» » » GENERASI MUDA DAN KEMANDIRIAN BANGSA

Bercermin sejenak pada masa perjuangan pemuda dalam membangun bangsa ini. Bung Karno (proklamator Republik Indonesia), menggambarkan betapa menggelora darah pemuda dalam kalimatnya "berikan sepuluh pemuda untukku, akan kuguncangkan dunia ini". Betapa terlihat bahwa pemuda sangat berpengaruh dalam pembangunan bangsa. Sejarah pun mengatakan hal yang sama lewat catatan - catatan yang telah dituliskan para pemuda lewat perjuangan yang menggelora dalam membela dan memperjuangkan Republik Indonesia.
Lahirnya fondasi persatuan Indonesia juga diciptakan oleh gerakan anak muda yang tergabung dalam Jong Java, Jong Sumatra, Jong Jong Celebes, dan sebagainya. Munculnya Sumpah Pemuda yang menjadi pengikat nasionalisme bangsa.

Seluruh penduduk Indonesia adalah bangsa yang bersatu, berbahasa satu, dan tanah air satu. Sumpah pemuda merupakan sebuah keputusan politik yang diciptakan para pemuda saat itu untuk menjadi fondasi bangsa Indonesia hingga saat ini.

Meminjam terminologi Max Haveler, Indonesia sebagai bangsa yang belum selesai. Untuk itu, menuntut adanya peran serta elemen - elemen bangsa guna mewujudkan cita - cita Indonesia. Partisipasi pemuda sangat dibutuhkan dalam pembentukan jati diri bangsa untuk bersaing dengan dunia global.

Pemuda sebagai generasi harus menunjukkan fungsi historisnya sebagai agen perubahan sosial dan budaya. Lewat pembangunan character building di tingkat pemuda adalah jalan alternatif menuju kemandirian sebuah bangsa.

Pembangunan sebuah bangsa dapat dimulai dengan orientasi generasi muda pada kemandirian untuk menciptakan daya kreasi, mencipta, dan membudaya, sekaligus mengubur perangkap daya konsumsi yang menjadikan bangsa ini, selaku bangsa terkait dan ketergantungan pada dunia global. Pemuda sebagai agen inovasi dan pembaruan dalam peradaban dunia harus ikut andil dalam pembentukan karakter bangsa.

Bila belajar dari sejarah yang telah ditorehkan para pemuda pada masa kolonial dapat dikutip beberapa makna penting. Pemuda adalah harapan bangsa ini. Promotor setiap pergerakan guna membangun Republik Indonesia. Namun, segala tindak tanduk yang diperbuat oleh pemuda bukan hanya berlandaskan pada semangat juang yang tinggi dan kecintaan tanah air tetapi juga disertai dengan karakter bangsa yang kuat.

Tentu saja, karakter bangsa yang kuat menjadi pemicu dalam pembangunan bangsa. Karakter ini juga akan membentuk moral bangsa. Hal ini penting karena Republik Indonesia memiliki bangsa yang berbudaya dan berbudi pekerti luhur. Pemuda dengan kecintaannya terhadap budaya bangsa akan memiliki moral yang baik.

Pemuda Abad ke 21
Sejarah yang kita lihat, pemuda sekarang telah kehilangan nasionalismenya karena larut dalam gaya hidup global. Hedonis dan epigonistik. Melemahnya daya saing pemuda, tingginya tingkat penyalahgunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan meningkatnya penderita HIV/AIDS, tawuran, tindak kriminalitas, dan premanisme. Mereka juga tidak peduli terhadap budaya bangsa dan nilai - nilai tradisi lokal. Pemuda yang mulai terkikis kecintaannya terhadap budaya bangsanya.

Pemuda kian memiliki sifat individualistis. Salah satu fenomena yang saat ini menjadi sangat populer yaitu fenomena smartphone yang kini menjadi salah satu faktor lunturnya budaya bangsa. Bahkan fenomena ini kian membuat moral pemuda terperosot. Pemuda kian tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Hanya fokus pada dunia maya dari pada kehidupan sosialnya. Hal ini dikarenakan tidak bijaknya pemuda sebagai pengguna, dan sebagai sasaran globalisasi dan modernisasi.

Pemuda abad ke-21, bukan lagi dijajah secara fisik, tetapi dijajah pola pikir dan gaya hidupnya. Penjajahan yang tidak transparan merasuki kehidupan pemuda. Kita kian dicekoki dengan budaya instan, konsumerisme, dan hedonisme.

Suatu kebiasaan yang secara tidak sadar membentuk pola pikir yang menyerupai bangsa luar. Bangsa yang bebas, yang jelas berbeda dengan budaya bangsa Republik Indonesia.

Budaya instan, kaum muda baik kalangan siswa pelajar dan mahasiswa begitu merasa dimanjakan dengan segala sesuatu yang instan. Budaya instan kian menghantarkan kaum muda pada kebiasaan yang disebut dengan jalan pintas.

Proses untuk mencapai sesuatu tidak lagi dianggap sebagai pembelajaran tetapi dianggap sebagai hambatan dalam mencapai tujuan. Sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya secara instan.

Hal inilah yang akan merusak moral bangsa. Dampaknya sudah kita rasakan, akibat dari budaya instan adalah suap - menyuap, korupsi, nepostisme dan lain sebagainya. Budaya instan menanamkan paham agar semuanya dapat dilakukan dengan cara yang praktis.

Konsumerisme, suatu kebiasaan yang menumpulkan kreativitas dan produktivitas kaum pemuda. Bangga menggunakan produk luar negri dibandingkan dengan produk yang ada dalam negri. Sebagai pemuda yang memiliki kreativitas yang tinggi sebenarnya mampu memproduksi suatu barang, namun konsumerisme kian menjalar dalam pola pikir sehingga lebih menyukai mengkonsumsi daripada memproduksi.

Hedonisme, dari sekian kebudayaan asing yang mulai ditiru oleh kaum pemuda. Kebiasaan hidup yang terlalu bermegah - megahan. Memudarkan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Permasalahan pemuda pada saat ini bukan hanya terletak pada permasalahan sosial, tetapi juga ekonomi, politik, pendidikan bahkan pemerintahan.

Pemuda abad ke 21 bukanlah pemuda yang penuh dengan corak hitam saja, namun juga memiliki kegemilangan. Globalisasi dan modernisasi memang begitu dalam menyerang pola pikir pemuda, tetapi kecintaan pemuda terhadap tanah airnya kian membiaskan semangat pemuda untuk terus membangun moral bangsanya. Disamping dihadapkan dengan pada kenyataan yang pahit, sebagian pemuda juga memiliki prestasi yang membanggakan. Sepanjang tahun 2007, sejumlah karya ilmiah para pelajar Indonesia berhasil menyabet penghargaan di berbagai kompetisi Internasional.

Sementara dibidang olahraga, terdapat kecenderungan prestasi pemuda Indonesia terus meningkat. Hal itu terlihat dari prestasi Sea Games dengan naiknya peringkat Indonesia ke posisi IV yang sebelumnya berada di posisi V.

Kendati demikian harus diakui pula beberapa aspek dalam pembinaan pemuda dihadapkan pada beberapa persoalan dan tantangan. Persoalan dan tantangan kelembagaan maupun persoalan dan tantangan secara sosial.

Pemuda Sebagai Tampuk Pimpinan Bangsa
Berangkat dari sejarah, pemuda merupakan sosok yang memiliki idealis, keberanian, penuh kreativitas, serta sebagai promotor pergerakan. Pemuda merupakan tempat bergantungnya harapan bangsa ini.

Harapan sebagai pelestari kebudayaan bangsa yang bermoral, bermartabat dan berdaulat. Pemuda sebagai tampuk pimpinan bangsa. Pemuda harus bergerak atas nama kedaulatan bangsa. Ditangan pemuda keberlangsungan dan kemandirian Bangsa ini di jewantahkan.

Kemandirian bangsa tentu saja menjadi atensi dari semua elemen bangsa khususnya pemuda sebagai pengemban masa depan bangsa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda memiliki peranan sejarah yang penting dan berkelanjutan dalam perjalanan kehidupan berbangsa. Mengingat peranan dan posisinya yang strategis dalam konfigurasi kehidupan kebangsaan, sudah sepatutnya pemuda mesti dipandang sebagai aset sosial bangsa yang strategis. Secara kuantitatif, jumlah pemuda Indonesia hampir mencapai 40 persen dari total 200-an juta penduduk Indonesia atau sekitar 80 juta jiwa.

Sedangkan secara kualitatif, pemuda pun memiliki talenta dan kapasitas yang cukup memadai untuk menjalankan tugas-tugas kepeloporan dalam pembangunan nasional, demi menuju pencapaian kemandirian bangsa. Tantangan yang harus disadari saat ini adalah budaya asing yang mengrogoti budaya dan moral bangsa. Pemuda sebagai tampuk pimpinan bangsa bertanggungjawab penuh atas hal itu.

Seperti yang dituliskan dalam buku Rekonstruksi Pemuda, pemuda memiliki semangat yang tinggi layaknya percikan api yang menyala - nyala, jika api itu dimanfaatkan dengan sebaik - baiknya maka akan memberikan ekses positif, tetapi jika api itu disalahgunakan maka akan menghanguskan benda yang berada disekitarnya.

Pembangunan moral bangsa ada dipundak para pemuda. Pengawasan terhadap pemerintahan, sosial, budaya, dan ekonomi. Pemuda pada kalangan mahasiswa merupakan perkumpulan pemuda yang dapat bergerak dengan dinamis. Pada tingkatan ini pemuda akan lebih kritis terhadap pemerintahan.

Pemimpin yang tidak amanah, menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi sehingga menyengsarakan rakyat. Seperti kasus Ketua Mahkamah Konstitusi, penegak hukum yang terjerat kasus korupsi, Gubernur Banten yang tidak amanah, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Terjadi dekadensi moral. Pemuda harus terbakar semangat moralnya, mencintai nilai - nilai lokal tidak terlindas oleh pengaruh budaya asing.

Kitalah generasi penerus bangsa, ditangan kita bergantung harapan dan cita - cita bangsa. Kita pewaris tampuk pimpinan bangsa nanti. Moral adalah hubungan antara kita Tuhan, sesama, dan bangsa.

Semangat membangun bangsa ini harus terkait erat dengan pembangunan moral bangsa. Bangsa yang hebat, adalah bangsa yang baik moralnya, bermartabat, dan terpandang dimata dunia.

Jika kita sebagai pemuda tidak punya kekuatan untuk membela dan membangun bangsa ini dengan perang seperti masa kolonial setidaknya bukalah mata hati kita bahwa bangsa ini merindukan pemimpin yang amanah dan bermoral.

Dimana kitalah yang akan menjadi pemimpin bangsa ini kelak. Jika tak banyak yang bisa kita lakukan, cintailah budaya bangsa. Cintailah budi pekerti yang luhur. Peduli terhadap sesama, sadar lingkungan, dan cintailah tanah air ini.

Sebagai golongan pemuda dikalangan mahasiswa, yang harus kita lakukan sebagai promotor pergerakan adalah bergerak memplopori moral bangsa ini. Jika keterpurukan moral bangsa tak bisa kita cegah dengan tangan kita, maka cegahlah dengan perkataan kita, jika juga tidak mampu mencegahnya dengan perkataan maka cegahlah dengan menggunakan hati nurani memulai pembangunan moral dari diri sendiri, setidaknya itu lebih baik dari pada kita tidak peduli dengan rusaknya moral bangsa.
Sumber :  www.medanbisnisdaily.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply