» » Pemuda di Tengah Badai Identitas

Pemuda di Tengah Badai IdentitasPresiden pertama bangsa Indonesia, Soekarno, pernah berkata bahwa berikan aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, tapi berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.

Hakikatnya seorang pemuda merupakan roda penggerakan bangsa. Sebagai seorang pemuda, sudah seharusnya bisa menjadi teladan yang baik bagi generasi berikutnya. Namun apa yang terjadi akhir – akhir ini, agaknya bisa menjadi pelajaran bagi semua kalangan yang ada.

Pada tahun 2011, tercatat dalam data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) bahwa telah terjadi tawuran antar-pelajar sebanyak 339 kasus dan memakan 82 orang korban jiwa. Padahal pada tahun sebelumnya hanya 128 kasus. Tak jauh beda dengan data di atas, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir terdapat 107 kasus pengaduan kekerasan kepada anak dengan bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, pembunuhan, dan penganiayaan.

Fakta di atas sangatlah memprihatinkan jika dibandingkan ketika melihat apa yang terjadi pada era pra kemerdekaan Indonesia, saat itu semua elemen pemuda bergerak secara bersama–sama dalam satu komando tanpa ada perselisihan sedikitpun. Kala itu semua pemuda sadar bahwa kepentingan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi. Mereka paham akan arti persatuan dan kesatuan bangsa, tidak seperti saat ini. Pemuda saat ini selalu mendahulukan egonya dalam bertindak tanpa memikirkan apa konsekuensinya terlebih dahulu sehingga masih banyak pemuda yang tidak sadar akan potensinya masing-masing.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011, jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 usia muda lebih banyak daripada usia tua. Dalam data tersebut disebutkan bahwa jumlah anak kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Diperkirakan pada tahun 2045, mereka yang berusia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun, dan mereka yang berusia 45-54 tahun. Dari data di atas jelas bahwa jika para pemuda tidak bersiap siaga mulai dari sekarang, kita tak akan tahu apa yang akan terjadi pada bangsa ini kelak. Pemuda memegang peranan penting dalam pembanguan bangsa ini kala itu, karena banyak dari negara-negara lain yang malah berkurang jumlah pemudanya karena rendahnya tingkat kelahiran bayi saat ini, seperti Amerika, Jepang, dan beberapa negara di Eropa.

Pemuda yang dibutuhkan Indonesia saat ini dan di masa depan adalah pemuda yang berkarakter. Karakter seorang pemuda dapat digali lebih dalam melalui kepribadiannya. Namun hal itu sangat tidak mungkin dilakukan untuk masa-masa sekarang ini. Yang dapat pemerintah Indonesia lakukan adalah melalui pendidikan.

Pendidikan yang diwajibkan oleh Pemerintah Indonesia hanya berupa pendidikan 9 tahun. Sejak SD sampai SMP banyak dari siswa-siswi Indonesia yang hanya mendapatkan pendidikan yang berupa hardskill bukan softskill. Menurut survei MRI, keberhasilan seseorang ditentukan oleh softskill sebanyak 40 persen, hardskill sebanyak 20 persen, networking sebanyak 30 persen, dan finansial sebanyak 10 persen. Pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk membangun softskill para peserta didik sejak usia dini karena mempunyai efek jangka panjang disamping pendidikan formal yang selama ini ada dalam kurikulum pendidikan 9 tahun.

Menurut Dennis Coon dalam bukunya Introduction to Psycology : Exploration and Aplication mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter adalah jawaban untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Pendidikan karakter sangat penting bagi perkembangan keribadian seorang anak sejak dini agar kelak bisa menjadi pemuda yang mampu berkontribusi banyak pada kemajuan bangsa dan negara ini.

Ada tiga cara mendidik karakter anak, yaitu:

    Mengubah lingkungan anak tersebut, melakukan pendidikan karakter dengan cara menata peraturan serta konsekuensi di sekolah dan di rumah. Menata peraturan sekolah juga harus memerhatikan peraturan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia. Agar tidak melenceng dari usaha pendidikan karakter tersebut, Kemendikbud juga telah memiliki grand design untuk generasi emas 100 tahun Indonesia merdeka yang meliputi pendidikan anak usia dini digencarkan dengan gerakan PAUD-isasi, peningkatan kualitas PAUD, serta pendidikan dasar yang berkualitas dan merata.
    Memberikan pengetahuan, memberikan pengetahuan bagaimana bertindak dalam pergaulan sehari-hari dan bagaimana mengaplikasikannya. Hal ini sangat lah penting mengingat tidak semua anak-anak ini mempunyai latar belakang keluarga dan pendidikan yang sama.
    Menjaga emosi, emosi manusia adalah kendali 88% dalam kehidupan manusia. Jika dapat menyentuh dan mengendalikannya, niscaya informasi yang kita berikan akan tertanam dalam setiap tindakannya daam jangka waktu yang lama.

Untuk menjadikan pemuda yang berkarakter hal-hal di atas sangat penting untuk menjadi dasar bagi sifat-sifat unggulan lainnya. Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran atau amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong, percaya diri dan pekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, serta toleransi, kedamaian dan kesatuan merupakan beberapa karakter yang harus dibangun mulai dari sekarang kepada anak-anak usia dini agar kelak ketika mereka dewasa mereka masih mempunyai pegangan atau idealisme tersebut dalam menjalani hidupnya.

Tak hanya itu, hakikat seorang pemuda juga merupakan seorang pemimpin masa depan. Dewasa ini krisis kepemimpinan telah melanda bangsa Indonesia. Bangsa ini rindu akan para pemimpin-pemimpin bangsa masa lalu yang mempunyai semangat juang yang luar biasa sampai mereka rela untuk mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan bangsa dan negara ini.

Salah satu konsep kepemimpinan yang merupakan jawaban dari masalah di atas adalah konsep kepemimpinan profetik. Kepemimpinan profetik mempunyai tiga misi dasar yaitu misi humanisasi, liberasi, dan transendensi. Misi humanisasi merupakan misi memanusiakan manusia, mengangkat harkat hidup manusia, dan menjadikan manusia bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya. Misi liberasi merupakan misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan. Dan yang terakhir, misi transendensi merupakan manifestasi dari misi humanisasi dan liberasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan. Ketika seorang pemuda sudah mempunyai karakter dan konsep kepemimpinan seperti di atas, bangsa ini tak perlu khawatir dan ragu, karena harapan yang dulu sempat hilang kini hadir kembali di tengah-tengah kita semua.

Sumber : http://duniapemuda.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply