» » » » » DPD KNPI Kota Semarang Gelar Dialog Publik dan Deklarasi Antiterorisme

Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Semarang menggelar acara dialog publik sekaligus deklarasi anti radikalisme dan terorisme di Gedung Juang 45 Jl. Pemuda, Semarang, Selasa (2/8/2016).

Kegiatan yang diikuti sekitar 200 peserta, utusan dari Organisasi Kepemudaan (OKP), perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Resimen Mahasiswa (Menwa) dan OSIS SMA se-Kota Semarang itu, menghadirkan tiga narasumber sekaligus.

Ketiga pemateri itu yakni Dr. Budiyanto (Tokoh Pemuda/Eksekutif), Ustad Fahrurrozi (Tokoh Agama/Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Semarang dan Ustad Mahmudi Haryono alias Yusuf (Mantan Teroris). Adapun dialog dipandu oleh Erick Sugeng Hadiyanto (Wakil Ketua DPD KNPI Jateng).

Ketua DPD KNPI Kota Semarang, Choirul Awaludin menuturkan, dialog publik sekaligus deklarasi anti radikalisme dan terorisme digelar karena gerakan atau isu radikalisme dan terorisme masih menjadi momok bangsa ini, tak terkecuali di Kota Semarang.

"Ini sebagai wujud komitmen generasi muda, mahasiswa, pelajar Kota Semarang untuk terus mengecam segala gerakan terorisme dan radikalisme," kata Choirul Awaludin, dalam rilisnya.

Menurutnya, pemuda jangan sekali-kali terlibat tindak terorisme dan radikalisme. Pasalnya, aksi terorisme jelas bertentangan dengan Pancasila serta UU 1945, bisa merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).



"Oleh sebab itu, kami (DPD KNPI Kota Semarang--red) sebagai wadah berhimpunnya organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan Kota Semarang terpanggil dan punya tanggung jawab untuk terus menggelorakan gerakan anti radikal di Kota Atlas ini," jelasnya.

Awal berharap, dengan dialog ini, setidaknya bisa mengembangkan kesadaran generasi muda Semarang akan bahayanya radikalisme dan terorisme, bisa menanamkan jiwa nasionalisme serta senantiasa memegang teguh pancasila dan UUD 1945.

“Pemuda; Maju…! Siapa kita; Indonesa…! NKRI; harga mati…! KNPI; Jaya…! Teroris; musuh kita bersama…!,” seru Awaludin--sapaannya, berapi-api yang ditirukan peserta dialog.

Seorang narasumber yang merupakan mantan teroris, Mahmudi Haryono alias Yusuf, menuturkan bahwa bicara terorisme, yang mudah dipengaruhi adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Sebab, kaum muda cenderung memiliki ketertarikan terhadap hal baru.

Menurutnya, hal yang menyebabkan, orang menjadi teroris adalah adanya paham takfiri (paham yang dengan mudahnya, mengkafirkan orang lain) dan bahkan hartanya halal dirampok.

"Saya punya PR untuk meluruskan para teroris, baik yang masih ditahan ataupun yang belum atau yang berada diluar,” ucapnya.

Ustad Yusuf juga menceritakan pengalamanya selama menjadi teroris, dimana ia pernah ikut berperang langsung. Ia juga pernah menyimpan bahan peledak 1 ton di Semarang Barat. Hingga kemanapun ia pergi harus menggunakan nama dan alamat palsu.

"Saya pernah masuk tahanan, tahun 2009 bebas dari Nusakambangan. Kini saya sudah taubat dan menyesal, apa yang dulu saya perbuat ternyata salah,” ungkapnya dengan penuh penyesalan.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply