» » Wahai pemuda, Siapakah engkau kini ?

Wahai pemuda, Siapakah engkau kini ?SEBENARNYA kurang enak membanding-bandingkan antara pemuda  Indonesia zaman dulu dengan pemuda Indonesia zaman sekarang, tetapi apa  boleh buat, kita harus melakukannya, karena pemuda zaman dulu dengan  pemuda zaman sekarang memang berbeda.

Kalau  diperhatikan secara seksama, kemudian dilakukan pengelompokan, maka  pemuda Indonesia dapat dikelompokkan dalam lima generasi.

Generasi pertama, yaitu pemuda Indonesia yang baru belajar  berorganisasi di akhir abad ke-19 hingga pemuda Indonesia yang mulai  membentuk organisasi pada awal abad ke-20. Organisasi yang mereka bentuk masih bersifat lokal dan namanya hampir seragam.

Organisasi pemuda yang cukup besar dan disebut-sebut sebagai organisasi pemuda nasional pertama di Indonesia, berdiri pada 1908, dengan nama  Boedi Oetomo (Budi Utomo = Budi Utama).

Boedi  Oetomo adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh pemuda bernama  Soetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal  gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Boedi Oetomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering  dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen  (STOVIA) oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan  Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman.

Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk, selalu dianggap bodoh dan  tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta memikirkan bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu.

Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di  salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia  menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka.  Maka lahirlah Boedi Oetomo.

Namun, para pemuda  juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih  banyak, jadi bukan hanya berorganisasi. Oleh karena itu, mereka  berpendapat bahwa “kaum tua”-lah yang harus memimpin Budi Utomo,  sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan  organisasi itu.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah  kemudian menetapkan tanggal 20 Mei (hari berdirinya organisasi Boedi  Oetomo) sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Sumpah Pemuda

Generasi kedua, yaitu para pemuda Indonesia yang mengadakan “Kongres  Pemuda II”, yang melahirkan lagu Indonesia Raya, dan yang mencetuskan  Sumpah Pemuda, di Waltervreden (sekarang Jakarta), pada Oktober 1928  atau 20 tahun setelah terbentuknya Boedi Oetomo.

Puluhan pemuda Indonesia dari berbagai provinsi mengikuti pertemuan  itu. Mereka berasal dari berbagai suku, agama, dan ras. Perbedaan dan  kepentingan pribadi maupun golongan, telah lebur menjadi satu jiwa yaitu persatuan dan kesatuan menuju terciptanya sebuah negara dan bangsa  merdeka yang dicita-citakan.

Gagasan  penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar  Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan  pelajar dari seluruh Indonesia.

Kongres  berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Para perwakilan pemuda yang hadir antara lain Ketua panitia: Soegondo  Djojopoespito (PPPI), Wakil Ketua RM Djoko Marsaid (Jong Java),  Sekretaris Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), dan Bendahara Amir  Sjarifuddin (Jong Bataks Bond).

Selanjutnya Pembantu I  Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), Pembantu II R Katja  Soengkana (Pemoeda Indonesia), Pembantu III Senduk (Jong Celebes),  Pembantu IV Johanes Leimena (yong Ambon), serta Pembantu V Rochjani  Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi).

Puluhan pemuda  lainnya juga aktif sebagai peserta. Pertemuan tersebut juga dihadiri Van der Plaas yang mewakili Pemerintah Belanda. Selain itu, juga hadir  Golongan Timur Asing Tionghoa sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda. Mereka berjumlah empat orang, Kwee Thiam  Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien kwie.

Pada Kongres Pemuda II inilah lahir gagasan kepanduan (sekarang gerakan  Pramuka), kemudian lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman  pertama kali dinyanyikan (dengan biola), serta dibacakan Sumpah Pemuda.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 28  Oktober (hari lahirnya Boedi Oetomo) sebagai “Hari Sumpah Pemuda.”

1945, 1966, 1998

Generasi ketiga, yaitu pemuda Indonesia yang sudah semakin berani berorganisasi, yang melahirkan banyak organisasi, dan yang kemudian memaksa Sorkarno  dan Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik  Indonesia pada 17 Agustus 1945. Merekalah yang disebut sebagai Angkatan  1945.

Generasi keempat, yaitu pemuda Indonesia yang  didominasi mahasiswa, yang berhasil menumbangkan pemerintahan Orde Lama  di bawah kepemimpinan Soekarno dan juga mengenyahkan Partai Komunis  Indonesia (PKI) dari Bumi Nusantara.

Mahasiswa  yang berasal dari berbagai organisasi mengadakan pertemuan di bawah  koordinasi Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen  dr. Syarief Thayeb, membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)  pada 25 Oktober 1966. Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis  mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih  terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Setelah KAMI, muncul pula Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI),  Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana  Indonesia (KASI), dan lain-lain. Pemuda dan mahasiswa Indonesia ketika  itu banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru.  Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan ’66, yang menjadi awal  kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional.

Angkatan ’66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI.

Generasi kelima, yaitu pemuda Indonesia yang bersama sejumlah tokoh  nasional-antara lain Amien Rais-berhasil menumbangkan pemerintahan Orde  Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, pada Mei 1998. Aksi para  pemuda ini disebut sebagai Gerakan Reformasi.

Setelah  lima generasi pemuda Indonesia berlalu, masih akan lahirkan pemuda  Indonesia generasi keenam? Waktu jualah yang akan menjawabnya nanti.  Namun, yang perlu ditanyakan kepada para pemuda zaman sekarang, siapakah mereka kini.

Wahai pemuda Indonesia, siapakah  engkau kini? Masihkan engkau memiliki jiwa kejuangan, semangat persatuan dan kesatuan, serta motivasi membangun dan mengisi kemerdekaan?

Wahai pemuda Indonesia, siapakah engkau kini? Engkaukah yang selalu  melakukan aksi unjukrasa secara anarkis, engkaukah yang kini terlibat  menjadi pengangguran terdidik, engkaukah yang kini “berselingkuh” dengan birokrat dan politisi mencuri uang negara?

Maafkan kalau kami bertanya, karena kami tidak mengenalimu lagi. Semoga engkau  bisa mewujudkan dirimu secara sempurna, sehingga kami bisa mengenalimu  dirimu lagi seperti dulu.

Sumber : bandungmagazine

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply