» » Paradigma Gerakan Mahasiswa

Paradigma Gerakan Mahasiswa
Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tak lepas dari peran mahasiswa. Walaupun jaman terus bergerak dan berubah, namun tetap ada yang tidak berubah dari mahasiswa yaitu semangat dan idealisme. Semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan perubahan-perubahan atas ketidakadilan yang terjadi. Mimpi-mimpi besar akan bangsanya. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu, ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya. Sejarah mencatat perjuangan mahasiswa dalam memerangi ketidakadilan. Sejarah juga mencatat bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari mahasiswa dan dari pergerakan mahasiswa akan muncul tokoh dan pemimpin bangsa. Bila menilik ke belakang, kebangkitan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan belanda dimotori oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA. Demikian juga dengan Soekarno yang merupakan tokoh pergerakan mahasiswa. Ketika pemerintahan Bung Karno labil karena situasi politik yang panas tahun 1966, mahasiswa tampil ke depan memberikan semangat yang akhirnya melahirkan orde baru. Setelah itu jaman reformasi yang meruntuhkan hegemoni orde baru. Demikianlah perjuangan mahasiswa dalam memerangi ketidakadilan, namun perubahan era jaman yang terjadi akan menuntut cara perubahan dalam berpikir dan bertindak sesuai perkembangan jaman yang ada.

Aktivis mahasiswa saat ini sebagian masuk ke dalam pusaran kuasa dan kepentingan politik, menandakan lemahnya karakter karena terwarnai oleh kekuatan sosial lain. Justru pergerakan mahasiswa lebih banyak terlihat dengan pola sama, pola anarkis, kritis tapi tidak konstruktif. Hal itu terlihat dengan aksi di Bima dan aksi Makassar 2010-2012 yang memperlihatkan model pergerakan yang sama, model anarkis namun miskin gagasan progresif. Tak dapat dipungkiri pula pengaruh media massa yang mendramatisir kejadian menjadikan pola tersebut banyak dimaknai berbeda oleh masyarakat. Tanpa ide dan karakter, penyatuan gerakan mahasiswa tidak mungkin terjadi, karena setiap elemen kepemudaan masing-masing memiliki ideologi dan warna gerakan yang dianutnya.

Akibatnya konsolidasi jadi mentah. Saat ini terjadi romantisme historis di antara mahasiswa, sebagian mahasiswa masih terjebak dalam rona pesona masa lalu namun gagal melihat hari ini dan masa depan. Terlihat dari pola fikir mahasiswa yang terlalu umum dan sukar mengukurnya. Pergulatan aktivis masih sebatas epistemologi politik dan gerakan serta terlalu banyak menguasai konsep namun tidak satupun yang berhasil diaplikasi dalam spesifikasi keilmuan. Padahal arah baru zaman ini adalah profesionalitas dan entrepreneurship. Hari ini, berfikiran politik memang baik namun akan kerepotan sebab orang-orang yang akan mengisi ruang publik hari ini ke depan adalah kaum profesional dan enterpreneur. Lihatlah beberapa orang yang menguasai partai politik, Ical ketua Golkar pengusaha, Nasdem ada Surya Paloh dan group pengusaha MNC. Ada pula yang aktivis menjadi ketua Partai yakni PKB Muhaemin Iskandar dan Demokrat Anas Urbaningrum namun partai yang dipimpinnya seakan mulai berantakan.

Ini merupakan isyarat zaman, tanda yang harus dijiwai dan dimaknai agar mampu menangkap perubahan yang terjadi di negeri ini sebagai sebuah takdir sejarah. Pada aspek lain, mahasiswa atau aktivis gagal membangun kepemimpinan yang sehat, terlihat saat ada demonstrasi merespon kebijakan kenaikan BBM namun sebagian besar mahasiswa lewat KNPI diisukan ke China, kemudian mahasiswa secara internal terjadi konflik yang gagal diterapi secara bijak sehingga membuat lembaga keropos dengan sendirinya. Bagaimana mungkin bisa mengkonsolidasi jika di internal karut marut. Apa yang dijelaskan Abraham Maslow bahwa “kebutuhan manusia betingkat-tingkat, mulai kebutuhan pangan, sandang, papan, kebutuhan rasa aman, sampai kebutuhan akan rasa cinta, pengabdian dan kehormatan memberikan kita gambaran tahapan penting bahwa kebutuhan dasar jika gagal diraih maka tidak mungkin bisa melompat pada kebutuhan selanjutnya.” Tidak mungkin seorang yang kelaparan akan berbicara keamanan sebelum dia memperoleh makanan karena itu adalah hukum kebutuhan.

Sama halnya aktivis mana mungkin membangun gerakan jika di internalnya gagal merekayasa sistem yang sehat untuk kemajuan bersama dan kesolidan gerakan. Efeknya justru aktivis menjadi bulan-bulanan dan sandera kepentingan elit. Seperti saat ini, momen-momen strategis lembaga justru tidak berkualitas tanpa adanya kuasa elit berjalan di dalamnya. Momentum kongres sebagai sarana menyalurkan ide progresif justru ternodai kepentingan elit sehingga pikiran-pikiran positif perubahan tidak lagi menjadi penjiwaan menyapa momentum strategis lembaga selain barter kuasa dominan elit. Tersanderanya gerakan mungkin masih bisa diatasi namun jika semua momentum besar sudah kosong ide perubahan, sudah terkontaminasi maka mana mungkin gerakan mahasiswa akan memiliki harapan untuk menciptakan perubahan bangsa ke arah positif. Inilah titik nadir gerakan aktivis padahal harapan terbesar bangsa ini ada pada mahasiswa, sebagaimana pernah disinggung oleh Pramoedya Ananta Toer, “Hanya mahasiswa harapan perubahan karena posisinya tidak berada dalam gelongan elit.”

Sumber : http://duniapemuda.com/

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply