» » Menggugat Eksistensi Pemuda Indonesia “Bangkit untuk Sebuah Perubahan”

Mencermati kembali kondisi pemuda saat ini, maka terkadang muncul rasa prihatin kita yang cukup mendalam, namun terkadang di lain saat rasa bahagia itupun masih sering muncul. Betapa tidak, sejuta harapan yang tertumpu pada pundak mereka menjadi spirit bagi pemuda itu sendiri dalam membangun kembali bangsa yang seakan sudah terkoyak oleh arus jaman yang seakan tak bersahabat.

Wacana tentang peran dan fungsi pemuda semakin banyak diperbincangkan berbagai kalangan. Hal ini merupakan indikasi bahwa peran dan fungsi pemuda dalam segala lini kehidupan sudah patut untuk diperhitungkan dan diberikan ruang. Berkembangnya wacana bahwa peran pemuda sangat besar dalam aktivitas kemasyarakatan telah menjadi satu isu strategis pengembangan pembangunan ke depan.
Oleh karna itu, ada hal penting yang harus menjadi catatan tersendiri bagi pemuda sekarang ini, yakni, pemuda harus menimbang kembali posisinya, apa yang dapat diperankan dengan mengoptimalisasi segenap potensi yang ada. Pemuda diharapkan mengenali jati dirinya secara tepat.

Pemuda sebaiknya berperan secara alamiah, yakni dalam kepeloporan dan kepemimpinan dalam menggerakkan potensi dan sumber daya yang ada pada rakyat. Hemat saya, kalau kita ingin memfokuskan pembicaraan, atau penyusunan strategi mengenai peran pemuda dalam pembangunan, maka konteksnya adalah kepeloporan dan kepemimpinan. Jadi, untuk meningkatkan peran pemuda dalam pembangunan, kita harus membangun kepeloporan dan kepemimpinannya. Di sini ada beberapa pengertian, yang penting adalah tiga aspek: membangun semangatnya, kemampuannya, dan pengamalannya. Kepeloporan dan kepemimpinan bisa berarti sama yakni berada di muka dan diteladani oleh yang lain. Tetapi, dapat pula memiliki arti sendiri.

Kepeloporan jelas menunjukkan sikap berdiri di muka, merintis, membuka jalan, dan memulai sesuatu, untuk diikuti, dilanjutkan, dikembangkan, dipikirkan oleh yang lain. Bukan pula kemudian seorang pemuda mencoba tampil di depan menggerakkan pemuda lainnya dengan kata lain menjadi top leadher namun dia kurang menyadari kemampuannya yang memang masih jauh dari ciri seorang pemuda yang bisa jadi pelopor. Dalam kepeloporan ada unsur menghadapi risiko. Kesanggupan untuk memikul risiko ini penting dalam setiap perjuangan, dan pembangunan adalah suatu bentuk perjuangan.

Dalam jaman modern ini, seperti juga kehidupan makin kompleks, demikian pula makin penuh risiko. Seperti dikatakan oleh Giddens “Modernity is a risk culture”. Modernitas memang mengurangi risiko pada bidang-bidang dan pada cara hidup tertentu, tetapi juga membawa parameter risiko baru yang tidak dikenal pada era-era sebelumnya. Untuk itu maka diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik dari seorang pemuda. Tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh risiko. Sifat-sifat itu ada dalam diri pemuda, karena tugas itu cocok buat pemuda.

Kepemimpinan bisa berada di muka, bisa di tengah, dan bisa di belakang, seperti ungkapan “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”. Tidak semua orang juga bisa menjadi pemimpin. Pemimpin juga tidak dibatasi oleh usia. terkadang dengan tambah usia makin banyak pengalaman, makin arif kepemimpinan namun semangat serta ketangguhannya dalam melakukan sebuah perubahan tidaklah seenergik seorang pemuda.
Dalam konteks lain, penentuan jatidiri pemuda, orientasi rasional-objektif harus dikedepankan. Jika ini dapat tercapai maka akan lahir generasi yang mampu memberikan sesuatu yang berguna bagi dirinya, lingkungannya, bangsa, Negara, kemanusiaan, dan kehidupan. Pemuda ini yang kemudian menjadi lebih produktif, menghasilkan karya-karya yang bermanfaat, mempelopori dan menciptakan prestasi-prestasi karya dan kerja yang optimal bagi kemajuan manusia dan kemanusiaan.
Dalam tulisan ini cukup singkat pada kegiatan Dialog Kepemudaan ini, tidaklah salah jika kita mencoba resapi firman Allah SWT: “fa inna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al usri yusro”. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan [dan] berserta kesulitan selalu ada kemudahan. Juga: “fa idza faraghta fanshab wailaa rabbika farghab”. Bila engkau telah selesai dengan satu pekerjaan, segeralah bangkit kembali untuk membuat prestasi baru dan kepada Tuhanmu hendaknya engkau sandarkan harapan. Kita harus terus bergerak kedepan tanpa pernah berhenti. Seperti kata Bung Karno, for a fighting nation, there is no journey’s end. Bagi satu bangsa yang sedang berjuang, tidak ada stasiun akhir.
Sumber : http://muda.kompasiana.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply