» » Pemuda, Perubahan dan Masa Depan Indonesia

Pemuda, Perubahan dan Masa Depan Indonesia
Pada mulanya organisasi pemuda itu masih bersifat primordialisme, kesukuan,
etnisitas dan berdasarkan keagamaan. Mereka berjuang hanya dan demi kelompoknya. Perjuangan untuk melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan dan berujung pada melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Pengalaman empiris menyatakan kepada mereka bahwa perjuangan yang berdasarkan kelompok dan kepentingan sektarian itu tidak akan berbuah hasil yang manis. Alih-alih melepaskan belenggu dari penjajahan malah menjadi lebih mudah untuk diadu-domba. Mereka perlahan-lahan mengendurkan ego kelompok atau ego primordialisme, dan lebih menonjolkan kepentingan yang lebih tinggi dari itu. Mereka menyadari hanya persatuan dan kesatuan yang akan membuat mereka kuat dan merupakan cikal bakal dan benih intelektual yang kelak akan dipetik hasilnya berupa: Kemerdekaan.

Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten, Sekar Rukun, PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia), Pemuda kaum Betawi berkumpul dan melebur menjadi satu. Satu tekad, satu harapan dan satu tujuan untuk bahu-membahu mengangkat derajat bangsa dari keterpurukan kolonialisme dan imperialisme. Kolonialisme yang menjadikan bangsa kita menjadi bangsa kuli. Kemiskinan, kebodohan, dan kemelaratan menjadikan bangsa terjajah tak berdaya dan tak dapat keluar dari kubangan tersebut. Imperialisme yang mengeruk seluruh harta karun bangsa terjajah dan memindahkan ke negara imperialis. Harta karun baik berupa barang tambang dan tanaman yang bernilai jual, juga harta karun berupa produk-produk kebudayaan. Produk-produk kebudayaan bangsa kita sekarang ini banyak dipindahkan ke negeri-negeri asing.

Pemuda Tionghoa juga tidak mau ketinggalan kereta “Sumpah Pemuda”. Mereka yang pada saat itu, yang notabene, adalah orang-orang asing dan tidak termasuk salah satu suku asli di Indonesia, mengambil tempat di dalam Kongres Pemuda itu. Negara Indonesia pada saat itu belum ada dan primordialisme melingkupi seluruh Hindia Belanda. Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, Tjio Tjien Kwie tampil sebagai pengamat. Sementara Kwee Tiam Hong hadir sebagai wakil dari Jong Sumatranen Bond. Demikian pula keturunan Arab, AR Baswedan mengumandangkan Sumpah Pemuda keturunan Arab di Semarang.

Sumber : http://duniapemuda.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
This is the last post.

Tidak ada komentar:

Leave a Reply