berbagai bentuk kekacauan di Kota Paris pasca Revolusi Prancis, Lenin di Rusia yang mengusung ide perang antar kaum kapitalis dan kaum proletar, hingga Erdogan yang mampu mengubah defisit Kota Istanbul menjadi surplus dan memperbaiki perekonomian Turki kontemporer.

Indonesia memiliki sejarah peran pemuda yang tak kalah romantis. Kemerdekaan Indonesia dirintis oleh sekumpulan pemuda terdidik yang resah akan kemerdekaan bangsanya. Orgaisasi seperti SI (Sarekat Islam) dan Boedi Oetomo adalah dua organisasi pemuda yang menjadi tempat pengkaderan sempurna untuk para pemuda yang turut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Soekarno dan Hatta kedua proklamator mulai menyusun mimpi akan Indonesia merdeka semenjak mereka berada di masa kuliah. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pun tidak akan teradi tanpa adanya tekanan dari golongan muda kepada golongan tua di masa krusial proklamasi kemerdekaan.

Sejarah tidak mungkin berbohong, ia hanya meninggalkan bukti nyata. Pemuda memiliki peran yang luar biasa besar terutama dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Peran yang kemudian dikaji dan dibicarakan secara luas yakni pemuda sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan. Ketiga peran pemuda ini muncul dikarenakan sifat pemuda yang penuh semangat, beridealisme tinggi dan memiliki ide dan inovasi yang tinggi tanpa tersandung realita dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah berumur.

Bonus demografi

Memasuki tema mengenai bonus demografi, telah banyak media massa Indonesia yang telah mengulas mengenai hal ini. Bukan karena apa-apa tapi dikarenakan potensinya yang luar biasa. Bonus demografi adalah fenomena dalam masalah kependudukan, yakni fenomena dimana jumlah penduduk berusia produktif lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk tidak produktif.

Penduduk dilihat dari faktor usia terbagi menjadi dua, yakni usia produktif dan usia tidak produktif. Berdasarkan kriteria Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, usia produktif adalah pada rentang 15-64 tahun. Sedangkan usia tidak produktif adalah selainnya yakni dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun (bps.go.id).

Indonesia sudah mengalami bonus demografi semenjak tahun 2012, menurut perhitungan puncaknya ada pada tahun 2028-2030. Diperkirakan proporsi penduduk usia produktif dapat meningkat hingga 68,1% di tahun 2028-2030. Hal ini berarti jumlah penduduk usia tidak produktif yang ditanggung oleh 100 orang usia produktif yakni berkisar 46,9% (hukumonline.com).

Fenomena ini menjadi potensi yang luar biasa dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Eropa dan Amerika telah mengalami fenomena ini dan berhasil memanfaatkannya. Beberapa negara lain yang telah mengalami fenomena bonus demografi dan mampu memanfaatkannya diantaranya Thailand, Taiwan dan Korea yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi antara 10-15% (hukumonline.com).

Bonus demografi dan pemuda

Penduduk usia produktif erat kaitannya dengan pemuda, karena bagaimanapun pemuda adalah orang yang memiliki rentang usia tertentu yang mirip dengan definisi penduduk usia produktif. Pada prolog tulisan ini telah dijabarkan peran pemuda di berbagai negara terutama Indonesia. Pemuda di berbagai negara terutama Indonesia memiliki peran sebagai kekuatan moral, sosial kontrol dan agen perubahan.

Bonus demografi menjanjikan bukan hanya jumlah penduduk yang bertambah sehingga perekonomian bisa naik akibat jumlah konsumen bertambah. Bonus demografi menjanjikan lebih daripada itu, yakni stok pemuda yang lebih banyak dibandingkan orang tua (berusia lanjut). Pemuda yang memiliki semangat dan inovasi serta idealisme tinggi adalah sumberdaya yang tidak tergantikan.

Amerika memiliki pemuda yang termasuk dalam jajaran orang terkaya se-Amerika daintaranya Sergey Brin dan Larry Page pemilik Google dan juga Mark Zuckenberg pemilik Facebook. Sama halnya dengan Inggris, terdapat pemuda-pemuda yang termasuk dalam list milyader Inggris saat ini yakni Drew Houston dan Arash Fredowsi pendiri Dropbox serta Kevin Systrom pendiri Instagram. Mereka adalah pemuda yang mampu memanfaatkan peluang yang ada dan mampu membaca kebutuhan di masyarakat.

Contoh kecil yang dekat dan dapat kita ambil yakni fenomena start up yang saat ini merebak di Indonesia. Inovasi start up ini muncul dari pemuda, keberadaan Go-jek, Grab, Bukalapak.com dan kemunculan start up mikro lainnya. Contoh-contoh ini adalah bukti nyata bahwa pemuda adalah aset sumberdaya yang luarbiasa apabila mampu dididik dan diarahkan dengan baik.

Tidak bisa dipungkiri bonus demografi dan juga pertambahan penduduk ini tidak hanya berpotensi baik. Bonus demografi ibarat pisau bermata dua yang juga memiliki potensi buruk. Jumlah penduduk yang meledak tanpa persiapan yang matang justru akan menjadi beban bagi pemerintah. Pengangguran yang dapat berujung pada berbagai masalah sosial seperti pencurian, perampokan dll.

Pembangunan sumberdaya manusia

Pembangunan tidak hanya berfokus pada pembangunan secara fisik. Pembangunan sumberdaya manusia alias sdm termasuk dalam salah satu fokus pemerintah. Teori pembangunan kontemporer adalah pembangunan yang didasarkan pada people-centered development alias manusia sebagai subjek pembangunan. Sebagai pelaku utama pembangunan sudah pasti dibutuhkan standar kualitas manusia yang baik.

Pemerintah selaku pemangku kebijakan wajib untuk menyediakan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan untuk menggenjot kualitas sdm. Baik dari segi pendidikan, kesehatan hingga ketenagakerjaan. Tidak hanya pemerintah, sektor swasta dan sektor ketiga yang membentuk sebuah negara juga memiliki kewajiban yang sama dalam mempersiapkan Indonesia dalam menghadapi bonus demografi.

Sektor swasta dapat menggunakan CSRnya (Corporate Social Responsibility) untuk memfokuskan dalam pembangunan kualitas manusia. Pelaku-pelaku di sektor swasta ang telah mampu melihat potensi ini telah memfokuskan sebagian CSRnya untuk pembangunan sdm, seperti XL Future Leaders, Beasiswa Djaroem, Beasiswa Sobat Bumi dsb. Bagaimanapun bonus demografi dapat menyediakan jumlah pekerja yang besar bagi sektor swasta, terlebih bila pekera tersebut berkualitas.

Sektor publik alias pemerintah memegang peranan dalam sektor kebiakan, sektor swasta memegang peranan utama dalam pendanaan, dan disinilah kebutuhan sektor ketiga untuk memenuhi kekurangan yang tidak bisa dipegang kedua sektor lainnya. Sektor ketiga memfokuskan pada hal-hal yang lebih berhubungan secara langsung dengan masyarakat. LSM dan NGO yang lebih leluasa pergerakannya di masarakat memiliki peran yang penting dalam pembangunan karakter pemuda secara langsung.

Rumah Kepemimpinan atau biasa disingkat RK adalah salah satu NGO yang ada di Indonesia, contoh kongkret beasiswa dan asrama pembinaan mahasiswa yang berfokus untuk memperkuat peran pemuda terutama mahasiswa. Pembinaan yang berfokus pada penguatan peran pemuda dalam menjadi kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan di masyarakat.

Pembinaan dalam bidang keimanan dan ketakwaan yang diberikan dalam targetan amalan ibadah keseharian, pembelaaran tahsin, kajian ahlaq, serta kajian keislaman lainnya. tuuan pembinaan ini adalah setelah memperkuat keimanan dan ketakwaannya sebagai seorang individu, maka santri RK akan mampu menjadi ‘kekuatan moral’ di masyarakat. Yakni individu yang santun, memiliki nilai-nilai kebaikan, mematuhi hukum dan mampu menebarkan kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya.

Penguatan peran sebagai ‘kontrol sosial’ diuwujudkan dengan pembinaan berupa apel wajib, kajian nasionalis akar rumput, kajian islam nusantara dan kajian berawawasan nusantara lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan wawasan kebangsaan, memahami hak serta kewaiban sebagai seorang arga negara. Terakhir yakni memperkuat peranan pemuda sebagai ‘agen perubahan’ dengan kajian-kajian dan pembinaan yang menekankan pada peran pemuda, inovasi, kolaborasi, dan bukti-bukti nyata kontribusi. Diantaranya dialog tokoh, Indonesian Youth Leadership Forum, basic skill, National Leadership Camp, dan kajian lainnya.

Rumah Kepemimpinan berusaha untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kualitas sdm Indonesia melalui sektor ketiga. Bagaimanapun ketiga sektor utama ini harus saling bahu-membahu. Bonus demografi tidak serta merta menadi potensi yang baik bagi Indonesia, potensi baik itu harus diusahakan terutama dengan memfokuskan pembangunan kualitas sdm. Pemuda yang menjadi aset dalam bonus demografi harus dididik dengan baik agar mampu memberikan inovasi dan ide kreatif dalam membangun Indonesia Bermartabat.
Sumber : nlc.rumahkepemimpinan.org

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply