» » » » MENJAGA KEUTUHAN NKRI, KNPI KOTA SEMARANG GELAR DIALOG KEBANGSAAN




Semarang,(2/9/14). DPD KNPI Kota Semarang menanggapi secara serius berbagai hal maupun isu yang disinyalir dapat memecah belah keutuhan dan kedaulatan NKRI. Bertempat di Sate House Sriwijaya Jl. Imam Bonjol 48, sebuah acara “Dialog Kebangsaan” sengaja digelar dengan maksud untuk menyikapi maraknya pemberitaan dan kepetingan golongan yang hendak mengganti ideologi pancasila. Bertajuk “Gerakan Cegah Penyebaran ISIS di Indonesia” KNPI berusaha menjadi salah satu garda depan dalam menjaga bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika ini.
Joko Santoso, SE (Ketua KNPI Kota Semarang) dalam sambutannya menyerukan kepada seluruh pemuda, khususnya pemuda kota semarang untuk tetap teguh menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Sebagaimana diketahui bersama bahwasanya tidak boleh ada yang siapapun merubah ideologi bangsa ini. Sebuah ideologi besar yang telah dirumuskan para founding father negara ini.
Hadir sebagai pembicara, Pasintel Ragil Sutarman mewakili Letkol. Inf Muhammad Taufiq (Komandan Kodim 0733 BS/ Kota Semarang) yang berhalangan hadir. Ragil menyampaikan beberapa hal terkait dengan penjagaan keutuhan NKRI ini. Secara lebih lanjut juga menghimbau kepada seluruh elemen pemuda untuk bertindak sinergis dengan pemerintah dalam pencegahan teroris.
Dr. Teddy Kholiluddin, MA (LAKPESDAM NU Jawa Tengah) menyampaikan akar gerakan dan ideologi radikalisme islam dari tinjauan akademis. Disampaikan secara lebih lanjut bahwasanya inklusifisme dalam keagamaan terjadi pada semua agama, lebih khusus pada Islam dikarenakan adanya doktrinasi dengan “pendewaan makna literal ayat” (penyampaian makna literal dan bukan makna tafsir dari ayat). Terdapat paradok bahwasanya ide khalifah ini dapat muncul dari negara demokratis yang mayoritasnya muslim, bukan dari negara yang bercorak islam secara kuat.
Selanjutnya Drs. H. Najahan Musyafak, MA (Forum Komunikasi Pencegahan Teroris Jawa Tengah) menyampaikan bahwasanya isu utama yang sedang berkembang adalah jihadis dan khilafah. Lebih lanjut Najahan menyampaikan adanya gerakan-gerakan radikalis dilatarbelakangi dari persoalan politik, ekonomi yang memunculkan budaya tanding. Hal ini secara lebih mudah terlihat dengan lunturnya identitas diri dan bergesernya nasionalisme.
Acara yang dihadiri 200 orang delegasi dari berbagai organisasi kepemudaan di kota semarang ini berlangsung menarik, dengan adanya beragam tanggapan dan pertanyaan yang muncul dari peserta. Dialog ditutup pada pukul 13.00 WIB, 15 menit lebih lama dari waktu yang diagendakan. (Rifqi-Aryo-Tuchin)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply