» » » Memelihara Bangsa dengan Pemuda Ideologis

Tidak ada sejarah bangsa di dunia yang tidak dihiasi pemuda. Sepanjang sejarah bangsa mulai dari Timur hingga Barat, dari Asia hingga Afrika semuanya tak lepas dari  pemuda. Ya, pemuda adalah lokomotif gerbong pergerakan dan perubahan. Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno pernah berujar, “Berikan saya sepuluh pemuda. Maka saya akan guncangkan dunia.”

Ungkapan itu bukan tanpa alasan. Bung Karno tahu betul bahwa pemuda memiliki potensi luar biasa hampir di setiap aspek: fisik, intelektual, mental, dan keberanian. Keutamaan yang tidak dimiliki oleh generasi selainnya. Itu juga yang terjadi dalam perjalanan bangsa ini. Pahatan sejarahnya selalu diukir oleh pemuda. Tanpa pemuda, kemerdekaan yang telah diraih ini mustahil.

Itu bisa dilihat dalam deretan kejadian penting bangsa yang telah ditulis dalam lembaran buku sejarah. Diawali dari lahirnya Organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908. Gerakan ini menginspirasi lahirnya sebuah bangsa. Organisasi perubahan ini dimotori oleh para cendikiawan muda. Mereka gelisah dan resah atas aksi imperialisme Belanda.

Setelah kelahiran Organisasi Boedi Oetomo kemudian disusul Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Mereka berpikir tidak mungkin bangsa ini hidup di bawah penjajahan bangsa asing. Gerakan ini pula yang menyatukan tekad dan kesepakatan akan lahirnya sebuah bangsa yang merdeka. Pada puncaknya, gerakan pemuda itu melahirkan sejarah paling penting bangsa ini: Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tahun 1945.

Sebelum proklamasi itu juga terjadi kejadian heroisme yang mengundang decak kagum. Sejumlah pemuda menculik Soekarno-Hattan—sang proklamator—mendesak agar Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sumbangsih pemuda dalam mengawal gerbong kemerdekaan bangsa juga tidak berhenti di situ. Ketika bangsa ini dipimpin dengan otoritarianisme oleh rezim orde baru, pemuda maju ke gelanggang terdepan.

Mereka memasang dada-dada mereka di garda terdepan di depan moncong senjata polisi dan tentara meminta agar kehormatan kemerdekaan dikembalikan pada tempatnya. Para pemuda dan mahasiswa turun ke jalan dan menurunkan rezim zalim orde baru. Orde baru ambruk diganti era reformasi. Meski perjuangan itu harus menelan korban yang tidak sedikit. Beberapa mahasiswa yang meregang nyawa ditembus timah panas. Itulah pemuda. Berjuang dengan mengorbankan apa saja yang mereka miliki, meski nyawa taruhannya.

Tidak mudah melahirkan sosok pemuda yang hebat dan berintegritas tinggi. Pemuda harus ditempuh melalui proses seperti mutiara dalam kerang. Akhlaknya harus dibina. Intelektualnya harus diasah. Dan jiwanya harus ditumbuhkan. Begitu juga yang dilakukan oleh Presiden Soekarno. Dia lahir tidak begitu saja, tetapi melalui proses yang panjang.

Soekarno pernah berkisah tentang masa muda. Cerita yang berjudul Pemuda harus dinamis itu dia sampaikan kepada para pemuda di Surakarta, Jawa Tengah pada medio tahun 1960. Dia menyelesaikan masa kecilnya dengan belajar di bawah asuhan almarhum Tjokroaminoto. Dia tinggal satu kamar dengan Tjokroaminoto. Kamar itu sangat sederhana dan biasa saja. Tidak mewah. Meski ada listrik, tapi Soekarno ketika itu tidak punya cukup uang untuk membeli bola lampu. Dia terpaksa membeli lampu cempor.

Lampu cempor itu tidak begitu terang. Sinarnya memantul sedikit. Tapi, setidaknya bisa digunakan oleh Soekarno untuk membaca buku. Setiap malam, Soekarno membaca buku di bawah remang-remang sinar lampu cempor. Buku demi buku dia lahap. Berbagai falsafah hidup, pemikiran dan pidato para tokoh dunia dia baca habis. Pengetahuan Soekarno semakin bertambah dan dia menjadi sosok pemuda yang visioner dan berjiwa besar. Cakrawala berpikir Soekarno bertambah luas.

Itu memengaruhi pola pikir Soekarno. Meski dia tinggal di rumah sederhana, di dalam kamar kecil yang hanya berlampukan cempor, tapi pemikirannya mengembara ke seantero jagad. Dia juga seolah berdialog dengan berbagai tokoh dunia. Saking luas pengetahuannya, sampai-sampai dia berkata bahwa dia bukan saja warga Negara Indonesia, tapi warga Negara dunia. Hal itu diungkapkan dengan kalimat bahasa Inggris, “..But I am a citizen of the world.”

Masa itu dia sebut sebagai pertapaan intelektual Argasonya. Masa di mana dia menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Dan setelah pertapaan itu selesai, dia pun mengembara, mewujudkakan intelektualitasnya. Dia berinteraksi dengan berbagai tokoh, baik nasional maupun internasional. Dia juga bertemu dengan tokoh-tokoh yang dia baca bukunya. Seperti George Washington, Jeffersonyang—dia menulis Declaration of Independence Amerika—berjumpa dengan Gladtone.

Soekarno juga bertemu pemimpin revolusi Peranci, dari Mirabeau sampai Danton, Robbespierre, Marat, Theroigne de Mericourt. Soekarno juga berjumpa Mazzini dari Italia, Garilbadldi, Sun Yatsen, Stalin, Lenin, Plekhanov Rusia, Mahatma Ghandi, dan Jawaharlal Nehr. Oleh karena itu, di hadapan para pemuda Surakarta, Soekarno mendorong agar para pemuda tidak berhenti belajar, membaca buku, dan berdialektika. Pemuda juga harus progressif dan bergerak maju ke depan. Jika pemuda tidak melakukan gerakan dan progresifitas maka akan digilas, digiling, dan ditindas habis-habisan oleh zaman.

Soekarno menyitir dalam bahasa Belanda, “…Niet meer kunnen wij ons overgeven aan de belijdenis van een levens-philosofie die direct of indirect onze eigen ondergang is gewest. Het moderne leven eist beweging, activiteit; en wie dat niet eerbiedigt wordt verpletterd in het gedrang van mensen en volkeren die vechten om het bestaan.” Artinya, kita sekarang ini tidak boleh hidup dengan falsafah adhem, tentrem, dan ayem. Adhem, tentrem kadya siniram banyu wayu sewindu lawase.” Falsafah hidup seperti itu, kata Soekarno, menjadikan orang tenggelam, dan kita hancaur.

Hal itu membuktikan bahwa Soekarno lahir tidak begitu saja. Dia ditempa oleh alam dan intelektual yang hebat. Dia juga diasuh oleh orang yang hebat. Karena itu, untuk melahirkan pemuda yang hebat pelanjut bangsa ini harus memperkuat intelektual dan spiritual. Tanpa itu, pemuda tidak ada gunanya. Sia-sia belaka. Untuk mengawal bangsa ini dibutuhkan pemuda yang hebat, sekelas Soekarno, selevel Bung Hatta, sekuat Pangeran Diponegoro, sehebat Buya Hamka. Tanpa orang-orang hebat, Negara ini lambat laun bisa rapuh, bahkan bisa jadi roboh.

Sebab, masa depan bangsa ini ada di pundak generasi muda. Jika generasi muda hebat dan kuat, maka bangsa ini hebat. Tapi, jika generasi muda ini tidak hebat dan lemah, maka bangsa ini tidak akan bertahan lama. Itulah pemuda. Beban berat pemuda esok hari sangat berat. Karena itu dibutuhkan pundak-pundak pemuda yang kuat. Pundak pemuda tidak boleh rapuh. Pundak pemuda tidak boleh lemah. Pundak pemuda harus dilatih dengan beban berat sejak dini agar esok hari dia kuat memanggul beban berat bangsa ini.

Pemuda tidak boleh dididik lemah, seperti ayam potong. Begitu dalam Islam, pemuda dipandang sesuatu hal yang sangat penting. Di pundak pemuda itulah bangsa ini diletakkan harapan. Karenanya, melihat bangsa ini ke depan—outlook—maka melihat generasi mudanya. Pemuda jadi tolok ukur pembangunan bangsa. Baik dari segi intelektual, akhlak, dan juga integritasnya. Para ulama mengategorikan tiga poin penting pemuda dalam pembangunan.

Pertama, pemuda adalah generasi penerus. Pemuda adalah entitas yang akan menggantikan orang-orang yang sudah rusak karakternya dan berpegang teguh pada Islam untuk mewujudkan tatanan bangsa yang lebih baik. Kedua, generasi muda sebagai generasi berikutnya. Pemuda harus melanjutkan nilai-nilai ajaran murni Islam terhadap perkembangan masa depan dalam kemajuan Islam. Ketiga, pemuda sebagai agen pembaharu (agent of change). Pemuda harus memperbaiki kerusakan yang ada yang menghambat kemajuan Islam di masa yang akan datang.

Mari renungkan hadis Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Ibnu Abbas berikut ini. “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia dipilih di kalangan pemuda sahaja (yakni 30-40 tahun). begitu pula tidak seorang ‘alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda.”

Melihat pentingnya peran pemuda dalam membangun dan memelihara kemerdekaan bangsa ini maka memunculkan kesimpulan: membangun bangsa setali tiga uang dengan membangun pemuda. Mendesain bangsa sama saja mendesain pemuda. Pembangunan fisik sebuah bangsa tanpa diikuti pengbangunan pemudanya, maka akan rapuh. Tanpa pemuda, bangsa ini rapuh dan lambat laun pasti runtuh. Tidak ada lagi yang melanjutkan bangsa ini.

Oleh karena itu pembangunan bangsa ini harus dimulai membangun pemudanya. Ada beberapa elemen penting pemuda yang harus dikembangkan: intelektual, spiritual, emosional atau selfbelonging (rasa kepemilikan) terhadap bangsa Indonesia. Pendidikan bangsa ini harus diperhatikan. Pemuda diberikan akses pendidikan seluas-luasnya dan setinggi-tingginya. Negara tidak boleh membeda-bedakan (diskriminasi) akses kepada penerus bangsa. Setiap anak bangsa dapat hak pendidikan yang sama.

Pendidikan akan melahirkan tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan muda. Pemerintah juga bisa memberikan pendampingan langsung kepada para pemuda. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mendelegasikan tokoh-tokoh bangsa ini untuk mendampingi pemuda. Begitu juga spiritualitasnya. Aspek agama dan religiusitas harus diperhatikan.

Pemuda tidak boleh kering spiritualitas. Pemuda harus memiliki intelektual-religus seimbang. Tidak boleh dikotomik dan berat sebelah. Pemuda tidak boleh hanya cerdas secara intelektual. Gelar akademik berderet tapi kering agama. Agama diharapkan bisa jadi penyeimbang pemuda dalam menjalankan. Pemuda yang kering agama hanya melahirkan penerus bangsa yang anti Tuhan dan bebas dari nilai-nilai agama. Hal itu berbeda dengan falsafah bangsa Indonesia. Di mana pancasila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Setelah memperkuat basis intelektual dan spiritual, maka pemerintah harus memperkuat emosional bangsa pemuda. Pemuda harus memiliki keterikatan emosi yang kuat dengan (selfbelonging). Tanpa rasa memiliki itu, pemuda tidak mau berjuang dan jadi bagian perubahan dan pembangunan bangsa ini. Bahkan, tidak memungkinkan, pemuda hanya akan jadi duri dalam daging bangsa.

Tidak sedikit anak bangsa yang menjadi penghianat-penghianat bangsa. Di Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka warga Indonesia. Tapi, mereka justru menjual bangsa ini kepada asing. Mereka bekerja hanya untuk diri sendiri dan golongan. Mereka bekerja untuk kekayaan sendiri tanpa memedulikan bangsa dan rakyat. Selain itu, tidak sedikit pula para pemuda yang tidak tertarik membangun bangsa.

Biasanya, mereka adalah para sarjana hebat dan pintar luar negeri yang sudah nyaman kerja dengan gaji tinggi di luar negeri. Hal ini karena apresiasi bangsa yang juga rendah. Negara tidak menghargai mereka. Padahal, di luar sana, para sarjana dan ilmuwan Indonesia sangat dihargai di luar negeri: diberi posisi prestisius dan gaji selangit. Karena itu, pemerintah harus memberikan posisi dan gaji yang sesuai bagi mereka.

Kendati demikian, tidak mudah mencetak pemuda berintelektual-religius yang peduli dan mau berjuang membangun bangsa. Seperti para founding fathers bangsa ini. Tantangannya banyak. Tidak saja faktor internal, tetapi juga eksternal. Untuk internal, pemuda banyak yang terjebak pemikiran pragmatisme. Mereka tidak menjadi agen perubahan tapi justru ikut dalam pusaran kekuasan yang pragmatisme dan cenderung rusak tanpa mau memperbaikinya. Gerakan-gerakan pemuda tidak lagi berdasarkan perjuangan dan idealisme.

Tetapi perjuangan pemuda sudah ditunggangi kepentingan-kepentingan politik dan golongan. Pemuda mengalami disorientasi perjuangan. Bukannya berjuang memperbaiki problematika bangsa, justru ikut dalam pusara kepentingan. Lihat saja sekarang banyak Organisasi Kepemudaan (OKP) yang jadi onderbow partai politik. Hampir semuanya jadi onderbouw partai politik. Biasanya, apapun warna dan coraknya, tetap muaranya ke partai politik.

Tak pelak, arah perjuangannya disetir dan pesanan partai. Hanya sedikit OKP yang benar-benar independen dan tidak terikat partai. Meski juga secara individual ada yang telah berafiliasi ke partai politik tertentu. Atau biasanya, menjadikan OKP itu sebagai batu lancatan dan alat untuk mencapai ranah politik. Makanya, langkah perjuangganya tidak idealis. Tapi pragmatis. Sudah dikotori dengan politik.

Pemuda yang berpikiran universal dan tidak disekat oleh kepentingan politik dan golongan sangat penting untuk mengeratkan keberagaman dan mencegah disintegrasi. Keberagamaan suka, agama, dan budaya itu harus diikat dengan pancasila yang jadi azas bangsa. Gerakan yang tidak tersekat oleh politik dan golongan biasanya akan melahirkan kesatuan. Karena itu, penting untuk melahirkan sosok pemuda yang memiliki integritas dan idealism untuk membangun bangsa.

Selain itu, factor eksternal. Pemuda digerus dengan berbagai macam arus globalisasi yang merusak tatanan nilai bangsa. Arus globalisasi yang kian tidak terbendung dengan kemajuan teknologi itu memaksa terjadinya akulturasi budaya. Media akulturasi budaya itu terjadi pada seni hiburan, musik, film, makanan, dan sebagainya. Nilai-niai asing yang diekspor negara asing yang acapkali berlawanan dengan budaya Indonesia itu. Walhasil, jika tidak kuat, maka pemuda masuk dan terjebak kepada budaya asing.

Maraknya seks bebas, narkoba, kenakalan remaja, minuman keras, dan sebagainya, tidak dimungkiri dampak daripada buruk dari efek globalisasi yang tidak terbendung. Berita seputar kejadian miris tersebut setidaknya hampir kita konsumsi setiap hari di media masa. Bahan, berita teranyar, para pemuda yang baru Ujian Nasional (UN) SMA/SMK melakukan seks besar. Sungguh memperihatinkan! Sayangnya, di satu sisi, langkah pemerintah untuk mencegah tindakan tersebut dinilai masih sangat minim.

Fenomena memilukan itu tidak dimungkiri telah menggerus pemuda. Pemuda yang diharapakan jadi generasi pelanjut dan memilhara kesatuan bangsa ini justru menjadi sampah pembangunan bangsa. Karena itu, pemerintah harus mengambil langkah konkrit dan cepat untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Sebab, fenomena tersebut sudah seperti gunung es. Besar tapi seolah tidak tampak. Jika hal itu dibiarkan, pada siapa lagi masa depan bangsa ini akan diharapkan?
Sumber : syaifulanshor.wordpress.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply