» » » Fenomena Rokok di Kalangan Pelajar

Peringatan “Merokok Membunuhmu” terdapat pada spanduk iklan rokok di tahun 2014 ini, menggantikan peringatan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. “Merokok Membunuhmu” merupakan slogan semata atau sebuah kebenaran? Bukan hanya slogannya saja yang berubah, melainkan untuk sekarang di setiap bungkus rokok dilengkapi dengan gambar. Pemuatan gambar tersebut diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah (PP Nomor 109 tahun 2012) tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa tembakau bagi kesehatan. Tujuannya untuk memberikan informasi yang benar dan jelas kepada masyarakat agar berfikir rasional untuk membeli rokok. Perokok aktif tampaknya terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan pejabat, pengusaha, buruh, tukang ojeg, dan lain sebagainya, termasuk para pelajar. 

Di era modernisasi ini, tidaklah sulit menemukan pelajar yang sedang asyik merokok. Mulai dari pelajar tingkat SMP maupun SMA. Tongkrongan di pinggir jalan atau warung dekat sekolahan menjadi tempat pilihan untuk merokok. Tindakan merokok awalnya mereka lakukan sebagai wujud solidaritas dan gengsi, lama kelamaan menjadi kebiasaan sehingga menyebabkan ketagihan dan kecanduan. Pergaulan dan lingkungan berperan penting dalam memengaruhi seseorang menjadi perokok. Pelajar yang awalnya tidak merokok dan bergaul di sebuah komunitas yang di dalamnya kebanyakan perokok, biasanya akan berpengaruh lebih cepat untuk mulai mencoba dan merasakan hisapan rokok. 

Tindakan merokok secara bersama-sama merupakan bentuk solidaritas. Sehingga, pelajar yang enggan merokok pada perkumpulan tersebut dikatakan tidak memiliki rasa solidaritas, dan kerap menjadi bahan sindiran. Sindiran yang biasa diutarakan adalah “tidak merokok, berarti bukan lelaki jantan”. Dalam pergaulan, pelajar perokok kerap kali dikatakan sebagai lelaki jantan. Mengapa? Karena mereka berani melanggar aturan sekolah yang tidak memperkenankan merokok di lingkungan sekitar sekolah dan selama memakai atribut sekolah. Meskipun secara sembunyi-sembunyi tindakan merokok yang mereka lakukan, tetapi memberikan anggapan dari temannya bahwa dia orang pemberani. “Merokok Membunuhmu” merupakan kampanye anti rokok yang dilakukan oleh Pemerintah dan disampingnya bertuliskan 18+. Mengapa 18+? Dimungkinkan karena rokok diperbolehkan dikonsumsi oleh orang yang telah berusia 18 tahun ke atas. Padahal secara logika, jika pemerintah ingin semua rakyatnya tidak merokok, tinggal menutup akses perijinan rokok. Dengan tidak adanya ijin peredaran rokok oleh Pemerintah, berarti rokok dikatakan “barang ilegal”. 

Pelajar merupakan aset bangsa dan Negara yang harus dijaga akhlak dan kepribadiannya. Penjagaan aset tersebut harus dilakukan dengan kerjasama yang kuat antara orang tua, guru, masyarakat, dan Pemerintah. Demi terciptanya aset bangsa dan Negara yang berkualitas, aturan dan sanksi yang tegas harus diterapkan bagi pelajar yang diketemukan sedang merokok. Jalinan komunikasi harus dijalankan antar semua elemen, dan saling memberikan informasi serta menghimbau kepada semua penjual rokok agar tidak memperjualbelikan kepada pelajar yang masih mengenakan atribut sekolah. Dengan adanya jalinan komunikasi dan kerjasama yang baik, dipastikan aset tersebut dapat terjaga sehingga terhindar dari bahaya rokok. Sulit memang, namun melalui pendekatan dan pengarahan yang tepat, pasti lambat laun dapat menemukan titik terang. 

Bahaya rokok selain memengaruhi terhadap kesehatan, juga memengaruhi terhadap ekonomi. Harga rokok yang melebihi harga satu kilogram beras, kerap tak menjadi guyonan dan perdebatan. Namun, bagi pelajar yang belum mempunyai penghasilan, dipastikan mereka meminta jatah kepada orang tuanya untuk membeli rokok. Meskipun orang tua tak memberikan jatah rokok, pasti bagi perokok akan selalu ada jalan supaya bisa merokok, termasuk mengelabui orang tuanya sendiri.
Sumber : www.kompasiana.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply