» » Pemuda Indonesia yang Semakin Apatis Membuat Bangsa Indonesia Terhanyut

Seiring perkembangan zaman, teknologi yang semakin maju membuat kemajuan komunikasi yang sangat pesat saat ini. Hal ini telah melanda di seluruh dunia. Semua orang dapat mengetahui informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat cepat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya social media yang sangat berkembang pesat, seperti twitter, Facebook, path, pinterest, instagram, yahoo mail, blackberry massenger, line, wechat dan lain-lain.

Dalam hal ini semua orang bebas untuk memiliki social media tersebut secara gratis maupun berbayar. Fungsi dari social media ini memiliki satu tujuan menyebarkan dan menyalurkan informasi serta berbagi dengan teman-teman meskipun berbeda jarak dan waktu. Indonesia juga tidak luput dari perkembangan zaman ini. Hampir rata-rata orang Indonesia menikmati social media ini bahkan telah menjadi kebutuhan. Kaum muda menganggap ini adalah trend. Jadi, hampir rata-rata setiap orang memiliki lebih dari satu social media. Berdasarkan hasil riset membuktikan bahwa Indonesia berada di urutan keempat pengguna Facebook terbanyak di dunia dan urutan kelima untuk pengguna Twitter. 

Sebagai salah satu negara dengan penduduk paling banyak, wajar saja jika kita termasuk sebagai salah satu pengguna jaringan sosial terbanyak di dunia. Apalagi rata-rata rakyat Indonesia adalah penduduk usia produktif. Seharusnya, dengan banyaknya para pemuda yang menggunaka jaringan sosial semakin banyak juga pemduda pemikir yang lahir dengan ia mengetahui berbagai masalah yang terjadi baik di Indonesia maupun di dunia. Namun, faktanya semakin berkembangnya komunikasi malah membuat semakin banyak pemuda yang apatis. Tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di lingkungannya. Membuat mereka semakin individualisme, tidak lagi peduli dengan masalah bangsa ini.Tidak memiliki semangat nasionalisme dan patriotisme yang ingin membanggakan negeri tercinta ini.

Ini terlihat dengan lebih banyak para pemuda yang merasa bahwa ketika mereka bisa berbahasa Inggris jauh lebih terlihat keren dibandingkan belajar mengenai bahasa Indonesia. Sebenarnya tidak ada yang salah mempelajari bahasa asing malah sangat di anjurkan seiring dengan perkembangan zaman, kita dituntut untuk bisa berbahasa asing selain bahasa ibu negeri sendiri. Tapi, ini menjadi buruk ketika kita kehilangan rasa kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia. Padahal masih banyak rakyat Indonesia yang tidak mengerti berbahasa Indonesia. Seharusnya, kita sebagai kaum muda berbagi ilmu dengan saudara kita agar mereka tahu identitas mereka ialah rakyat Indonesia.

Selain itu, para pemuda Indonesia banyak yang bersifat hedonisme. Kecanggihan teknologi bukan digunakan untuk masyarakat, berbagi ilmu pengetahuan dan berlomba-lomba dalam mengharumkan nama bangsa. Akan tetapi lebih kepada hanya untuk bersenang-senang, prestigious, dan pamer. Hal ini malah menimbulkan saling iri kepada temannya yang lain. Dengan bangga mereka memamerkan gadget terbaru yang mereka miliki di jaringan sosial yang ada. Bangga akan hal tersebut membuat orang lain yang tidak mampu untuk membelinya akan iri dan memaksa kedua orang tuanya untuk membeli gadget tersebut yang hanya digunakan untuk mengikuti trend semata. Saat ini, yang kaum muda pedulikan hanya fashion, gadget, dan kehidupan pribadinya semata. Saat ini orang tidak lagi segan menyebarkan mengenai kehidupan pribadinya atau kita sebut dengan “curhat” di social media dimana hanya untuk mencari simpatik belaka. Padahal hal tersebut, bukanlah menjadi jalan solusi permasalahan tersebut yang ada malah semakin terperosok karena ia tidak curhat pada tempatnya. Banyak kaum muda yang malah menyelesaikan masalah dengan bunuh diri, menyiksa diri sendiri dengan mengurung diri. Tidak ada lagi musyawarah, percaya kepada orang lain. Yang ada ia hanya merasa sendiri.

Betapa sedihnya banyak nyawa yang terbuang sia-sia karena hal tersebut. Selain itu banyak kaum muda yang lebih peduli akan fashion daripada pendidikannya. Yang penting bagaimana bisa tampil menarik dengan mengikuti trend fashion yg ada meskipun tidak sesuai dengan dirinya dan budayanya. Semua hanya dinilai dari packagenya semata, pendidikan diabaikan. Merasa bahwa yang didalam adalah perihal kedua yang penting bagian luarnya. Hanya tinggal sedikit kaum muda intelektual yang selalu memikirkan visi dan misi kedepan tidak hanya untuk dirinya tapi masyarakat sekitarnya.

Ini terlihat semakin sedikit para pemuda yang antusias untuk bergabung di organisasi-organisasi kepemudaan ataupun komunitas pencinta lingkungan. Banyak malah bergabung di komunitas pecinta artis idola ataupun pemuja trend fashion masa kini. Ini terlihat dari berbagai akun sosial media yang ada, bukannya berbagi informasi demi kemajuan bangsa akan tetapi hanya mengenai dirinya sendiri bahkan terkadang sesuatu yang sangat tidak pantaspun juga dibagikan ke sosial media tersebut. Banyak yang malah menganggap bahwa fashion dan gadget lebih dari trend tapi kebutuhan yang malah membuat kaum muda semakin apatis. Tidak mengerti lagi nasionalisme, tidak peduli dengan masalah kenegaraan dan kebangsaan yang ada. Yang ada hedonisme, kekerasan, dan individualisme. Tidak hanya itu banyak pemuda yang saat ini hanya peduli dengan kekerasan seperti saat melakukan aksi protes menghancurkan fasilitas publik dengan seenaknya dan malah kebanyakan dari mereka hanya ikut-ikutan saja tanpa tahu apa yang diproteskan.

Sebagai pemuda penerus bangsa seharusnya kita lebih peduli lagi dengan masa depan maupun masa kini mengenai bangsa dan negara ini. Bukan pemuda apatis yang hedonisme dan individualisme. Mari bersama kita mencari solusi perihal tersebut. Mari kita laksanakan sumpah pemuda tersebut yang lahir dari pemikiran-pemikiran para pemuda pejuang bangsa terdahulu. Jangan sampai kita terhanyut oleh kemilauan perkembangan teknologi, teruslah mendayung demi kemajuan bangsa kita tercinta ini.
Sumber : lskpontianak.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply