» » » Pemuda dan Perubahan Sosial


Kesenjangan sosial di Indonesia bukan seperti cerita baru dalam sejarahnya. Konflik agraria, konflik buruh dan majikannya, jual-beli hukum, kesewenang-wenangan pemimpin dengan bawahan, investasi asing dengan sistem pembagian hasil yang timpang dan tak lupa juga kasus korupsi yang dilakukan dari tingkat bawah sampai dengan elite terus terjadi. Pergantian pemimpin bukan menjadi solusi nyata.

Kita masih ingat tragedi 98 di mana gerakan rakyat dan mahasiswa menyeruak untuk menuntut kejumudan oligarki Soeharto, berganti pada masa reformasi yang masih menyisakan embrio orde baru masih belum ditemukan perubahan sosial yang cukup signifikan.

Max Weber menyebutkan tiga syarat adanya perubahan sosial; figur yang kuat, ideologi yang jelas, dan gerakan rakyat. Bila kita telisik dari tiga hal tersebut, masih belum ada figur yang representatif. Proses pemilu yang berjalan selama ini hanya terkesan acara ceremonial belaka. Pemimpin hanya ditentukan melalui berapa kuat jalinan komunikasi dan donasi pihak penyelenggara dan si calon.

Menelisik tentang ideologi, Daniel Bell pada tahun 1960 dulu sudah menyebutkan hal The End of Ideology. Pertarungan dua ideologi besar kapitalisme dan sosialisme sudah berakhir, keduanya bahkan sudah bercumbu mesra untuk meneguhkan posisi masing-masing dengan dalih memenuhi kebutuhan masyarakat. Tranformasi ideologi dengan neo-neonya serta post-postnya juga masih belum bisa kita jadikan acuan mutlak untuk menuju perubahan sosial.

Agama mulai muncul dalam perhelatan dua ideologi besar tersebut dengan menawarkan ideologi baru, hanya saja agama masih belum bisa membumi dan berkontekstual dalam perubahan zaman. Ia masih ‘melangit’ dan terkesan konservatif. Bahkan pasca era reformasi, mulai banyak bermunculan gerakan yang mengatasnamakan agama untuk melanggengkan teokrasi itu sendiri.

Dalam hal gerakan massa, penulis menilai gerakan massa paska reformasi di Indonesia masih terkotak-kotak dengan pola gerakan yang parsial-sporadik. Perbedaan ideologi serta cita-cita masih belum bisa tersatukan. Kelompok terpelajar (mahasiswa) yang digadang-gadang oleh rakyat sebagai salah satu agen perubahan pun masih belum menemukan pola gerakan yang jelas.

Pendidikan menjadi salah satu syarat mutlak dalam sebuah perubahan. Kita tidak bisa mengharapkan pola pendidikan yang selama ini diselenggarakan oleh pemerintah mampu mengantarkan kita menuju perubahan yang ideal. Pendidikan yang membebaskan dan berpihak masih belum menjadi acuan utama dalam kurikulum pendidikan.

Lebih parahnya, pendidikan malah menjadi sebuah komoditas yang bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Memang pemerintah mencanangkan program wajib belajar, namun untuk tingkatan lebih lanjut, hanya beberapa persen saja yang bisa menikmati glamornya bangku perkuliahan.

Pendidikan rakyat yang bersifat membebaskan perlu sekiranya menjadi sebuah alternatif untuk menuju perubahan yang dicita-citakan oleh founding father kita. Pendidikan yang tidak mengalienasikan peserta didiknya jauh dari kondisi realita yang ada, pendidikan yang berpihak kepada mereka yang terzalimi, terpinggirkan dan tertindas. Tidak pendidikan yang hanya bersifat netral dan ‘siap pakai’ untuk memenuhi pasar dalam bursa pencarian tenaga kerja.

Dari pendidikan itulah, muncul sosok-sosok yang memiliki cita-cita perubahan secara holistik dan mampu mengajak orang-orang yang berada dalam lingkup komunitasnya untuk membentuk sebuah gerakan massa. Kita masih ingat banyaknya tokoh-tokoh dunia revolusioner yang berhasil mengajak segenap rakyat untuk ikut bergerak melawan oligarki.

Soekarno meski seorang insinyur mampu mengantarkan rakyat Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan dengan konsep marhaenismenya. Tan Malaka yang berhasil mendirikan sekolah rakyatnya di Semarang. Che Guevara yang seorang dokter mampu memimpin gerakan gerilya di Kuba dengan gaya marxisnya, Ali Syari’ati yang seorang intelektual mampu meruntuhkan rezim Iran dengan gerakan rausyan fikr-nya.

Memang tidak sedikit juga tokoh gerakan di Indonesia yang sempat melawan dan bergerak, hanya saja kebanyakan dari sekarang mereka sudah terbutakan oleh sinar mewah birokrasi. Alih-alih ikut masuk sistem untuk merubah kondisi rakyat, malah terdiam duduk manis termanjakan nikmatnya kue birokrasi.

Perubahan secara revolusioner dan evolusioner bagi penulis masih dipandang belum bisa berdamai. Revolusioner dengan mengorbankan ribuan nyawa, atau evolusioner yang masih terus merangkak menunggu hingga tergusur era globalisasi. Penulis mengharapkan perubahan bisa dimulai dari satu orang ke orang lain hingga tercipta sebuah kelompok terdidik yang benar-benar live-in dengan masyarakat tingkat terkecil.

Maka itu, penulis mencoba untuk memformulasikan gerakan diawali dengan gerakan penyadaran dan sekolah-sekolah rakyat yang dilakukan secara berkala dengan empowering masyarakat dan anggota sesuai dengan minatnya. Bahkan tidak mungkin juga agenda-agenda spiritual rutinan seperti tahlilan dan istigasah bisa menjadi salah satu target untuk penyadaran.

Tak lupa harus mewujudkan berdikari secara ekonomi dengan membentuk unit-unit usaha secara kolektif. Serta agenda penggiringan opini massa dengan penerbitan gagasan serta pemaparan kondisi aktual kekinian dan kampanye-kampanye kreatif. Hingga terbentuk sebuah komposisi masyarakat yang diharapkan bisa menjadi contoh bagi masyarakat di daerah-daerah lain.
Sumber : mahasiswabicara.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply