» » Sumpah Pemuda dan Pengaruhnya bagi Integrasi Indonesia

http://www.bajaringankania.com/2014/08/baja-konvensional-dan-baja-ringan.html
Wawasan kebangsaan Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada masa lalu seirama dengan dinamika pertumbuhan dan perkembangan pergerakan kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu, sifat dan corak perkembangannya tampil sesuai dengan sifat dan corak organisasi pergerakan yang mewakilinya. Dari pertumbuhan dan perkembangan organisasi pergerakan kebangsaan Indonesia seperti Boedi Uetomo, Sarekat Islam, Indische Partji, Perhimpunan Indonesia, dan lain-lain, tampak bahwa proses pendewasaan konsep nasionalisme kultural, berkembang menjadi sosio ekonomis, dan memuncak menjadi nasionalisme politik yang merupakan aspek multidimensional.

Sebuah fenomena sejarah yang merupakan momentum sangat penting dalam proses penguatan konsep wawasan kebangsaan Indonesia terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam itulah modal yang sangat berharga bagi terbentuknya sebuah “Nation-State” telah disepakati. Adanya kehendak bersama untuk bersatu itu akan mengatasi alasan-alasan seperti kedaerahan, kesukuan, keturunan, keagamaan, dan sejenisnya dengan tetap menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Sejak peristiwa tahun 1928 itu, dunia dikejutkan oleh kemampuan dan kesanggupan bangsa Indonesia untuk bersatu padu dalam kemajuan.

Mengenai integrasi Indonesia, akhir-akhir ini muncul isu-isu disintegrasi Indonesia. mulai dari ketegangan di Irian Jaya, kerusuhan di Ambon dan Madura baru-baru ini, serta gerakan-gerakan sparatis daerah seperti di Aceh dan masih banyak yang lainnya. Isu-isu perpecahan Indonesia semakin merebak dengan adanya masalah pengakuan budaya kita oleh negara lain. Kita ingat permasalahan pulau Sipadan dan Ligitan yang diatasnamakan milik Malaysia, tak hanya itu saja pengakuan atas tari Reog Ponorogo juga diperebutkan. Bahkan pada tahun-tahun sebelumnya bibit perpecahan itu sudah Nampak. Mulai dari permasalahan PKI Madiun, Gerakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo (1948-1962) merupakan wujud ketidakmampuan kita dalam mempertahankan bagian dari bangsa ini dalam konteks nasionalisme.

Sumpah pemuda berisikan jiwa persatuan yang berlatar belakang Bhineka Tunggal Ika yang berarti bahwa bangsa Indonesia itu sendiri terdiri dari macam-macam suku bangsa sebagai realitas kebudayaan dan realitas politik yang bersama-sama hidup sebagai satu dengan penuh toleransi. Dengan demikian persatuan dapat tercapai dan dipertahankan kalau ke-bhinekaan diperhitungkan sebagai realitas yang memilki elemen mutlak yaitu toleransi. Tanpa memiliki toleransi maka persatuan Indonesia akan selalu goncang.

Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang menggoncangkan persatuan pada waktu itu. Jika ditinjau dari sebab-musabab pemberontakan tersebut serta meninjau ideology PKI ini dapat disimpulkan bahwa PKI tidak memiliki toleransi (dalam hal toleransi ideology) terhadap ideology-ideologi lain. Pemberontakan PKI 1948 tyersebut menyalahi Sumpah pemuda. Toleransi merupakan unsur mutlak dalam sumpah pemuda. Gerakan Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo pun bekisar pada soal toleransi beragama yang jika dilihat dari sudut sumpah pemuda tidak tercermin dari gerakan Kartosuwiryo ini.
Gerakan-gerakan kedaerahan yang pernah terjadi di waktu-waktu yang lalu menjadi bahan renunagan kita semua untuk meresapi lagi jiwa sumpah pemuda. Sesuai Sumpah Pemuda gerak-gerik kita harus selalu dikaitkan pada arti persatuan yang memiliki latarbelakang berupa realitas-realitas kedaerahan yang juga merupakan kekuatan. Pada hakekatnya Sumpah Pemuda adalah Nasionalisme Indonesia, Patriotisme Indonesia, yang seiring dengan makna lagu Indonesia Raya, bendera Sang Saka Merah Putih, kemudian falsafah Pancasila dan Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Lebih-lebih karena Sumpah Pemuda sangat menentukan artinya bagi pergerakan kemerdekaan nasional kita yang memuncak pada Proklamasi Kemerdekaan dari 17 Agustus 1945.

Melihat segala bentuk permasalahan ketahanan negara kita pada mulanya bermuara dalam konteks nasionalisme. Dalam kemelut perpecahan antar daerah yang semakin lama semakin menjadi-jadi di negeri ini, pemerintah sendiri juga selalu berusaha agar sekelompok golongan yang bersengketa mengadakan persatuan. Persatuan dan kesatuan suatu negara tidak hanya mampu di kendalikan oleh birokrasi pemerintahan dan pertahanan negaranya saja, akan tetapi pemuda-pemuda bangsalah yang harus menetapkan dasar kuat bagi persatuan Indonesia agar persatuan itu menjadi kekal abadi.

Menurut M. Yamin, pendidikan disebut sebagai faktor utama persatuan. Tentunya pendidikan yang diperkaya dengan nilai bertanah air dan berbangsa Indonesia. sedangkan untuk faktor kemauan bagi kepentingan persatuan Yamin menganut teori dari Ernest Renan (1823-1892) ahli filsafat bangsa Perancis, bahwa bangsa (nation) itu timbul karena sejarah yang dialami bersama-sama dan juga karena kemauan akan hidup bersama. Namun demikian, sepantasnya harus dihargai bahwa dalam proses penyatuan dari berbagai sifat kedaerahan menjadi sifat nasional merupakan suatu proses integrasi yang nilainya sangat dalam.

Sumber : sejarahku

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply